Jumat, 28 Januari 2011

Ifan dan Pesantren Ramadhan SD Bhakti



Setiap tahun, setiap Ramadhan tiba, di 3 hari terakhir sebelum liburan lebaran, SD Bhakti mengadakan Pesantren Ramadhan. Selama 3 hari itu, pelajaran sekolah ditiadakan. Para siswa mengenakan seragam hari Jumat (seragam muslim/muslimah) di hari pertamanya, dan pada hari kedua dan ketiga mengenakan pakaian muslim bebas. Mereka belajar segala sesuatu tentang Agama Islam layaknya di "Pesantren".
Pada hari kedua, diadakan lomba antar kelas yang pialanya dibagikan di hari terakhir Pesantren Ramadhan.

Sebelumnya, saya menganggap kegiatan Pesantren Ramadhan SD Bhakti merupakan kegiatan positif yang biasa saja layaknya pesantren biasa, hingga tahun ini, pendapat saya berubah dan menganggap kegiatan itu menjadi luar biasa.

Pada waktu Pesantren Ramadhan Th. 2007, Ifan mengikuti layaknya anak kelas 1 yang lain, biasa saja.
Pada waktu Pesantren Ramadhan Th. 2008, Ifan diminta ikut Lomba Adzan, dan mendapatkan Juara 3, mendapatkan piala.

Tapi, bagi saya, yang istimewa justru tahun ini.
Di Pesantren Ramadhan Th. 2009, Ifan menyampaikan kepada saya bahwa dia diminta ikut Lomba Susun Ayat oleh wali kelasnya. Ada 3 teman lain yang juga ditunjuk untuk ikut lomba. Semula saya berpikir, ini lomba perorangan seperti tahun sebelumnya, bahwa ada 4 siswa yang mewakili kelas 3B untuk ikut lomba.
Ifan diminta menghafalkan 4 Surat Al Qur'an : Al Falaq, Al Ma'un, Al Fiil dan Al Humazah.
Oke, saya pikir tidak ada ruginya, karena kalaupun seandainya Ifan tidak menang, Ifan sudah mendapat keuntungan dengan menambah perbendaharaan hafalan surat pendeknya.
Malam itu, saya dan Ifan bersama-sama menghapalkan surat yang diminta. Mengapa bersama-sama? Karena kekuatan ifan adalah "telinga"nya hehehe... Ifan lebih cepat hapal jika mendengar daripada hanya "membaca". Jadi, saya memeluk Ifan yang membaca Juz Amma, sambil melantunkan ayat-ayatnya, sehingga sambil membaca Ifan juga mendengarkan :)

Hari kedua Pesantren Ramadhan, saat saya pulang kerja, Ifan menyambut saya di teras rumah dengan bersemangat, "Bunda, Ifan punya kabar gembira untuk bunda!"
"Oh ya? Kabar gembira apa, sayang?" saya tersenyum.
"Ifan juara 1 lomba susun ayatnya!!"
"Wah... selamat ya Fan!! Pialanya besok dibagikan?"
"Iya, tapi pialanya untuk di kelas, Bun!"
"Lho, kog untuk di kelas?" saya sempat bingung.
"Kan yang lomba bukan Ifan sendiri..."

Oalahhh.... ternyata lomba beregu... heheheh....
"Kelas berapa juara 2 dan 3-nya?"
Ifan berada di kelas 3B. Saya pikir yg juara 2 dan 3 kelas 3A dan 3C.
"Kelas 1C juara 2, kelas 2C juara 3, Bun!"

Lho???? Masa sih anak kelas 1 mengalahkan kelas 2 dan kelas 3 yang lain? pikir saya.
Hasil wawancara dengan Ifan-lah yang merubah pikiran saya sebelumnya, bahwa saya pikir Pesantren Ramadhan SD Bhakti hanya belajar Agama Islam saja. Ternyata tidak...

Ifan menceritakan bahwa Lomba Susun Ayat diadakan di lapangan, dan 1 kelompok terdiri dari 4 siswa. Ifan dan Rizki yang memilih ayatnya, kemudian memberikan kepada Farhan yang berlari menyampaikan kepada Salma yang berada diseberang lapangan, yang bertugas menempel potongan ayat tersebut di papan.

Pantas saja....
Karena lomba beregu, tentu saja peran wali kelas sangat diperlukan... Wali kelas harus mengenali kemampuan masing-masing anak didiknya, siapa yang hafal ayat, siapa yg cepat larinya, siapa yang rapi dan cepat kerjanya.
Pantas saja pemenang lainnya bukanlah kelas 3, tapi justru kelas 1... karena biasanya wali kelas 1 adalah guru yang paling telaten dan paling perhatian terhadap siswanya :)

Mengapa saya menganggap lomba tersebut luar biasa, walaupun Ifan tidak mendapatkan piala pribadi?

Ya, lomba tersebut bagi saya sangat luar biasa, karena Ifan jadi belajar realita kehidupan sejak dini, yang bisa bermanfaat hingga dia dewasa dan bekerja kelak.

Dengan adanya lomba tersebut, saya jadi punya momentum untuk mengajarkan Ifan, bahwa "Kepintaran" bukanlah segalanya.
Bahwa setiap manusia memiliki kelebihan yang bisa digunakan untuk kesuksesan dirinya kelak, selama dia bisa mengenali dan mengasah potensi tersebut.
Bahwa dalam hidup diperlukan kerjasama yang baik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam dunia kerja.

Lebih jauh lagi, kelak saya punya bahan untuk mengajari Ifan bagaimana menjadi "Seorang Pemimpin yang Bijak".

Team Kelas 3B tidak akan menang, jika pemimpinnya (dalam hal ini wali kelas) tidak bisa mengenali kemampuan anak buahnya (dalam hal ini siswa). Apa jadinya jika Salma yang bertugas berlari (biasanya perempuan berlari lebih lambat daripada laki-laki hehehe) dan Ifan yang menempel ayat di papan (sedangkan Ifan anak yang kurang telaten untuk menempel dan sejenisnya)? :D
Mungkin mereka tidak akan menjadi pemenang.
Apa jadinya pula jika pemimpinnya tidak bisa menengahi serta memotivasi siswa yang ikut, bahwa dalam hal "team work" semua elemen memiliki peran penting yang sama?
Mungkin masing-masing anak akan menganggap karena dirinya lah kemenangan itu terjadi, dan bukan mustahil juga mengecilkan peran anggota team lainnya. Sehingga akhir kemenangan mereka bukanlah kebahagiaan melainkan pertikaian...

Kelak, untuk bekal Ifan di dunia organisasi dan kerja, saya punya bahan untuk mengajari Ifan, bahwa "Idealnya" Pemimpin lah yang menentukan arah, team work menjalankan.
Bahwa Pemimpin yang Bijak harus mengetahui potensi anak buahnya dan menempatkan anak buahnya di bidang terbaik yang bisa mengoptimalkan pencapaian hasil kerja bersama.
Bahwa Pemimpin yang Bijak harus dapat menjadi pengarah, pembina, penengah, penilai, pengoreksi, penyemangat, pengayom, penanggungjawab dan panutan bagi anak buahnya.
Bahwa begitu beratnya tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin... sehingga wajar pula jika di dunia kerja imbalan yang pemimpin terima lebih besar daripada anak buahnya :D

Sebagai orang tua, saya merasa bersyukur Ifan bersekolah di sekolah yang mengajarkan bukan hanya "Kepintaran" belaka, tetapi juga meletakkan dasar konsep hidup yang dapat berguna hingga Ifan dewasa :)

Jakarta, 5 Oktober 2009
Yeni Suryasusanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar