Rabu, 20 April 2016

Tentang Ifan, Kesabaran dan Komitmen


Tentang Ifan dan Kesabaran

Sekitar 3 tahun yang lalu saya pernah menulis tentang strategi memilih sekolah di PPDB 2013 disini  :

Ifan yg sebenarnya ingin masuk SMPN 111 akhirnya masuk SMPN 89 karena gagal bersaing di jalur umum sementara SMPN 111 bukan merupakan jalur lokal kami.
Saat itu, beberapa teman ada yang melakukan dan saya disarankan untuk berusaha lebih dengan pindah KK agar SMPN 111 menjadi jalur lokal kami, atau memindahkan Ifan saat naik kelas 2 nanti.

Saya dan suami sepakat untuk menolak melakukan saran itu.
Kenapa?
Pindah KK (Kartu Keluarga) merupakan cara yang egois menurut kami. Ketika kita tinggal disuatu pemukiman, selayaknya kita bukan hanya mengambil manfaat dari sana melainkan juga memberi manfaat. Layakkah pindah KK hanya demi sekolah anak tapi kita secara fakta sama sekali tidak kenal dan bermanfaat bagi tetangga disana?
Pindah KK berarti juga tidak mendukung pemerintah mengatasi kemacetan, membuat sekolah menjadi eksklusif dan jadi rebutan seolah sekolah lain tidak ada yg baik. Padahal ilmu bisa kita pelajari dimana saja, bahkan kadang lebih banyak yg didapat bukan dari bangku sekolah.
Pindah KK berarti juga mengurangi kesempatan warga yang memang tinggal di wilayah tersebut, dan berpotensi membuat kita menjadi dzalim.
Lain halnya jika kita benar-benar pindah rumah demi sekolah anak, saya anggap ini sebagai strategi dan investasi yg lebih jujur.
Sementara memindahkan sekolah saat anak di kelas 2?
Well, tujuannya apa? Hanya demi mengejar sekolah favorit? Sebesar itukah pengharapan kepada institusi sekolah?

Disamping itu, alasan utama kami tidak bertindak sejauh itu adalah demi Ifan.
Kami ingin Ifan berjuang di tempat yg sesuai dgn kemampuannya.
Kami percaya, terkadang menjadi ikan besar di kolam kecil lebih baik baginya karena bisa mendongkrak rasa percaya dirinya. Meski dilain waktu menjadi ikan kecil dikolam besar bisa mengajarkan anak arti berjuang.

Jadi kami meminta Ifan bersabar menjalani hari-harinya di sekolah pilihan keduanya. Dengan teman-teman yang nyaris semuanya baru karena mayoritas teman SDnya masuk ke SMPN 111. Dengan gaya pergaulan yang juga berbeda karena Ifan terbiasa dengan pergaulan di SD swasta dimana lingkungannya lebih homogen dan terjaga bahasa dan sikapnya, sementara SMPN 89 siswanya kebanyakan dari SD Negeri terdekat yang lebih heterogen pergaulan dan latar belakang keluarganya.

Perbedaan standar pergaulan ini juga sempat menjadi masalah.
Apa yang bagi teman-temannya adalah candaan, bagi Ifan adalah gangguan yang tidak sopan. Bercanda dengan memegang/menjitak kepala adalah diantaranya, yang bagi temannya merupakan keakraban, sementara bagi Ifan merupakan penghinaan.
Terlebih lagi, karakter Ifan yang memang lebih suka bersahabat dengan teman yang se-hobby, meski mau berteman tanpa memilih.
Akibatnya, Ifan pun sempat di bully dan akhirnya lebih suka menyendiri, kecuali saat bergabung dengan teman-teman se-hobby yang tidak banyak jumlahnya.
Sekali lagi, saya meminta Ifan untuk bersabar, belajar mengabaikan gangguan yang tidak menyenangkan, belajar berteman lebih dekat dengan orang yang berbeda karakter dan latar belakang, dan terutama belajar mengendalikan emosi.
Berkali-kali menghadap guru BP dan pernah pula kepala sekolah untuk kasus bully, Ifan yang dikenal selalu sopan dan ramah kepada guru jadi semakin diperhatikan dan diawasi.
Para guru BP, wakil kepala sekolah dan kepala sekolah ikut mendidik Ifan untuk bisa menerima lingkungannya, menasehatinya untuk masalah pengendalian emosi, membantu melerai dan menyelesaikan permasalahan yang membutuhkan bantuan orang dewasa sebagai penengah.
Alhamdulillah... Kami bersyukur Ifan memiliki perangkat sekolah yang peduli...

Tentang Ifan dan Komitmen

Sejak usia 3 th Ifan mengenal dan mencintai komputer.
Hal ini dimulai sejak saat kami pergi ke Gramedia dan disana ada demo CD Interaktif Bobby Bola dan Aqal.
Ifan tidak mau beranjak dari sana, terpesona dengan program tersebut.
Akhirnya saya pun membeli dan mulai mengoleksi CD interaktif buat Ifan, dan mulai saat itu Ifan dan komputer seolah tak terpisahkan :D
Bahkan saat di TK, Ifan sudah berkata bahwa dia ingin jadi seorang programmer! Sungguh sebuah cita-cita yang tidak umum bagi seorang anak usia TK, karena biasanya anak-anak bercita-cita jadi dokter, polisi, bahkan presiden hehehe...

Ketika diterima di SD Bhakti, seperti sudah bisa diduga, Ifan memilih ekskul Computer Club. Disinilah minat dan bakatnya semakin dipupuk.
Ifan ikut mewakili sekolahnya untuk beberapa kompetisi di bidang komputer dan mendapatkan beberapa piala dari kejuaraan tersebut.
Teman-teman di SD Bhakti umumnya berasal dari keluarga yg homogen, cenderung berasal dari ekonomi menengah ke atas, sehingga mayoritas akrab dengan gadget.
Hingga tiba masanya Ifan meninggalkan CD interaktif dan memilih game.
Kebetulan saya dan suami diwaktu luang kami juga menyukai game, jadi terkadang Ifan dan kami bahkan saling berkompetisi :D

Namun ketika Ifan mulai memperlihatkan ketertarikan akan game agak diluar batas kewajaran, maka saya mulai berpikir bahwa hobbynya ini harus diarahkan.
Kebetulan saat itu Ifan kelas 4, dan sempat berkata ingin belajar tentang macromedia flash (Wow! Saya saja mengenal materi ini saat bekerja dari presentasi yang dibuat teman IT di kantor hahahha...).

Jadi saya pun pergi ke Gramedia dan membeli buku ini untuk Ifan :
Lalu sambil memberikan buku tersebut padanya, saya berkata sambil lalu, "Jadi gamers itu biasa, jadi pembuat game baru luar biasa..."
Karena buku ini dan tantangan saya, pada waktu kelas 5 SD Ifan menjadi salah seorang dari 5 pembuat game terbaik di sekolahnya :)

Waktu Ifan masuk SMP, sayangnya ekskul multimedia ternyata tidak diadakan meski peralatannya ada. Ternyata sekolah kekurangan tenaga ahli untuk mengajar materi ini kepada siswa.
Lalu sempat kurikulum 2013 dijalankan sehingga pelaran TIK (Teori Ilmu Komputer) dihapuskan, membuat Ifan menggerutu pelajaran kesukaannya tidak ada lagi di sekolah.
Alhamdulillah sekolah Ifan lalu kembali ke KTSP dan pelajaran TIK diadakan kembali.
Sayangnya, tidak seperti SD Bhakti, SMPN 89 jarang mengikutkan anak-anaknya kejuaraan. Sepanjang sekolah disini Ifan hanya pernah mengikuti Kompetisi Bahasa Inggris Story Telling dan menjadi juara 1 se-kecamatan Grogol Petamburan.
Tidak ada kejuaraan komputer.

Tapi, minat Ifan akan bidang ini tidak menyusut. Ifan bahkan minta dibelikan buku tentang "Minecraft" saat ulang tahunnya, dan bermodalkan buku tersebut diapun menjadi admin minecraft :D
Sepupu-sepupu Ifan kerap menelepon jika ingin meminta kode cheat game atau sekadar membahas game hehehe...

Waktu di awal kelas 9, saya kembali bertanya pada Ifan, "Masih mau jadi programmer?"
Dan Ifan menjawab dengan mantap, "Tentu saja!"
Lalu kami pun membahas bagaimana alur studinya.

SMU Jurusan IPA - Kuliah Komputer
Atau :
SMK Jurusan Komputer - Kuliah Komputer (bonus bisa langsung kerja sambil kuliah)

Saya menjelaskan bahwa jika di SMU IPA pelajaran akan umum seperti di SMP hanya sedikit menjurus ke mata pelajaran eksakta.
Tapi jika di SMK Jurusan Komputer maka pelajarannya akan lebih mendalam, dan siswa SMK dipersiapkan untuk bisa langsung bekerja disamping kuliah.
Maka Ifan pun memutuskan dengan mutlak akan memilih SMK sebagai kelanjutan studinya.
Setelah kami bersama-sama mencari informasi, ternyata di Jakarta Barat tidak ada satupun SMK Negeri yang memiliki jurusan komputer.
Jika Ifan mau memilih Jurusan Komputer, maka pilihannya adalah ke SMK Negeri di Jakarta wilayah lain, atau masuk ke SMK Swasta.

Nama SMK Telkom muncul dari rekomendasi teman dan keluarga.
Kebetulan salah seorang keponakan yang kuliah di ITB bercerita bahwa ada temannya yang jago, berasal dari SMK Telkom juga. Kebetulan juga, kedua kakak ipar saya berasal dari STT Telkom saat masih hanya ada program D3.
Lokasi SMK Telkom yang tidak terlalu jauh dari rumah, bisa diakses busway, menjadikan sekolah ini ideal buat Ifan.
Saya pun meminta Ifan untuk mempelajari dan mencaritahu tentang sekolah ini dengan lebih detail.

Ada 4 Program Studi Kehlian di SMK Telkom :

  1. Teknik Transmisi
  2. Teknik Jaringan Akses
  3. Teknik Rekayasa Perangkat Lunak
  4. Teknik Komputer dan Jaringan
Ada 2 jalur untuk masuk ke SMK Telkom, yaitu Jalur Rapor/Prestasi dan Jalur Reguler.



Untuk Jalur Prestasi, cukup menjalani test Psikotest dan Wawancara, sementara untuk Jalur Reguler menjalani Test Potensi Akademik.
Namun, SMK Telkom mengadakan Jalur Combo, yaitu ikut di jalur prestasi, namun jika gagal bisa tetap mencoba jalur reguler. Biaya jalur combo ini adalah Rp 350.000,-.
Suami saya mengambil Jalur Combo bagi Ifan untuk berjaga-jaga :)

Ifan dan Hikmah Kesabaran

Saya meminta Ifan mengisi dan menyiapkan sendiri seluruh Formulir dan lampiran yang dibutuhkan, saya bahkan tidak memeriksa dengan detail isi map yang sudah Ifan siapkan.
Ketika saya, suami dan Ifan mengembalikan Formulir Isian ke SMK Telkom, petugas administrasi menemukan Amplop Coklat bertuliskan JPK di dalam map Ifan.
Beliau segera memanggil atasannya.
"Ibu, ananda ternyata termasuk anak yg dinyatakan pantas  oleh sekolahnya mendapatkan JPK - Jalur Prestasi Akademik. SMK Telkom memang bekerjasama dengan beberapa SMP dengan memberikan jalur khusus bagi siswa pilihan, dan SMPN 89 mendapat jatah 5 siswa. Dengan masuk melalui jalur JPK maka ananda dibebaskan dari biaya pembelian formulir dan boleh memilih sendiri jurusan yang diinginkan tanpa perlu menunggu hasil test seperti siswa lain." demikian kata beliau.

Kami terpana, karena Ifan tidak bercerita tentang pemberian formulir JPK ini.
Ternyata, guru BP yang perhatian padanya bertanya Ifan ingin melanjutkan kemana. Saat Ifan menjawab ingin ke SMK Telkom, beliaupun memberi rekomendasi JPK.
Awalnya Ifan memilih Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Tapi setelah dijelaskan tentang jurusan Teknik Rekayasa Perangkat Lunak, serta merta Ifan beralih memilih RPL yang menurutnya (juga menurut saya) lebih sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Ifan menjalani Psikotest dan Wawancara pada tanggal 16 April 2016, dan dinyatakan lulus pada tanggal 18 April 2016.
Sekolah lanjutan sudah di tangan bahkan sebelum UN dilaksanakan...

Masya Allah... Alhamdulillah...

Saya berkata kepada Ifan, bahwa ini adalah buah dari kesabaran dan komitmen Ifan.
Karena jika Ifan dulu kami paksakan masuk ke SMPN 111, belum tentu dia mendapatkan JPK mengingat lebih banyaknya saingan, yaitu teman-temannya yang juga penggila game dan gadget...
Jika Ifan tidak pernah di bully sehingga dekat dengan guru BP, mungkin Ifan akan terlewat ditanyakan minat melanjutkan kemana sehingga harus berjuang lewat jalur biasa...

Hikmah yang paling utama adalah dengan kejadian ini, saya berhasil menanamkan tanpa keraguan kepada Ifan, bahwa dibalik ujian Allah akan berikan kemudahan...

Alhamdulillah... Maka nikmat Allah yang mana lagi yang bisa kami dustakan?

Jakarta, 20 April 2016
Yeni suryasusanti

Kamis, 10 Maret 2016

HALAL IS MY LIFE : KETIKA ILMU MENGUBAH CARA PANDANG




Silaturrahim adalah pembuka pintu rizki, dan rizki bukan melulu soal materi…
Hal ini sudah saya yakini sejak lamaaaa sekali :)

Ketika mendapat tawaran untuk mengikuti Training of Trainer Kader Dakwah Halal LPPOM MUI dari R. Muhammad Suherman, Ketua Asosiasi Chef Halal Indonesia (ACHI), hanya dalam beberapa hari sebelum training dilangsungkan, jujur saja hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah : “Pantaskah saya?”

Selama ini saya seperti muslim pada umumnya, memastikan  makanan dan minuman yang saya konsumsi bukan merupakan makanan yang haram. Namun baru hanya sebatas itu. Saya belum terlalu menaruh perhatian atau terlalu berhati-hati tentang hal-hal yang syubhat.
Di satu sisi hal ini mungkin karena ilmu saya yang jauh dari mumpuni, di sisi lain mungkin karena saya terlalu percaya bahwa seorang muslim tidak akan menjual makanan dan minuman haram kepada muslim yang lain. Naif ya? :D

Saya mengenal Chef Herman di Komunitas My Halal Kitchen (MHK) dimana saya menjadi anggota pasif dan cenderung silent reader, hanya posting jika ada informasi yang saya pikir diperlukan oleh member MHK.
Chef Herman menawari saya mengikuti ToT mungkin karena kedudukan saya di komunitas Natural Cooking Club (www.NCC-Indonesia.com) sebagai pengurus inti. Saya menjabat sebagai Bendahara NCC sejak pertama kali berdiri.
Komunitas NCC adalah komunitas umum lintas agama yang beranggotakan lebih dari 80.000 member meski seluruh pengurus inti adalah muslim. Diskusi mengenai halal haram hanya diperkenankan sebatas kulitnya seperti apakah bahan ini sudah bersertifikat halal atau belum. Namun untuk pembahasan yang lebih dalam tentang penentuan halal dan haram yang terkadang berpotensi menjadi polemik, maka kami akan mengarahkan member yang ingin lebih paham tersebut untuk bergabung juga dengan komunitas lain yang lebih khusus, misalnya seperti MHK.
Saat menawari jatah ToT milik ACHI kepada saya, Chef Herman berkata, “NCC kan belum ada jalur ke LPPOM MUI. Semoga ToT ini bisa membuka jalan.”
Alhamdulillah, inilah rizki dari Allah untuk saya, untuk kami di NCC, jalan menuju halal bagi kami sebagai pribadi.

Mengikuti ToT selama 2 hari, sungguh mengubah cara pandang saya dalam melihat sebuah produk, terutama setelah mengikuti materi terkait Teknologi Pangan.
Saya terhenyak, jika tidak ingin dikatakan shock. Ternyata cara pandang saya yang naif dalam melihat kehalalan sebuah produk selama ini benar-benar berbahaya.
Standar saya dahulu : Yang penting tidak haram.

Saya dibenturkan dengan kenyataan bahwa karena ilmu yang rendah, saya mungkin mengambil banyak kesimpulan yang salah, karena bahan-bahan artificial dalam berbagai produk, apa yang saya anggap tidak mungkin haram ternyata bisa jadi haram.

Sungguh membuka mata saya penjelasan tentang bagaimana sekadar minuman rasa strawberry bisa menjadi haram karena ada kandungan khamr di dalam proses produksinya, bagaimana MSG pun bisa menjadi haram karena kandungan unsur yang berasal dari rambut manusia terdapat di dalamnya, bagaimana bahkan AIR bisa menjadi haram ketika proses permurnian airnya, alat dan kemasannya bersentuhan dengan yang haram. Belum lagi tentang ratusan bahkan mungkin ribuan produk yang mengandung turunan babi yang terdapat di dalam berbagai bahan tambahan. Ini belum menyinggung tentang kosmetik dan masih banyak lagi yang tidak secara langsung kita konsumsi.
ToT ini membuat saya menyadari betapa pentingnya Sertifikat Halal MUI bagi ketenangan hati pelanggan yang mengkonsumsi.

Sejak masih di tengah menjalani ToT, ilmu yang membuat saya terhenyak ini telah saya bagi dalam bentuk status Facebook, karena saya memiliki follower yang cukup banyak, ribuan bahkan puluhan ribu member NCC karena saya juga menautkan status tersebut dengan pengurus NCC lainnya.
Saya tidak menunggu training berakhir dulu, bahkan tidak pernah terpikir untuk menunggu hasil kelulusan diumumkan baru membagikan ilmu, walaupun kami hanya akan mendapatkan Sertifikat Trainer jika dinyatakan lulus, dan hanya akan mendapatkan Sertifikat Peserta jika dinyatakan tidak lulus ujian yang diadakan pada akhir ToT.

Mengapa saya memilih berbagi sebelum sertifikat Trainer Kader Dakwah Halal LPPOM MUI saya dapatkan?
Jujur saja, hal ini adalah karena saya menyadari bahwa ilmu dan kemampuan saya masih sangat jauh dari mumpuni untuk menjadi seorang Kader Dakwah Halal LPPOM MUI.
Namun, walaupun dengan sedikit ilmu yang saya miliki, bekal dari ToT dan Group Telegram Kader Dakwah Halal LPPOM MUI, saya memutuskan untuk berbagi karena saya memahami bahwa tugas saya sebagai umat hanyalah membagi ilmu yang bermanfaat, dan apa yang saya bagi tersebut mungkin bisa menyentuh hati dan menyebabkan seseorang memutuskan untuk berhijrah, karena pemberian hidayah itu murni hak Allah.

Setelah mengikuti ToT Kader Dakwah Halal LPPOM MUI, saya pun memiliki angan-angan dan mimpi.
Saya memimpikan tentang standar makanan, minuman dan semua hal yang bersentuhan dengan kita selama ini.
Saya memimpikan pada suatu hari nanti KEHALALAN SEBUAH PRODUK yang dijual bebas akan menjadi sebuah standar yang WAJIB dipenuhi baik di Indonesia bahkan di seluruh dunia, terlepas dari masalah hidayah Islam, namun karena memang dibuktikan secara ilmiah dan mendapatkan pengakuan mutlak dari semua orang apapun agamanya bahwa yang HALAL dan THAYYIB adalah memang yang terbaik bagi umat manusia.

Saya memahami dan sungguh menyadari bahwa untuk mewujudkan angan-angan dan mimpi ini diperlukan kerja keras dan perjuangan yang panjang, dan mungkin saja mimpi ini tidak menjadi kenyataan semasa saya hidup.
Namun dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim, saya siap menjadi bagian dari perpanjangan tangan dan penyampai pesan untuk setiap ilmu yang bermanfaat bagi teman, kolega, sahabat dan kerabat yang ada disekeliling saya :)

Jakarta, 10 Maret 2016
Yeni Suryasusanti

Jumat, 30 Oktober 2015

Ifan : Antara Keinginan dan Kebutuhan :)

Ulang tahun Ifan tahun ini lumayan unik :)
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kami biasanya merayakan ulang tahun bersama keluarga inti dengan makan bersama keluarga inti di luar rumah atau di rumah saja.
Tahun ini sedikit berbeda, karena jadwal ulangan harian Fian.

Ulang tahun Ifan tahun ini pada hari Rabu, 28 Oktober 2015 tepat pada hari sekolah. Fian kebetulan ada ulangan harian tgl 29 Oktober 2015.
Jadi kami terpaksa berkompromi.
Saya memberikan pengertian kepada Fian, bahwa saya, suami dan Ifan akan pergi untuk membeli hadiah ulang tahun bagi Ifan, sementara Fian karena ada ulangan harian keesokan harinya belajar di rumah dengan Kak Tri, guru privat anak-anak kami.

Seperti biasa, dengan Fian, tiada hari tanpa negosiasi :D
"Makan malamnya gimana?" tanya Fian.
"Abang Ifan pengen Burger King."
"Ayah, bunda dan abang makan disana?"
"Iya, tapi nanti bunda bungkus dibawa pulang untuk Fian."
Awalnya Fian meminta ikut, tapi saya bertanya, "Terus ulangannya gimana? Nggak belajar?"
Fian (7th) pun berpikir dan mengambil keputusan, "Oke deh, Fian di rumah belajar, tapi Fian minta 2 porsi." :D
"Deal." jawab saya menyetujui :)

Tahun ini, suami dan saya memutuskan bersama bahwa sudah saatnya Ifan memiliki HP Android sendiri.
Usianya 15 th, dan tahun depan insya allah akan melanjutkan sekolah ke tingkat atas.
Sebelumnya, kami memberikan pengertian kepada Ifan, dan menunda pemberian Android kepadanya.
Alasannya jelas, belum menjadi sebuah kebutuhan untuk komunikasi, dan peraturan sekolahnya melarang siswa membawa HP berkamera ke sekolah.
Ifan memahami bahwa dia tidak boleh melanggar peraturan sekolah jika masih mau bersekolah disana.
Jadi, walaupun semua sepupunya sudah memiliki Android atau Blackberry sejak SD, tidak demikian dengan anak-anak kami.

Mengapa sekarang? Mengapa tidak nanti saja saat Ifan sudah lulus?
Karena kami ingin Ifan melatih pengendalian diri agar penggunaan HP Androidnya tidak mengganggu kegiatan belajar sehari-hari dari sekarang, dan karena momentnya tepat pas hari ulang tahun :)
Jadi, saat ini kami anggap yang dulunya hanya merupakan sebuah keinginan sudah akan menjadi sebuah kebutuhan untuk saat Ifan nanti melanjutkan ke SMA/SMK yang kegiatannya bisa jadi lebih banyak di luar rumah dibandingkan SMP.

Saat diberitahu kepada Ifan bahwa kami ingin membelikan HP Android, Ifan luar biasa gembira, langsung memeluk erat saya, "Makasih ya Bun..." katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi bunda dan ayah nggak bisa membelikan HP Android yang terlalu canggih atau paling mutakhir ya Fan, yang sedangan saja budgetnya, maksimal sekitar 2 jutaan, supaya cukup awet jadi efisien secara harga dan pemakaian. Karena Ifan belum perlu dan belum pantas menggunakan gadget yang canggih dan terlalu mahal." kata saya memberikan batasan.
"Iya bun, nggak apa-apa, terserah bunda aja baiknya gimana..." jawab Ifan.

Di counter HP, seorang sales mencoba menggiring kami ke Android keluaran terbaru dengan kecanggihan dan harga yang melangit.
Dengan tegas saya menggeleng, "Anak saya baru 15 th, masih SMP kelas 9. Masih belum butuh yang sekelas itu. Kalau sekarang saja saya sudah membelikan yang secanggih itu, nanti seandainya waktu SMA/SMK harus ganti HP, secanggih apa lagi saya harus membelikannya?" jawab saya diplomatis.
"Iya juga ya..." si sales menanggapi sambil terlihat berpikir.
Mungkin dia berpikir, pelit amat ih orangtuanya hahahha....

Jadi, sekarang, karena peraturan sekolah masih belum boleh bawa HP berkamera ke sekolah, HP Android Ifan tinggal di rumah saja. Dan setiap pulang sekolah Ifan baru boleh memegang HP-nya setelah selesai menyusun buku dan mengerjakan tugas sekolah untuk esok hari :)

Dan inilah hasil foto dengan kamera HP Ifan yang baru :*


Jakarta, 30 Oktober 2015
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 07 Maret 2015

Mari Menggunakan Kata "Daripada" dan "Mendingan" Pada Saat Yang Tepat :)

Masih ingat kata mutiara "Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit"?
Tentu masih ya :)

Atau, pernah dengar ungkapan "Kalo bermimpi itu jangan tanggung-tanggung"?
Mungkin pernah ya :)

Apa sih kesamaan antara kedua kutipan diatas?
Keduanya sama-sama menyarankan kita menetapkan suatu keinginan setinggi-tingginya untuk memacu semangat kita dalam mencapainya.

Berbicara tentang cita-cita dan mimpi, bedakan dengan berbicara mengenai target.
Jika untuk cita-cita dan mimpi kita boleh meletakkannya setinggi mungkin, sementara untuk target kita harus lebih realistis.

Katakanlah kita ambil contoh sebuah perusahaan.
Sebuah perusahaan yang sehat akan selalu menetetapkan target yang lebih tinggi daripada hasil pencapaian selama ini. Tapi target ditetapkan tidak boleh terlalu tinggi seperti mimpi. Karena target harus dicapai dalam jangka pendek, sementara mimpi boleh dicapai dalam jangka panjang. Meskipun demikian, sangat jarang target yang ditetapkan menurun dibandingkan target sebelumnya. Seburuk apapun kondisinya, biasanya minimal target yang ditetapkan akan sama dengan target yang sebelumnya. 

Lalu apa kaitannya hal yang saya tulis diatas dengan judul tulisan ini? :)

Saat ini saya melihat banyak orang menggunakan kata "daripada" dan "mendingan" pada saat yang belum tepat, bahkan tidak tepat.

"Daripada berhijab tapi memiliki sifat yang jahat, mendingan nggak berhijab tapi memiliki sifat yang baik."
Mungkin banyak yang setuju kalimat diatas :)
Tapi saya tidak setuju.
Mengapa?
Karena hal diatas bukan merupakan realitas yang harus saya pilih saat itu juga.
Karena kondisi diatas hanya merupakan pengandaian.
Karena saya diminta untuk menurunkan standar nilai-nilai yang telah saya anut pada saat yang belum tepat.
Maka saya memilih tetap dengan standar nilai ideal yang seharusnya yaitu "Berhijab dan memiliki sifat yang baik" dan tidak menentukan pilihan saya dari kedua pilihan yang sama-sama memiliki kekurangan, karena memang tidak perlu :)

Lain halnya jika saya dihadapkan pada keharusan untuk memilih pilihan nyata di depan mata.

Misalnya ada dua orang dengan karakter seperti diatas :
Si A telah berhijab tapi memiliki sifat yang jahat
Si B belum bersedia berhijab tapi memiliki sifat yang baik
Namun keduanya sama-sama profesional dan memiliki kemampuan kerja yang baik.

Situasi 1 :
Saya diminta memilih salah satu dari mereka untuk menjadi rekan kerja saya satu team. Mana yang akan saya pilih?
Tentu saya akan memilih si B.
Mengapa?
Karena keadaan mengharuskan saya memilih salah satu atau team saya akan pincang. Dan saya memilih orang yang beresiko lebih kecil untuk menjadi duri dalam daging dan menghancurkan kerjasama diantara seluruh anggota team.

Situasi 2 :
Saya diminta untuk memilih salah satu dari mereka untuk ikut dalam team negosiasi ke Aceh dan akan berhadapan dgn penduduk asli.
Tentu saya akan memilih si A.
Mengapa?
Karena di daerah yang penduduknya menjunjung tinggi syariah Islam, akan lebih mudah melakukan lobby jika kita terlihat memiliki keyakinan yang sama.
Sama seperti saya akan memilih si B jika kunjungannya ke penduduk asli Manado.
Karena saya harus memilih dengan pertimbangan yang tepat demi suksesnya target dan tujuan bersama.

Ini adalah contoh saat saya harus bersedia mengabaikan standar nilai ideal yang telah saya tetapkan pada saat yang tepat dan menggunakan skala prioritas atas tiap-tiap nilai tersebut karena keadaan mengharuskan demikian.

Namun demikian tetap akan ada type orang yang tidak mau memilih jika pilihannya tidak sesuai standar, dan memilih untuk melepaskan kesempatan menambah anggota team.
Orang type seperti ini akan memilih kerja rodi bersama team yang sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan olehnya daripada memilih salah seorang anggota yang dibawah standar.

Sama seperti kondisi sekarang ini.
"Daripada pemimpin yang santun tapi korupsi, mendingan pemimpin yang kasar tapi jujur".
Jika hal ini ditanyakan kepada saya, "Pemimpin mana yang lebih baik bagimu?
Maka saya akan berkata, "Tidak keduanya. Bagi saya, yang baik adalah pemimpin yang santun dan jujur."
Mengapa?
Karena saat ini pada kenyataannya saya belum perlu menentukan pilihan.
Jadi saya memilih untuk tetap mempertahankan standar nilai ideal yang telah saya tetapkan selama ini.

Namun, jika saya dihadapkan pada kondisi harus memilih seperti misalnya saat Pilkada atau Pilpres, barulah saat itu saya akan mengabaikan standar nilai ideal saya, menerapkan skala prioritas untuk menyesuaikan dengan pilihan yang ada :)

Seperti saat Pilpres yang lalu, itulah saat yang tepat bagi kita bersikap realistis dan mengabaikan standar nilai ideal yang kita inginkan dari seorang Presiden dan orang-orang terdekatnya, dan menggunakan skala prioritas.

Ada yang memilih Bp. Jokowi karena lebih tidak mau memilih Golkar yang orang-orangnya sudah banyak "mengemplang" Indonesia, walaupun mereka juga tidak menyukai PDIP.
Ada yang memilih Bp. Prabowo karena lebih tidak mau memilih Syiah yang berada di team Bp. Jokowi, walaupun mereka juga tidak menyukai Golkar :D
Dan ada banyak pertimbangan lain yang mendasari pemilihan atas kedua calon ketika itu.
Masing-masing punya pertimbangan sendiri, dan itu sah-sah saja karena memang dihadapkan pada situasi kita harus memilih kedua calon yang keduanya memiliki kekurangan alias tidak ideal.

Tapi, tetap juga mungkin ada yang bilang, saya lebih baik golput, daripada memilih yang calon yang keduanya buruk :D
Ya, itu juga hak mereka hehehe...

Jadi, sebaiknya janganlah menggunakan kata "Daripada" dan "Mendingan" pada sesuatu hal yang terkait "Value" alias standar nilai ideal.
Karena value itu sama seperti dgn cita-cita dan impian, yang sebaiknya kita letakkan setinggi-tingginya. Bahkan target saja sebisanya kita tetapkan lebih baik, mengapa untuk value kita bersedia menurunkan standarnya.
Kita bisa menggunakan kedua kata tersebut saat kita memang dihadapkan pada situasi harus memilih.
Dengan demikian, standar nilai yang telah kita tetapkan tidak akan menurun standar idealnya.

Tidak mengapa jika kenyataan yang ada pencapaiannya jauh dibawah standar nilai ideal dalam hidup kita. Kita kan bisa belajar untuk ikhlas menerimanya.
Namun jangan membuat standar ideal kita menurun hanya karena kondisi yang ada. Karena, hal ini berpotensi mengakibatkan pencapaian yang semakin menurun pula...

Jakarta, 6 Maret 2015
Yeni Suryasusanti