Senin, 07 Juli 2014

Pilpres 2014 : Beberapa Pelajaran dan Pengingat Bagi Saya...


Setelah beberapa kali menjalani Pemilu : baik Pileg maupun Pilpres, baru kali ini saya merasakan ketegangan sedemikian rupa namun sekaligus merasa bisa mengambil begitu banyak pelajaran dari sebuah kegiatan pesta demokrasi :)

Dulu, ketika saya masih kuliah, masih hobby-hobbynya ikut organisasi, saya pernah ikut terlibat di salah satu organisasi mahasiswa di bawah bendera salah satu partai, bahkan sampai pernah mengikuti pelatihan kader fungsional :D
Namun, begitu papa saya mengetahui bahwa saya mulai terlibat lebih dalam, beliau memperingatkan saya untuk menghentikannya dan berkonsentrasi dengan kuliah saya saja.
Masih terngiang dengan jelas kata-kata papa saya, "Politik itu kejam, Nen. Papa nggak rela kamu mengalami kekejamannya, apalagi kamu perempuan."
Saya tidak langsung menurut hehehe... Namun akhirnya mengundurkan diri dari dunia itu meskipun baru mencelup seujung kuku kaki setelah merasakan sendiri kejamnya fitnah di dunia politik itu :)
Ilmu yang saya dapatkan di organisasi politik saya gunakan untuk dalam kehidupan sehari-hari. Saya percaya ilmu organisasi adalah baik, asal kita gunakan dengan niat dan tujuan yang baik pula.
Setelah itu, saya hanya melihat politik sebagai seorang pengamat amatir. Melihat dari luar tanpa pernah merasa tersentuh. Hingga saat ini, Pilpres 2014.

Inilah yang saya pelajari...

1. Saya belajar indahnya berjuang bersama teman-teman

Sampai 5 tahun yang lalu, saya termasuk pemilih yang menganut azas konservatif LUBER.
Betul-betul rahasia, sampai kepada suami saya sendiri pun saya tidak cerita. Jika ada yang bertanya, saya hanya tersenyum saja. Beberapa orang yang mengetahui latar belakang organisasi saya semasa kuliah menduga saya masih tetap setia. Padahal, siapa yang bisa memastikannya? :D
Saya akui, setelah sekian puluh tahun saya memang berubah, dalam banyak hal.

Saya memang masih menganggap kaderisasi pengurus di partai yang pernah mendidik saya tetap menghasilkan politikus yang mumpuni dan matang, sehingga mampu menyampaikan gagasan di depan publik secara elegan, terlepas dari oknum-oknum anggotanya yang menciderai organisasi akibat kurangnya pengendalian diri atas hawa nafsu pribadi, baik ketika bertugas menjabat jabatan publik maupun sebagai pribadi.
Namun demikian, saya pun harus mau membuka mata, bahwa begitu banyak partai-partai baru dengan metode pembinaan dan kaderisasi yang tidak kalah bagusnya, belum lagi ditambah partai lama yang juga melalukan perbaikan diri sehingga mungkin saja kaderisasinya juga mendekati sempurna.
Akibatnya, begitu banyak pilihan sehingga akibatnya terkadang malah menjadi membingungkan.

Pada Pilpres 2014 ini, azas yang saya anut mengalami pergeseran. Tidak lagi benar-benar LUBER, meskipun saya juga tidak mengkampanyekannya blak-blakan secara terbuka, kecuali kepada keluarga dan teman-teman baik di dunia maya maupun dunia nyata yang saya sudah anggap dekat sehingga seperti saudara.
"Mengapa mbak?" tanya adik didik saya Debby Cintya.
Ada alasan yang tidak ingin saya ungkap secara terbuka, selain karena kebijakan yang ditetapkan oleh Founder Natural Cooking Club dimana saya menjadi salah seorang Moderatornya, juga untuk menghindari pelanggaran terhadap UU ITE. Biarlah hanya teman-teman dekat saya yang mengetahui.
Saya hanya bisa mengatakan, bahwa saya merasakan betapa indahnya tolong menolong dan saling berlomba dalam kebaikan :)


2. Saya belajar lebih berhati-hati dengan lebih teliti dalam mempelajari berita agar tidak melanggar hukum

Saya melihat begitu banyak orang - mungkin termasuk saya hehehe - dengan beragam niatnya berubah menjadi politisi dadakan. Namun sayangnya banyak dari mereka kurang bijak dan berhati-hati dalam menebar informasi dan berita sehingga sebenarnya sangat mudah terjerat sebagai pelanggar UU ITE.

Saya merasakan beratnya belajar memperjuangkan pilihan saya dengan cara yang santun agar tidak melanggar hukum, merasakan lelahnya mencari informasi berimbang sebuah posting agar tidak menjadi fitnah, karena saya melihat begitu mudahnya negative campaign tergelincir menjadi black campaign hanya karena kita kurang berhati-hati dengan kata-kata saat posting status atau bahkan ketika meneruskan berita.

Karena kebetulan saya bekerja di Internet Service Provider sehingga cukup concern  mengenai UU ITE, izinkan saya menyampaikan tentang peraturannya berdasarkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK, yang menurut saya erat sekali kaitannya dengan Pilpres tahun ini :)

BAB VII
PERBUATAN YANG DILARANG

Pasal 27
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.
(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Pasal 28
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Pasal 29
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

Pasal 30
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.
(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

Pasal 31
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari, ke, dan di dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain, baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/atau penghentian Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan.
(3) Kecuali intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), intersepsi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 32
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak.
(3) Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya.

Pasal 33 Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Pasal 34
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor, mendistribusikan, menyediakan, atau memiliki:

a. perangkat keras atau perangkat lunak Komputer yang dirancang atau secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33;
b. sandi lewat Komputer, Kode Akses, atau hal yang sejenis dengan itu yang ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33.
(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan tindak pidana jika ditujukan untuk melakukan kegiatan penelitian, pengujian Sistem Elektronik, untuk perlindungan Sistem Elektronik itu sendiri secara sah dan tidak melawan hukum.

Pasal 35
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik.

Pasal 36
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi Orang lain.

Pasal 37
Setiap Orang dengan sengaja melakukan perbuatan yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 36 di luar wilayah Indonesia terhadap Sistem Elektronik yang berada di wilayah yurisdiksi Indonesia.

BAB X
PENYIDIKAN

Pasal 42
Penyidikan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana dan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

BAB XI
KETENTUAN PIDANA

Pasal 45
(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Pasal 46
(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).

Pasal 47 Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).

Pasal 48
(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 49 Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 50 Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 51
(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).
(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Pasal 52
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dari pidana pokok.
(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 37 ditujukan terhadap Komputer dan/atau Sistem Elektronik serta Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Pemerintah dan/atau yang digunakan untuk layanan publik dipidana dengan pidana pokok ditambah sepertiga.
(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 37 ditujukan terhadap Komputer dan/atau Sistem Elektronik serta Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Pemerintah dan/atau badan strategis termasuk dan tidak terbatas pada lembaga pertahanan, bank sentral, perbankan, keuangan, lembaga internasional, otoritas penerbangan diancam dengan pidana maksimal ancaman pidana pokok masing-masing Pasal ditambah dua pertiga.
(4) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37 dilakukan oleh korporasi dipidana dengan pidana pokok ditambah dua pertiga.

Sumber : Wikipedi


3. Saya belajar lebih dalam menggali untuk mengenali baik fan page, maupun teman-teman saya di dunia maya, dan belajar menghargai perbedaan pilihan

Munculnya berbagai Fan Page terkait Pilpres 2014 ikut meramaikan suasana. Ada yang santun, ada yang kasar, ada yang provokatif, ada yang ekstrim, ada terkait partai, dan ada yang terkait kepentingan.
Beberapa diantaranya sedikit membuat saya sedikit bingung dan membuat saya menerka-nerka kepentingannya akibat tidak adanya korelasi yang jelas antara Foto Profile, Cover Foto dan About Me-nya. Belum lagi begitu banyak Fan Page dari kedua kubu yang membuat saya tidak nyaman karena menggunakan kata-kata yang cenderung provokatif dalam postingnya.

Pernah saya temukan sebuah Fan Page dari forward posting seorang teman muslimah. Saya klik Fan Page-nya untuk saya pelajari lebih lanjut karena kata-kata yang digunakan cenderung provokatif dan bombastis menurus standar saya. Ternyata pada About Me Fan Page tersebut mencantum bahwa mereka memiliki kebebasan menyuarakan kebebasan, dengan misi melawan segala bentuk kekerasan - kebrutalan karena perbedaan SARA, dengan mencantumkan website Islam Liberal sebagai salah satu dari sekian banyak Link di descriptionnya.
Entah apakah teman saya tersebut mempelajari Fan Page itu lebih dalam atau memang hanya tertarik dengan status updatenya sehingga memilih untuk langsung forward tanpa menunggu, karena sepengetahuan saya sebelumnya teman saya itu sama seperti saya juga, muslimah pada umumnya dengan ilmu agama yang bisa dibilang seadanya, tidak termasuk dalam penggolongan Islam Fanatik vs Islam Liberal.

Berdasarkan beberapa kejadian posting status, berita dan klarifikasi antara saya dan teman-teman dunia maya yang terpecah dalam 2 kubu, bisa ditarik kesimpulan bahwa memang kita tidak sepenuhnya mengenali karakter teman kita di dunia maya kita seperti mengenal teman di dunia nyata.
Teman-teman yang saya nilai sebelumnya biasa saja karena kami berteman dengan berbagai dasar kepentingan/kesukaan/hobby, ternyata ada yang merupakan tipikal emosional sementara yang lain tipikal bersabar. Ada yang merupakan tipikal mencinta secara membuta, namun ada pula yang adil karena piawai menggunakan daya nalarnya.
Saya melihat di kedua pendukung kubu capres ada semua tipikal itu meski jumlahnya tidak sama. Saya belajar berteman dengan mereka semua, bahkan mendapatkan bantuan dari kedua kubu, dan belajar menerima mereka apa adanya, dengan menghargai segala perbedaan diantara kita - baik perbedaan karakter maupun perbedaan pilihan.

4. Saya belajar bersabar dan mengendalikan diri

Dunia maya memang rawan dengan perbedaan persepsi, rawan dengan kesalahpahaman. Sebagian besar karena pertemanan tidak berlanjut di dunia nyata. Sebagian lagi karena kurangnya kemampuan mengendalikan emosi dan minimnya kemampuan berbahasa yang santun.
Saya belajar banyak dari Mbak Fatmah Bahalwan, Founder NCC, mengenai pengendalian diri di dunia maya. Kami, para moderator NCC, disarankan tidak membalas email member ketika kami sedang merasa marah, kecewa atau tersudut dalam penyelesaian konflik internal milis NCC.
"Kalau kesel sama member yang ngeyel, tutup dulu emailmu. Istighfar dulu, istirahat dulu..." demikian pesan mbak Fatmah.
Dan, nasehat inilah yang paling berguna bagi saya...

Inilah teman-teman tercinta, hal-hal yang saya pelajari hingga saat ini dari Pilpres 2014.
Peluk erat bagi semua teman yang menjadi politikus mendadak maupun hanya sebagai pengamat, semoga tulisan ini bermanfaat :)

Jakarta, 7 Juli 2014
Yeni Suryasusanti

Selasa, 17 Juni 2014

Lessons from Kids : Ketika Saya Belajar Tentang Pentingnya "Packaging" dan "Timing"


Selalu membuat tercengang, saat menyadari bagaimana anak-anak kita ternyata mengajari kita banyak hal, mungkin malah lebih banyak daripada yang telah kita ajarkan kepada mereka.

Kemarin, 16 Juni 2014, Fian, putra bungsu kami, berulang tahun yang ke 6th.
Karena tahun lalu Fian sudah merayakan di sekolah bersama teman-temannya, tahun ini kami mengarahkan agar dirayakan bersama keluarga inti saja. Kebetulan memang ulang tahunnya jatuh bukan di hari libur.
Kami juga ingin agar "perayaan besar" tidak menjadi budaya wajib sehingga akhirnya menjadi beban. Kami ingin agar moment hari ulang tahun lebih diingat sebagai moment berkumpul bersama keluarga - bisa keluarga inti saja atau keluarga besar - daripada diidentikkan dengan perayaan besar-besaran dalam sebuah pesta dimana kado yang bertumpuk-tumpuk juga menjadi ciri khasnya.

Kue ulang tahun dibuatkan oleh Bude Fatmah Bahalwan tercinta dan diantarkan oleh kurir ke kantor saya yang berlokasi dekat markas NCC. Kue ini merupakan gabungan selera seluruh anggota keluarga : bolu pandan dengan taburan keju gondrong yang menggoda di seluruh permukaannya :D


Fian meminta hadiah ulang tahun berupa tas sekolah dan penggaris, yang walaupun terlihat sebagai pasangan yang ganjil namun membuktikan bahwa hadiah pertama yang dipilihnya adalah sesuai dengan konsep "kebutuhan vs keinginan" yang kami ajarkan kepadanya selama ini terkait dalam pembelian barang. 
"Jika diperkenankan memilih, maka pilihlah barang - dalam hal ini hadiah - yang memang kita butuhkan, jika tidak ada kebutuhan yang mendesak, maka bolehlah memilih barang yang kita inginkan."
Memang tahun ajaran ini Fian akan masuk SD. Tas sekolah yang dipakainya selama masih di TK ukurannya terlalu kecil untuk memuat buku-buku pelajaran SD yang berukuran besar dan banyak itu.
Sementara penggaris yang Fian gunakan di TK adalah penggaris pendek 15 cm, sementara di SD membutuhkan penggaris panjang 30 cm.
Jadi, Fian meminta hadiah yang memang dia butuhkan :)
Siang hari, Fian menelepon saya ke kantor.
Saya bertanya apakah Fian ingin memilih sendiri Tas dan Penggarisnya atau boleh saya saya yang pilihkan.
Fian berkeras ingin memilih sendiri. 
Btw, karakter Fian yang ini memang sungguh berbeda dengan Ifan yg cenderung membiarkan dan menerima apapun yang saya pilihkan untuknya hanya karena dia percaya akan selera saya pasti baik dan percaya akan cinta saya padanya bahwa saya akan memilihkan yang paling bagus dan paling pantas baginya :D
Saya berkata kepada Fian, bahwa jika dia ingin memilih sendiri, berarti hadiahnya terpaksa ditunda menunggu weekend mendatang.

"Fian ulang tahunnya dan potong kuenya kan malam ini, Bunda, jadi hadiahnya harus beli malam ini juga!" Fian menolak dengan keras.
"Tapi kalau kita beli tas dulu, berarti potong kuenya nanti terlalu malam dong..." saya mencoba menawar :D
"Bunda pulang kantor langsung ke Gramedia Central Park aja, nanti Fian tunggu Bunda di sana. Kita beli hadiah untuk Fian, terus langsung pulang. Nggak lama kog... Kan hanya beli Tas dan Penggaris aja..." Atur Fian dengan enteng.

Akhirnya saya setuju.
Suami menjemput saya di kantor untuk sekaligus membawa kue tart, sementara Ifan, Fian dan pengasuhnya membuat janji temu dengan kami di Gramedia Central Park yang memang hanya berjarak 5 menit dari kediaman kami.

Namun, setelah tiba di Gramedia, ternyata moment untuk membeli Tas memang tidak tepat.
Stock pilihan Tas yang ada tidak begitu banyak dan tidak istimewa pula baik dari segi model maupun harga. Saya menduga hal ini terjadi karena liburan sekolah belum lagi dimulai, dan belum terlalu dekatnya waktu tahun ajaran baru. Sementara saat liburan anak sekolah lah biasanya muncul film-film karakter untuk anak yang diikuti berbagai merchandise.
Kami mencoba pindah ke Kids Station yang hanya berbeda 1 lantai saja, namun ternyata sama saja stock pilihannya, bahkan harganya.

Akhirnya saya memberikan pilihan kepada Fian lengkap dengan konsekuensi pilihannya.
"Fian boleh memilih Tas Sekolah saat ini atau menunggu bulan depan menjelang masuk sekolah. Kalau Fian beli sekarang, bulan depan saat tahun ajaran baru biasanya akan keluar model yang baru. Saat keluar model baru yang Fian inginkan, Fian sudah nggak bisa beli lagi karena sudah terlanjur beli sekarang. Kalau Fian beli bulan depan, memang hadiah Fian jadi tertunda. Tapi, akan ada lebih banyak pilihan model dan harganya. Terserah Fian..." jelas saya lugas.
"Tapi Fian mau buka hadiah ulang tahun malam ini Bun..." kata Fian ragu, karena jelas baginya ulang tahun dan hadiah sebaiknya bersamaan waktunya.
"Gimana kalau hadiahnya kita ganti saja dulu? Bulan depan Bunda akan tetap belikan Tas Sekolah karena memang perlu. Tapi hadiah ulang tahun Fian malam ini kita ganti dengan yang lain dulu..." usul saya mencoba berkompromi.

Fian setuju dan mulai memilih.
Di Kids Station, saya menolak dengan tandas pilihan alternatif pertamanya yaitu mainan Minion yang walaupun sedang discount 30% namun masih tercetak seharga lebih dari Rp 500.000,-. Saya memberikan pilihan bahwa Fian akan kehilangan kesempatan membeli Tas baru untuk tahun ajaran baru dan hanya bisa memakai Tas abangnya yang lama namun masih bisa dipakai jika memang memaksa membeli Minion itu :D

Saya menggiringnya kembali ke Gramedia, karena bagi saya buku lebih bermanfaat dan lebih "ramah" harganya :D
Dengan bersemangat Fian memilih, dan akhirnya pilihannya jatuh pada Komik Smurf dan 2 kotak Puzzle Hot Wheels @ 117 pieces.
Saat menuju ke kasir, Fian berhenti di tempat bungkus kado.
"Bunda, hadiah itu harus di bungkus..." pintanya.
"Lho, kan Fian udah tahu apa hadiahnya? Kenapa harus dibungkus lagi?" tanya saya setengah geli.
"Karena ini kan 'hadiah' ulang tahun Bun, jadi harus dibungkus kado..." sekali lagi Fian meminta sambil tersenyum manis.

Saya menyerah, mengikuti kemauannya. Setelah hadiah dibungkus dan dibayar, saya saat itu juga menyerahkan bungkusan tersebut kepada Fian,
"Ini Fian, selamat ulang tahun..."
"Makasih Bunda..." ucap Fian sambil memeluk saya, menerima hadiah tersebut sebentar, dan mengembalikan hadiah tersebut kepada saya. "Tapi Bunda sekarang pegang dulu ya... Nanti kalau udah sampai di rumah, udah di depan kue ulang tahun, baru Bunda kasih lagi ke Fian hadiahnya..." kata Fian dengan serius.

*Ya Allah...*

Malam ini, kami menjalankan semua ritual ulang tahun : Doa yang dipimpin oleh Papa saya yang kebetulan sedang ada urusan di Jakarta, menyanyi lagu selamat ulang tahun bersama-sama, pemberian hadiah, potong kue, pembagian kue dan makan kue bersama.
Saat saya menyerahkan hadiahnya yang terbungkus rapi, Fian tersenyum manis dengan sorot mata berbinar-binar, balas memeluk dan mengecup pipi saya sambil berkata, "Makasih ya Bun..."
Sebagai catatan, pada saat pembagian kue, secara mengejutkan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, potongan kue pertama Fian berikan kepada Ifan. 
Saat suami saya protes kog bukan Bunda, Fian lalu berkata, "Iya, nanti, abang dulu ya..."
Hebatnya, saat potongan kue kedua diberikan, Fian memberikan kue tersebut kepada saya sambil berkata, "Yang ini untuk Bunda, karena yang ini paling banyak kejunya..."

***

Ya Allah, Alhamdulillah....
Malam itu, saya belajar banyak dari Fian.

Lucu rasanya, merasa diingatkan oleh anak usia 6th bahwa romantisme bisa terjadi dengan packaging dan timing yang tepat :)

Saya yang selama ini dalam banyak hal lebih menekankan dan mementingkan Isi dari pada Kemasan, belajar dari Fian bahwa meskipun Isi  memang penting, namun Packaging dan Timing juga tidak kurang pentingnya.
Tak peduli kita sudah mengetahui apa isinya, Hadiah yang diserahkan dalam keadaan terbungkus rapi tentu akan jauh lebih menyentuh hati.
Demikian juga dengan waktu pemberian hadiah. Pemberian hadiah pada waktu yang Tepat akan jauh lebih meningkatkan arti. 
Jadi, untuk kesuksesan seputar romantisme dan kasih sayang - dan banyak hal lain dalam hidup - niat dan tindakan lugas saja terkadang belum cukup :D

Selain itu, saya juga belajar bahwa tidak seperti yang diragukan sebagian besar orang, strategi, diplomasi dan ketulusan hati ternyata juga bisa berjalan beriringan.
Sungguh saya takjub akan kecermatan Fian saat pembagian kue ulang tahun, takjub akan sikap penuh pertimbangannya.
Fian memastikan abangnya senang menjadi penerima kue yang pertama karena selama ini Fian paling sering mengganggu Ifan, namun Fian juga memastikan bahwa saya mengetahui bahwa saya juga tidak luput dari perhatiannya karena mendapatkan bagian yang paling banyak kejunya - sesuai dengan kesukaan saya - meskipun hanya menjadi penerima kue yang kedua :D

Ahmad Balda Arifiansyah, Bunda berdoa, semoga saja sikap penuh pertimbangan yang menjadi ciri orang yang bijaksana - sesuai doa yang diwujudkan dengan pemberian penggalan dari namamu : Arif - ini akan tetap dibawa hingga dewasa, hingga bisa menyejukkan hati orang-orang terkasih yang berada disekelilingmu...

Jakarta, 17 Juni 2014
Yeni Suryasusanti

Jumat, 13 Juni 2014

Tentang Bahagia...


Sahabat,
Kebahagiaan itu tidak bisa dicari
Namun tidak perlu membuat galau diri
Karena ia hanyalah sebuah kondisi
Jika kita terus berusaha keras mencari kebahagiaan hingga membuat hati gelisah
Ia mungkin justru tidak akan bisa kita temukan hingga jiwa dan raga kita terpisah

Sahabat,
Kebahagiaan itu hanya ada dalam hati yg merasa "cukup"
Yang sulit didapat ketika iman kita sedang meredup
Ia hanya bisa diperoleh jika kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya dalam hidup
Namun tentu tanpa membuat pintu perbaikan diri menjadi tertutup

Sahabat,
Mungkin itu makanya banyak orang berkata
Bahwa dia memiliki banyak harta tapi tidak merasa bahagia
Mungkin itu karena meskipun dirinya kaya raya
Tetapi dia tidak merasa cukup dengan harta kekayaannya

Sahabat,
Ada juga sebagian dari kita yang sudah memiliki pasangan hidup yang luar biasa baiknya
Tetapi dia tidak merasa bahagia, atau merasa belum cukup bahagia
Mungkin itu karena dia selalu fokus pada kekurangan yang dimiliki oleh pasangan hidupnya
Sehingga dia tidak merasa pasangannya "cukup" baik bagi dirinya

Sahabat,
Bahagia ataupun tidak, yakinlah bahwa cobaan hidup akan selalu ada
Karena syaitan memang berjanji untuk terus menggoda manusia hingga akhir dunia
Jadi, tidak seperti dalam dongeng Cinderella
Tidak mungkin kita merasa berbahagia sepanjang masa ketika bahagia akhirnya tiba
Karena yang kekal itu di akhirat adanya
Sementara di dunia
Allah memberi kita penderitaan pula
Bahkan mungkin bertepatan dengan saat kita merasa bahagia di sisi lain kehidupan kita

Sahabat,
Mungkin ini yang dinamakan keseimbangan di dunia
Karena kita akan jauh lebih mampu menghargai manisnya bahagia
Jika kita pernah merasakan pahitnya derita...

Jakarta, 13 Juni 2014
Untuk menjawab pertanyaan pagi ini dari seorang sahabat yang sedang merasa paling menderita di dunia, semoga Allah memberikan kemudahan kepadanya...
Yeni Suryasusanti

Jumat, 25 April 2014

Ketika Kita Merasa Jenuh dan Lelah...

 


Saya rasa setiap orang pasti pernah merasakan titik jenuh akibat lelah dalam kehidupan.
Titik dimana kita seperti merasa ingin muntah karena semua seperti menimpa kita sekaligus. Ketika kita merasa sudah memberikan yang terbaik namun hasilnya masih tidak seperti yang kita harapkan – bahkan tidak menghasilkan apa-apa karena memang tidak ada yang berhasil selesai – karena banyak elemen yang terkait yang terkadang kemampuan elemen tersebut tidak berada dalam kekuasaan kita karena kita memang hanya memiliki kekuasaan penuh atas diri sendiri, bukan atas orang lain.

Apa yang harus kita lakukan pada saat itu?
Bagaimana caranya menawarkan rasa mual ingin memuntahkan semua dengan kata-kata pedas yang nyaris sudah terbentuk di ujung lidah namun menyadari bahwa jika kita lakukan hal itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih parah?
Menarik diri sejenak mungkin merupakan solusi sementara yang terbaik, namun membayangkan hal buruk yang bisa terjadi tanpa bisa kita cegah saat kita menarik diri pun membuat pilihan ini tidak lagi menjadi yang terbaik.
Keluar dari masalah ini tanpa peduli juga bisa menjadi pilihan, namun bayangan kata “gagal melewati” mungkin akan membayangi pikiran kita seumur hidup.

Ketika rasa muak berbenturan dengan tanggung jawab dan akhlak, juga ketika rasa jenuh berbenturan dengan rasa butuh, ketika itulah kita merasakan sebuah dilema.
Dan belajar memang tidak mengenal usia. Setiap kali kita mengira satu masalah telah selesai dan kita telah mengambil hikmah dibaliknya, selalu saja ada pelajaran baru untuk kita jalani berikutnya. Semua kemudian berulang, namun dengan tingkatan yang lebih tinggi dan masalah yang biasanya semakin parah.

Di Paskibra 78, kami belajar untuk bertahan dan tetap menjalani setiap bagian terpahit dari kehidupan, dengan selalu mengedepankan tanggung jawab dan kewajiban. Kami belajar untuk berhenti disaat semua tugas telah selesai kami jalani. Karena memang hidup itu adalah perjuangan.
Disaat semua beban serasa tak tertanggungkan, Alhamdulillah selalu Allah mengirimkan bantuan. Entah itu berupa pendampingan, pengalih perhatian, kemudahan atau hanya sekadar tambahan daya tahan.
Tidak ada yang mengatakan hidup itu mudah. Namun ketika kita akhirnya berhasil melewati prosesnya dengan tetap memberikan yang terbaik dari diri kita dan dengan ikhlas menerima apa pun hasilnya, ketika itulah kita bisa melihat ke belakang dan berkata, “Ya, saya bisa.”

Saya percaya, ketika saya sampai di titik terparah dari sebuah masalah, pada akhirnya saya akan berhasil melalui semuanya, karena Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak tertanggungkan.
Jadi, setiap kali rasa ingin muntah karena jenuh dan lelah itu sampai pada titik terparah, saya akan mencoba untuk bertahan dan menguatkan hati dengan berkata, “Insya Allah, ini semua akan menjadi ibadah…”

Karena hidup di dunia ini hanyalah sementara…

Jakarta, 25 April 2014
Yeni Suryasusanti