Rabu, 26 Januari 2011

Selamat Jalan, Ayah...

Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Itu selalu saya yakini...

Setelah genap 2 minggu menjalani perawatan di ruang ICU RS. Jantung Harapan Kita, akhirnya Ayah Mertua tercinta (Bp. H. Abdul Karim Hasan - Lahir, 8 Desember 1938) berpulang ke rahmatullah pada hari Minggu, 26 April 2009 Pk. 18.30 WIB. 
Beliau dimakamkan pada hari Senin, 27 April 2009, ba'da dzuhur, di TPU Pondok Kelapa, hanya berselang 1 makam dari makam almarhumah putri saya (Nada Salsabila Hafizah).

Alhamdulillah, kami semua - istri, anak dan menantu - lengkap menunggu di samping Ayah pada jam-jam terakhir menjelang kepergiannya, secara bergantian melantunkan ayat-ayat suci, membisikkan dzikir dan shalawat di telinga beliau...
Alhamdulillah, penuh jamaah masjid yang ikut men-shalatkan jenazah Ayah... di masjid yang sedang beliau ikut perjuangkan renovasinya, Masjid Al - Mukhlisin, Grogol, Jakarta Barat.
Alhamdulillah, Ayah tersenyum dan wajahnya terlihat tenang dalam kematiannya...

Mengenang Ayah, izinkan saya berbagi cerita bagaimana saya belajar banyak dari Ayah Mertua tercinta...

Ayah adalah seorang pemimpin keluarga yang tegas namun penuh kasih. Seorang warga masyarakat yang banyak memberi manfaat. Seorang imam masjid yang banyak memberi tauladan. Seorang mertua yang bijaksana.

Ada 2 kejadian yang sangat melekat dalam ingatan saya, awal kekaguman saya kepada beliau.

Kejadian pertama, saat saya melahirkan Ifan, putra pertama saya.
Saya berasal dari keluarga yang modern dan demokratis, meskipun tetap dilandasi ajaran agama Islam. Saya bisa menolak, berdiskusi dan berargumen di keluarga saya selama tetap dalam koridor tata krama dan sopan santun. Saya selalu di didik untuk tidak begitu saja mengikuti suatu perintah tanpa mengetahui alasannya. Namun keluarga suami, adalah keluarga yang masih tradisional dan islami, dimana seorang anak tidak boleh berkata "tidak" pada orang tuanya.
Saat saya diberitahu bahwa acara cukuran Ifan harus dilaksanakan di Lampung, Kagungan, kampung suami saya, spontan saya bertanya, "Kenapa harus di Lampung, Yah? Kenapa nggak di Jakarta aja di Grogol (rumah mertua)?"
Ibu mertua saya, yang mungkin karena kekagetannya atas kelancangan saya membantah, langsung berkata, "Udah, ikutin aja kalau orang tua ngomong."
Saya berkeras, "Bukan itu masalahnya, Mak. Yeni hanya ingin tau alasannya, Yeni harus tau kenapa, karena Yeni dan Bang Riza harus mempersiapkan dana dan melihat kesiapan Ifan melakukan perjalanan jauh ke luar kota di usia 2 bulan..."

Seorang Ayah yang masih tradisional, yang tidak pernah dibantah oleh anak-anaknya, pasti akan marah jika dibantah oleh menantu, apalagi di depan anggota keluarga lain.
Tapi Ayah, dengan bijaksana menjelaskan, "Yeni, kedudukan Ifan di adat mengharuskan cukurannya dihadiri oleh tetua adat dan seluruh keluarga besar suku kita. Kalau kamu mau mengadakan cukuran di Jakarta, maka kita harus membiayai mereka semua untuk datang ke sini."
"Oh, oke kalo gitu. Kita pulang ke Lampung untuk cukuran," sahut saya enteng setelah mengetahui duduk permasalahannya.

Sejak saat itu, jika mengambil keputusan dalam masalah keluarga, Ayah selalu menjelaskan dasar pengambilan keputusan tersebut kepada saya.

Dari Ayah, saya belajar bagaimana menjadi mertua yang bijaksana, yang mau menerima menantunya apa adanya, mau memahami, bahkan memberikan pengertiannya...

Kejadian mengesankan berikutnya terjadi ketika saya menggandeng Ayah saat menuju makam kakak ipar saya, putri tertua Ayah, untuk berziarah. Ayah terlihat sangat risih dan berulang kali hendak menarik lengannya dari gandengan saya.
Saya berhenti berjalan, dan berkata pada Ayah, "Ayah, Yeni terbiasa menunjukkan kasih sayang secara verbal dan sikap di keluarga. Jadi, kalau Ayah mau Yeni anggap seperti orang tua kandung Yeni, seperti Papa, tolong jangan tolak kasih sayang yang Yeni berikan."

Seorang Ayah yang masih tradisional, mungkin akan menganggap menantunya lancang, atau bahkan kecentilan.
Tapi Ayah, sejak saat itu, tidak pernah menarik tangannya jika saya mencium tangan atau menggandeng Ayah. Ayah bahkan mengusap perut saya saat saya hamil, dan tidak terlihat keberatan jika saya menyapa dengan mencium pipi dan kening Ayah waktu beliau sakit.

Dari Ayah, saya belajar bagaimana menjadi mertua yang penuh kasih, yang mau membuka diri dan hati kepada menantunya...

Sebenarnya, masih banyak kekaguman saya kepada beliau, yang tentu saja tidak akan cukup waktu dan kata-kata untuk saya tulis semuanya. Semoga pelajaran yang saya ambil dari kedua kejadian diatas, juga dapat bermanfaat bagi semua yang membaca tulisan ini.

Akhirnya sharing ini saya tutup dengan doa...
Ya Allah,
Semoga sakit Ayah selama ini menjadi peluntur dosa beliau...
Semoga Ayah ditempatkan di tempat terbaik di surga-Mu...

Selamat Jalan, Ayah Tercinta...


Jakarta, 27 April 2009
Yeni Suryasusanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar