Senin, 31 Januari 2011

Ifan dan Ketidaksempurnaan



Saat saya mulai menulis tentang Ifan, suami saya pernah menyampaikan kekhawatirannya. Setelah saya renungkan, kekhawatiran suami saya sangat beralasan. Suami saya khawatir akan tersirat dari cerita-cerita saya bahwa Ifan adalah seorang anak yang sempurna, selalu dalam kondisi matang, selalu terkontrol emosinya, pokoknya selalu baik kesehariannya. Padahal, layaknya seorang anak, tentu saja hal itu tidak benar. 

"Nobody's perfect." Kata yang mudah diucapkan, tapi sulit di ikhlaskan, terutama jika ini menyangkut tentang anak kita, at least, saya pernah merasakannya, bahwa lebih mudah mengikhlaskan kekurangan pasangan hidup daripada anak.
Dalam kasus saya, mungkin karena saya beranggapan bahwa pasangan hidup bertemu saya saat sudah terbentuk karakternya. Tetapi anak, kita mendidiknya seolah dari kertas putih hingga menjadi berwarna. Terkadang ada warna yang tidak kita torehkan, namun muncul, mungkin karena lingkungan disekitar kita ikut andil dalam memberi warna dalam kepribadian anak-anak kita. Bisa jadi kita tidak menyadari telah menorehkan warna tersebut.

Ketika mulai belajar mengikhlaskan kekurangan Ifan, saya juga sekaligus belajar mengeksplorasi kelebihannya. Kami berusaha mencari jalan bagaimana merubah kekurangan Ifan menjadi kelebihan, atau paling tidak mengeliminir kekurangan tersebut semaksimal mungkin. Namun kelebihan yang Ifan miliki, setiap pencapaian - sekecil apapun pencapaian itu - saya anggap sebagai sebuah prestasi.

Sharing kali ini saya tulis untuk memberikan gambaran yang lebih "membumi" tentang Ifan. Bagaimana saya pun belajar banyak dari ketidaksempurnaan tersebut, mungkin bahkan lebih dari Ifan sendiri.

Ifan dan Shalat

Di SD Bhakti tempat Ifan bersekolah, yang wajib ikut shalat Jumat adalah siswa kelas 4 - 6. Sebenarnya saat shalat jumat berlangsung Ifan ada ekskul Aritmatika untuk siswa kelas 1 - 3. Meskipun begitu, sejak Ifan naik ke kelas 3, guru Aritmatika menulis di agenda sekolahnya, bahwa Ifan selalu minta izin untuk ikut shalat Jumat dulu, sehingga Ifan baru bisa meneruskan pelajarannya setelah itu dan akibatnya akan pulang lebih lama dari jadwal yang ditetapkan.
Bagi teman-teman yang pernah membaca rangkaian tulisan saya tentang Ifan di notes facebook saya, mungkin ingat bahwa Ifan saat puasa juga senang shalat subuh di mesjid dekat rumah kami.

Dulu, Ifan sering sulit diingatkan untuk melaksanakan shalat. Ifan tidak pernah menolak, tidak pernah mengatakan "tidak mau shalat". Ifan selalu mengatakan "Iya" tetapi kenyataannya tetap asyik dengan kegiatan yang saat itu sedang dilakukan, misalnya menonton TV, terutama shalat magrib dan Isya, dimana saat itu film kartun di TV Anak sedang seru-serunya. Saat saya sedang tidak dalam kondisi kesabaran yang prima, sangat mengesalkan bagi saya jika Ifan menunda-nunda shalat dan menunggu hingga acara yang menarik tersebut selesai ditayangkan. Jika TV saya matikan, maka Ifan akan melakukan shalat dengan bersungut-sungut.

Suatu hari, saat saya kesulitan menyuruh Ifan shalat, saya tiba-tiba ingat bahwa Ifan sepertinya selalu bersemangat jika melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid.
Saat mendengar adzan, saya mendorong Ifan untuk shalat di mesjid. Meskipun sedang asyik menonton TV, Ifan langsung melompat dan berlari ke menuju mesjid :D
Sejak saat itu, jika kami sedang berada di rumah, Ifan selalu melaksanakan shalat magrib dan isya di mesjid. Fian pun tidak mau ketinggalan, setiap terdengar adzan, dia langsung berteriak, "Abaaang... mejidddd..." :D
Namun, seperti yang saya katakan di awal sharing ini, Ifan bukan anak yang sempurna. Jadi tetap, saat Ifan shalat di rumah karena belum pulang sekolah atau belum terbangun saat adzan berkumandang, Ifan terkadang melakukannya dengan terburu-buru karena takut ketinggalan tayangan menarik di TV. Meskipun tak pernah bosan untuk mengingatkan Ifan bahwa hal tersebut tidak baik, saya menyadari bahwa kematangan pribadi memerlukan proses yang tidak sebentar. Saya percaya, Allah Maha Mendengar. Setelah melakukan usaha maksimal, saya hanya bisa berdoa semoga Allah mengabulkan permintaan Saya dan suami yang tak putus berdoa agar Ifan (dan tentu juga Fian) tumbuh menjadi anak yang shaleh :)

Ifan dan Kuku

Dulu saya menggunting kuku Ifan seminggu sekali pada saat weekend. Saat saya tidak sempat, pengasuh yang mengguntingnya.
Beberapa bulan yang lalu, saat akan menggunting kuku Ifan, saya kaget karena kukunya pendek. Saya bertanya kepada pengasuh Ifan, apakah dia telah menggunting kuku Ifan. Ternyata tidak. Entah kapan dimulainya ternyata Ifan memiliki kebiasaan menggigit kukunya :(
Terbiasa mendidik dengan sistem "Reward and Punishment", saya mencoba menjalankan hal tersebut dalam beberapa waktu. Memberikan pengertian bahwa menggigit kuku itu bisa menimbulkan penyakit, Janji hadiah pernah ditawarkan, Uang tabungan pernah ditahan, Komputer pernah di sita, TV pernah di sita, namun tidak juga berhasil. 1 minggu Ifan pernah berhasil tidak menggigit kuku saat DS di sita. Namun, setelah kukunya digunting dan DS kembali diberikan, kebiasaan buruk itu terulang kembali :(

Suatu malam, suami saya pulang dari kerja, dan bertanya pada saya,
"Apakah Ifan dihukum lagi malam ini?"
Dug, rasa tertinju dada saya.
"Nggak kog, Yah... memang kenapa?"
"Nggak apa-apa. Hanya ayah perhatikan belakangan Ifan sering dihukum karena menggigit kuku. Memang bukan hukuman berat, tapi kalau terlalu sering kan malah jadi tidak efektif," kata suami saya sambil tersenyum.
"Terus terang Yah, Bunda kehabisan cara menghilangkan kebiasaan Ifan menggigit kuku..." keluh saya.
"Bunda, coba telusuri masalah ini hingga ke akarnya. Mengapa Ifan menggigit kuku? Karena kita pernah lupa menggunting kukunya kan?"
Duh... kepala saya serasa diguyur air dingin...
"Iya juga ya Yah... Ifan menggigit kuku karena kukunya cukup panjang untuk di gigit..."
Saya kini tersenyum.
Ya Allah, terima kasih Engkau memberikan suami yang bijak ini padaku... Suami yang meskipun dalam keseharian jarang sekali ikut campur tangan dalam mendidik buah hati kami, namun tidak berpangkutangan melihat masalah yang terjadi...

Esok harinya saya mengajak Ifan bicara. Saya mengatakan bahwa saya akan memeriksa dan menggunting kuku Ifan setiap hari untuk menghentikan kebiasaannya menggigit kuku. Ifan setuju.
Mulailah proses pembelajaran Ifan menghentikan kebiasaannya menggigit kuku.

Setiap malam, sepulang kerja, saya memeriksa kuku Ifan. Ada yang digigit, saya tidak marah, tapi saya memotong semua kukunya sambil menjelaskan bahwa ini saya lakukan agar Ifan tidak bisa menggigit kuku lagi. Ifan sempat takut sakit, tapi saya tersenyum dan mengatakan bahwa saya akan pelan-pelan mengguntingnya. Hal itu berlangsung selama beberapa waktu, setiap hari saya menggunting kuku Ifan.
Hingga akhirnya, saat saya memeriksa kukunya, tidak ada bekas gigitan di satu kuku jari pun.
Saya pun tersenyum, dan bertanya apakah malam ini Ifan ingin digunting kukunya. Ifan bilang tidak mau. Besoknya, Ifan tidak menggigit kuku lagi, tapi meminta kukunya digunting, karena khawatir terlupa dan menggigit kuku lagi :)

Ternyata, sesuai dugaan suami saya, begitu saya mengatasi akar permasalahannya, kebiasaan buruk menggigit kuku pun berhasil Ifan hilangkan. Saat ini, saya sudah kembali seperti dulu, menggunting kuku Ifan seminggu sekali. Namun, di saat-saat tertentu di tengah minggu, Ifan terkadang meminta kukunya digunting jika sudah terlalu panjang dan menggoda untuk digigit olehnya :D

Inilah Ifan, dan beberapa keberhasilannya dalam mengatasi kekurangan.
Tentu saja masih banyak kekurangan lain pada diri Ifan saat ini.
Namun meskipun tidak sempurna, ada kelebihan utama Ifan yang selalu membuat saya tak putus bersyukur kepada Allah : Ifan tumbuh menjadi anak yang penuh cinta, pada keluarga, terutama pada saya, dan tidak malu menunjukkan kasih sayangnya.
Jika saya pulang terlambat dari kantor, Ifan akan berlari menyongsong saya di teras rumah sambil berkata, "Bunda kemana aja? Ifan cemas... Ifan khawatir..." :)
Pernah saat saya, suami dan Ifan jalan-jalan di mall, saya meraih lengan suami saya untuk menggandengnya. Dengan mimik wajah lucu mengajak bercanda sambil menghindar, suami saya berkata, "Ih, Bunda, ngapain sih pegang-pegang..."
Ifan langsung melotot kepada Ayahnya, menghampiri saya dan menggandeng tangan saya sambil berkata, "Sini Bunda, biar Ifan yang gandeng Bunda. Tenang aja Bunda, Ifan akan selalu ada di samping Bunda..." hahahah... duh, romantisnya anakku...
Tadi malam, Ifan terbangun dan pindah ke kamar saya. Saya memeluk Ifan dan Fian hingga pagi.
Saat bangun dari tidurnya pagi ini, masih berada dalam pelukan saya, Ifan menoleh pada Fian yang terbangun juga,
"Fian, siapa ibu yang paling baik di dunia? Bunda !!!" serunya :D

Jakarta, 20 November 2009
Yeni Suryasusanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar