Selasa, 04 Februari 2014

Seberapa Jauh Kita Ikut Bertanggungjawab?


Tulisan ini saya buat karena tergelitik dengan cerita suami saya tentang sebuah resepsi pernikahan yang dihadirinya bersama Papa saya dan Ifan.

Ketika undangan tersebut datang ke rumah untuk Papa saya, sudah terdengar omelan Papa ketika membacanya.
"Undangan kog Bahasa Inggris semua redaksinya. Emangnya dia orang apa sih?"
Hahahaha....
Omelan ini bukan karena Papa tidak menguasai Bahasa Inggris, sama sekali bukan. Sejak masih aktif bekerja Papa juga bolak balik ditugaskan ke luar negeri dan penguasaan Bahasa Inggris Papa sangatlah baik.
Namun, Papa berpegang teguh pada peribahasa Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung dan selalu berusaha tidak menjadi Kacang yang lupa pada kulitnya.
Jadi penggunaan Bahasa Inggris sepenuhnya pada Undangan Pernikahan dimana yang menjadi mempelai adalah orang Indonesia lumayan mengganggu perasaan Papa :D

Menyimpang sejenak dari topik cerita, beberapa hasil kerja saya merupakan Formulir Administrasi untuk pelanggan. Saya selalu membuatnya 2 bahasa untuk mengantisipasi pelanggan asing. Namun, bahasa yang diutamakan adalah Bahasa Indonesia, ditandai dengan peneraan Bahasa Indonesia dahulu baik pada judul formulir maupun isi formulir, baru kemudian pada baris berikutnya diberikan terjemahan Bahasa Inggrisnya.
Bagi saya ini merupakan pernyataan sikap, karena formulir ini digunakan oleh mayoritas pelanggan Indonesia sedangkan pelanggan asing hanya minoritas saja :)

Dari Undangan Pernikahan yang Papa terima, terbersit tanya dalam pikiran saya.
Seberapa jauh sang pengantin dan keluarganya ikut andil dalam pudarnya kecintaan pada Bahasa Indonesia?
Karena dengan memberikan undangan yang berbahasa selain Bahasa Indonesia berarti ikut membantu menyebarkan Trend penggunaan Bahasa Asing pada acara resmi keluarga.
Berapa banyak calon pengantin dan keluarga yang akan mengikutinya?

Karena saya tidak ikut hadir pada acara pesta pernikahan tersebut, saya bertanya pada suami saya yang mengantar Papa bersama Ifan tentang kesannya terhadap acara pesta pernikahannya.
"Keren sih... Mewah... Tapi... Nggak ada aura tradisionalnya. Yang tradisional hanya baju adat dan pelaminannya. Selain itu, kesannya modern, seperti yang biasa dibuat EO gitu deh..."

Islam memang mengatur tentang akad nikah.
Setiap akad nikah pastinya akan menjadi moment yang membuat isi dada kita bergetar. Bahkan, kita terkadang ikut tegang dan menahan napas ketika mempelai pria sedang mengucapkan ijab kabul.
Namun untuk pesta pernikahan, atau walimah, sepanjang pengetahuan saya tidak ada aturan baku penyelenggaraannya.

Saya jadi teringat acara pesta pernikahan saya sendiri.
Dimana aura tradisional demikian kental baik ketika pesta di Jakarta maupun saat pesta ngunduh mantu di Lampung.
Untuk acara di Jakarta, kami tidak menjalani upacara acara adat lengkap.
Acara perkenalan keluarga dilakukan sekitar setahun sebelum menikah. Acara Lamaran dilakukan 2 bulan sebelum menikah. Acara seserahan malam sebelum akad nikah. Ketiga acara tersebut dijalankan tanpa nuansa adat tradisional, hanya memenuhi etika dan norma sosial. Sementara akad nikah dijalankan sesuai arahan KUA.
Baru pada acara pesta pernikahan ada nuansa tradisional yang kuat.
Undangan pesta pernikahan kami pun bernuansa wayang golek.
Kami bukan hanya menggunakan pakaian adat Sunda dan pelaminan yang sesuai dengan asal daerah Papa saya. Namun juga pelengkap acaranya seperti atraksi mapag pengantin untuk penyambutan pengantin yang ditutup dengan tarian tradisional.
Alat musik yang ada di dalam ruangan yang digunakan sebagai musik latar bukanlah Keyboard dan Biduanita, melainkan Degung Sunda :)

Terlebih lagi saat di Lampung, dimana keluarga suami saya memang masih sangat kuat adat istiadatnya.
Mengutip ucapan almarhum ayah mertua saya yang bijaksana, "Adat wajib dijalankan, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka Adat akan ditinggalkan dan ajaran Islam yang wajib dijalankan."

Tidak heran, pada masa itu saya menilai pesta pernikahan merupakan moment yang terasa sangat sakral yang membuat dada kita tergetar baik dari aura ruangannya, pengantinnya maupun para undangannya.

Lalu, pergeseran budaya terjadi. Tentu diawali oleh beberapa generasi muda yang terpengaruh kata globalisasi.
Bukannya saya tidak menyukai romantisme... Namun jujur saya katakan, bagi saya agak menyedihkan bagaimana pesta pernikahan bergeser dari sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang sekedar romantis.
Getaran hati yang saya rasakan sungguh jauh berbeda.
Dulu, ketika memasuki gedung pernikahan yang penuh nuansa tradisional, maka saya akan langsung menarik nafas dalam-dalam dengan dada bergetar.
Namun sekarang, ketika saya memasuki ruangan pesta dimana biasanya para tamu langsung disambut dengan parade foto pre wedding, maka reaksi saya umumnya bukan lagi menarik nafas dalam dengan dada bergetar, namun reaksi saya malah seperti layaknya bintang iklan di TV yang bersuara manja dan seolah bermimpi, "Ooohhhh... sooo sweetttt...." :D

Dari acara pesta pernikahan yang dihadiri suami saya, terbersit tanya dalam pikiran saya.
Seberapa jauh sang pengantin dan keluarganya ikut andil dalam pudarnya kecintaan pada Adat Istiadat dan bahkan hilangnya Budaya Asli Indonesia?
Karena dengan mengadakan pesta pernikahan bertema Internasional berarti ikut membantu menyebarkan Trend penggunaan budaya internasional pada acara resmi keluarga Indonesia.
Berapa banyak calon pengantin dan keluarga yang akan mengikutinya?

Kemudian, di depan Papa saya, suami saya bercerita tentang antusiasme Ifan ketika mengelilingi ruangan untuk melihat makanan dan minuman apa saja yang tersaji di sana.

Berikut percakapan keduanya...

"Ayah, tau nggak, diluar situ ada Bir, Wine dan Champagne lho Yah!" celoteh Ifan bersemangat.
"Kog Ifan tau itu minuman apa aja?" suami saya sambil nyengir balas bertanya.
"Ifan tanya sama pelayannya itu apa... trus dijelasin deh!" tutur Ifan.
"Oooooo.... Emangnya Ifan mau nyicip kog pake tanya-tanya?" selidik suami saya sambil tersenyum.
"Nggak kog, Ifan mau tau aja itu apa... Ifan nggak mau minum kog... Haram!" sahut Ifan tegas dengan suara cukup keras :D

Di dekat Ifan, banyak kepala menoleh ketika kata "Haram" diucapkan Ifan dengan tegas namun enteng sambil berjalan. Bahkan seorang bapak yang tadinya memegang gelas minuman, langsung meletakkan gelasnya tanpa menghabiskan dan berlalu ke lain ruangan :D

Saya bertanya kepada Papa saya, karena beliau merupakan teman dari orangtua salah satu mempelai, "Lho, bukannya oom itu muslim pa? Kog pestanya ada bir segala?"
"Iya muslim, dan besannya setahu Papa muslim juga, tapi penyelenggara pestanya sepertinya besannya sih, dan memang tamunya banyak orang bule dan cina juga..." jawab Papa saya.

Dari minuman alkohol yang hadir pada acara pesta pernikahan itu, terbersit tanya dalam pikiran saya.
Seberapa jauh sang pengantin dan keluarganya ikut andil dalam dosa memberikan minuman yang tidak baik efeknya kepada para tamu meskipun kebanyakan yang meminum adalah tamu non muslim yang tidak menetapkan keharaman atas minuman tersebut?
Karena dengan menyediakan minuman beralkohol pada pesta pernikahan bisa menjadi godaan bagi tamu muslim yang belum begitu kuat akidahnya untuk mencoba meminum minuman yang diharamkan tersebut.
Berapa banyak calon pengantin dan keluarga yang akan mengikuti trend ini juga nantinya?

Inilah tulisan pertama saya di tahun 2014, disempatkan untuk dituliskan dan didorong pula oleh keharuan serta kebanggaan akan ketegasan Ifan yang semoga saja kelak bisa berpengaruh baik bagi lingkungannya...

Sungguh, saling tolong menolong dalam kebajikan dan saling ingat mengingatkan dalam kesalahan adalah tugas umat Islam...

Mungkin ada baiknya, jika sebelum melakukan sebuah tindakan yang memberikan pengaruh kurang baik pada orang-orang di sekitar kita, hendaklah kita bertanya pada diri kita : Seberapa jauh kita ikut bertanggungjawab?

Jakarta, 4 Februari 2014
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 02 November 2013

Ketika Saya Belajar Tentang Nilai Sebuah Kecantikan dan Harga Perawatannya :)


Menjadi seorang anak, saya membuktikan bahwa perkara "keturunan" bukanlah semata-mata mengenai hal-hal yang berbau genetika seperti wajah yang mirip dan kulit yang bisa jadi sejenis, namun sifat dan skala prioritas dalam hidup juga bisa kita adopsi tanpa kita sadari.
Ibu saya adalah wanita yang termasuk beruntung dianugerahi kecantikan alami, dengan jenis kulit yang normal dan tidak bermasalah. Sementara papa saya memiliki kulit yang cenderung berminyak dan berjerawat.
Alhamdulillah, saya menurunkan jenis kulit Ibu, sementara kakak saya Yesi menurunkan jenis kulit Papa.
Saya masih ingat betapa karena itu kakak saya terpaksa harus meluangkan waktu, usaha dan biaya yang lebih besar untuk mengatasi persoalan kulitnya. Facial dan kunjungan ke dokter kecantikan secara rutin merupakan salah satu usahanya untuk merawat kecantikan. Membersihkan wajah dengan lebih ekstra teliti setiap kali habis keluar rumah dan setelah menggunakan make up merupakan keharusan baginya.
Sementara saya, karena anugerah Allah tersebut menjadi sedikit lebih santai. 
Perawatan wajah yang saya lakukan hanyalah menggunakan pelembab wajah - tanpa foundation karena saya tidak suka efek tebal di wajah yang ditimbulkan olehnya - sebelum memakai bedak, menggunakan susu pembersih 2 in 1 sebelum tidur (itupun tidak selalu saya lakukan hehehehehe), dan membersihkan wajah dengan sabun muka setiap kali mandi. Untuk perawatan rutin (yang saya lakukan dengan tidak terlalu rutin hehehehe...) saya hanya mengerjakan sendiri peeling wajah dan masker praktis yang tinggal dioles dengan kuas saja :D
Sedangkan facial? Jujur, saya baru melakukannya 2 kali seumur hidup saya : pertama kali ketika menjalani paket perawatan pengantin saat hendak menikah, lalu ketika saya sedang berlibur ke Pekalongan ke tempat seorang sepupu yang merupakan dokter kecantikan dan memiliki spa di sana. Alhamdulillah, dia bersikeras agar saya menjalani perawatan wajah dengan tanpa biaya tentunya :)

Ibu saya adalah seorang wanita bekerja juga seperti saya. Dan sedikit banyak saya menduplikasi nilai-nilai hidup beliau dan skala prioritas dalam hidupnya. Managemen rumah tangga yang beliau lakukan terbukti sukses menempatkan dirinya sebagai Istri, Ibu dan Wanita Karier yang seimbang. Saya tidak pernah melihat Ibu pergi ke salon untuk melakukan perawatan kecantikan. Sepanjang ingatan saya, perawatan kecantikan rutinnya adalah dengan menggunakan "bedak dingin" secara rutin sebelum tidur malam hari :D
Meski demikian, Ibu tetap cantik, kulitnya tetap bercahaya menurut saya. Entah karena saya melihatnya dengan mata cinta atau memang demikian adanya :)
Hal ini menjadikan perawatan kecantikan yang memerlukan waktu, usaha dan biaya yang ekstra menjadi bukan prioritas utama bagi saya karena saya juga memiliki jenis kulit yang sama tidak bermasalahnya.
Dulu ketika saya belum menikah dan masih memiliki banyak waktu luang saya memang cukup senang ke salon, tapi yang saya jalani adalah cream bath jika saya ingin santai sejenak, blow rambut jika saya perlu ke pesta yang memerlukan penampilan ekstra dan potong rambut jika model rambut saya sudah berantakan bentuknya :)

Pelajaran tentang hidup memang tidak pernah berhenti begitu saja.
Ketika saya menikah, saya menemukan kenyataan yang berbeda, bahwa bagi sebagian orang, perawatan kecantikan sama pentingnya seperti bernafas.
Ibu mertua saya adalah seorang ibu rumah tangga ideal. Beliau selalu sudah cantik berdandan ketika muncul pagi-pagi keluar dari kamarnya. Waktu yang lebih leluasa pun membuat beliau sempat meluangkan waktu untuk perawatan kecantikan ke dokter sehingga hasilnya, kulit wajah yang putih bersih dan bercahaya diperolehnya :)
Selama ini saya tidak pernah terlalu mempedulikan bagaimana orang lain merawat kecantikannya, sampai suatu ketika Emak - demikian saya memanggil Ibu mertua saya - meminta saya agar melakukan cauter pada tumpukan lemak di kulit wajah saya.
Kulit saya memang jenisnya demikian, ada bintik-bintik sewarna kulit seperti komedo namun bukan yang katanya berasal dari lemak di wajah saya. Dulu sekali - sekitar tahun 2001 - saya pernah melakukancauter ketika bintik tersebut tumbuh di bawah garis mata sehingga menghalangi pandangan mata saya. Duh, rasanya sakit luar biasa!
Setelah tindakan yang menyakitkan tersebut saya sama sekali tidak pernah memikirkan melakukannya lagi dalam waktu dekat. Prinsip saya, jika tidak mengganggu saya dan suami saya, maka masih bisa saya abaikan :D
Namun, penumpukan lemak di wajah ini rupanya tidak luput dari pandangan emak yang kritis.
"Ayo Yen, kita ke dokter Ronny biar di-cauter... Nanti nyesel..." kata Emak kepada saya hampir pada setiap kesempatan kami bertemu.



Saya belajar dari Emak, bahwa kata-kata yang diucapkan terus-menerus ternyata bisa mempengaruhi alam bawah seseorang seperti hipnotis.
Meski saya masih merasa tidak terganggu dengan penumpukan lemak di kulit wajah saya di bagian pipi, namun hal itu terpikirkan setiap kali saya hendak bertemu Emak dalam acara santai keluarga dimana akan ada kemungkinan kami mengobrol ringan panjang lebar tentang segala hal, terbayang bahwa Emak akan sekali lagi mengajak saya ke dokter kecantikan langganan beliau.
Saya menyadari hal itu beliau lakukan sebagai bagian dari rasa sayangnya kepada saya, menantunya yang paling tidak memprioritaskan kunjungan ke salon dan dokter kulit sebagai perawatan kecantikan :)
Jangankan ke dokter, di tas saya saja tidak selalu ada bedak dan lipstik hehehehe... karena saya hanya menggunakannya di rumah, dan hampir tidak pernah memulas ulang memperbaharui make up demi penampilan saya, sekali lagi alhamdulillah karena di masa dewasa saya, saya dianugerahi kulit wajah yang putih dan tidak berminyak, sehingga make up awet menempel di wajah saya meskipun telah terkena air wudhu berulang kali  :D

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendatangi klinik 24 jam di dekat rumah saya. Kebetulan disana ada dokter spesialis kulit dan kecantikan juga. Saya berkonsultasi pada hari kerja setelah pulang kantor.
Dokter Maria berkata, saya sebaiknya datang pada hari sabtu pagi, karena tindakan cauter harus didahului dengan pengolesan gel penghilang sakit. Saya berkata saya mengerti dan akan datang ketika bisa.
Namun, kembali hari-hari saya dipenuhi dengan berbagai hal lain yang saya anggap jauh lebih penting dibanding perawatan kecantikan ekstra tersebut.

Hingga hari Sabtu, 12 Oktober 2013 yang lalu, saya ingat bahwa kami akan berkumpul di rumah mertua saya untuk merayakan Hari Idul Adha bersama-sama seperti biasanya... dan tentu akan bertemu Emak yang mungkin akan kembali mengingatkan saya akan pentingnya merawat kecantikan wajah saya...
Siang itu kebetulan saya dan Fian ada rencana pergi ke rumah Mas Saleh (mentor Paskibra 78) bersama Debby Cintya dan Dewi Damayanti. Disana kami akan bertemu juga dengan Mbak Ayu Magdina, yang merupakan salah seorang Pendiri Paskibra 78. Rencananya saya akan dijemput sekitar Pk. 11.00 WIB.
Pagi itu akhirnya saya memutus secara mendadak untuk melakukan cauter demi menyenangkan hati Emak, juga demi ketenangan hati saya sendiri setiap hendak bertemu beliau.
Ketika suster memulas gel penghilang rasa sakit untuk persiapan tindakan cauter, saya bertanya berapa lama proses ini memakan waktu hingga selesai.
"Cauter-nya sih hanya sebentar, paling 15 menit. Yang lama menunggu gel ini bekerja dulu, sekitar 45 menit, jadi nanti nggak sakit tindakannya..." demikian kata suster.
Saat itu baru jam 9 lewat.
"Oh oke, soalnya saya nanti jam 11 mau ada acara..." kata saya.
Suster itu terbelalak menatap saya.
"Lho, habis di-cauter gimana bisa pergi?" serunya kaget.
"Lho, emang kenapa suster?" tanya saya heran melihat reaksinya.
"Kan nanti selama 3 hari nggak boleh pakai bedak, hanya boleh pake Bioplacenton dan gel yang untuk mata aja..." jelas suster tersebut.
"Lah, emang kenapa kalau pergi nggak pakai bedak? Kan nggak masalah?" tanya saya semakin bingung.
"Nanti kan banyak bekas luka bakarnya hitam-hitam... Pasti bakal banyak yang tanya..." katanya sekali lagi mengungkapkan kebingungannya.
"Kalau ada yang tanya nanti saya tinggal bilang habis di-cauter..." kata saya enteng :D
Sang suster menatap saya takjub. Ternyata jawaban saya itu terdengar aneh baginya.
"Tenang aja suster... Di tempat saya acara nanti, nggak ada yang perduli seperti apa tampang saya... Mereka hanya peduli apa isi otak dan hati saya kog..." seloroh saya sambil tertawa.

Meskipun saya mengucapkan kalimat itu dengan bercanda, namun memang demikian adanya.
Di Paskibra 78, kami tidak terlalu mempedulikan kecantikan seseorang.
Yang penting penampilan kami pantas dan sopan, itu sudah cukup. Kami lebih mempedulikan karakter. 

Setelah tindakan cauter yang menyakitkan - meski telah dibubuhkan gel penghilang sakit - selesai, Dokter Maria menyampaikan pesan-pesan untuk merawat wajah saya.
Selama 3 hari saya tidak boleh mengenakan kosmetik apa pun. Tidak boleh membersihkan wajah dengan sabun muka. Wajah saya hanya boleh dibersihkan dengan menyiramnya dengan Aqua tanpa diusap, dan termasuk ketika berwudhu yang juga harus dilakukan dengan Aqua!
Luka di wajah harus dibubuhi Bioplacenton, sementara yang disekitar mata dibubuhi Gentamicin dua kali sehari, pagi dan malam hari.
Bekas luka bakar tidak boleh dikelupas hingga terkelupas sendiri.
Dan saya diminta datang untuk kontrol pada hari Kamis berikutnya.

Dari penuturan dan kecerewetan Dokter Maria saya belajar hal lain.
Saya belajar membedakan antara Dokter Spesialis Kulit yang melakukan pengobatan untuk penyakit kulit secara umum dengan Dokter Spesialis Kulit yang mengkhususkan diri untuk Kecantikan.
Dulu, saat melakukan cauter yang pertama, saya dibantu oleh Dokter Spesialis Kulit biasa, bukan yang khusus menangani Kecantikan.
Saran-saran medisnya sederhana - cocok dengan saya yang tidak pernah mau repot - dan saya tidak perlu datang untuk kontrol lagi kecuali bekas luka bakar saya terasa mengganggu lebih dari kewajaran.
Saya tidak diminta mencuci muka dengan air steril seperti Aqua, dan boleh mencuci wajah dengan sabun muka ketika dirasa bekas luka bakar akibat cauter tidak lagi terasa perih.
Jadi, saran-saran Dokter tersebut hanya semata-mata menghindari akibat medis.
Namun, karena Dokter Maria adalah Dokter Spesialis Kulit khusus Kecantikan, maka saran-saran medisnya juga berbeda.
Perawatan dan antisipasinya lebih luar biasa, karena prioritas utamanya bukan hanya sekedar menangani kulit yang bermasalah hingga masalahnya hilang, namun juga membuat pasiennya menjadi "Cantik".
Karena itulah saran-saran medisnya luar bisa, menjaga agar kulit yang sudah dilakukan tindakan tidak mengalami iritasi agar pulih dengan sempurna, sehingga tidak mengganggu secara estetika.

Dari Susternya saya belajar hal lain lagi.
Tentang "Nilai Kecantikan" bagi beberapa tipe orang bisa berbeda.
Selama ini, bagi saya, kecantikan itu merupakan rasa nyaman menjadi diri sendiri apa adanya asalkan sesuai dengan tempatnya. Tidak masalah jika kita tidak mengenakan make up di wajah selama kita nyaman dengan itu dan acara tersebut tidak mengharuskan kita mengenakan make up yang terkadang kita butuhkan untuk citra diri maupun perusahaan yang kita wakili.
Namun ternyata, bagi sebagian wanita, bepergian tanpa mengenakan bedak dan dengan wajah yang penuh bekas luka perawatan merupakan masalah yang tidak bisa dianggap sepele meskipun mereka hanya pergi ke rumah keluarga dekat saja.
Dari sang Suster saya juga mendapatkan informasi, bahwa perawatan wajah facial setidaknya perlu dilakukan 2-minggu sampai sebulan sekali. Katanya, untuk mencerahkan kulit wajah. Dan biayanya sekitar Rp 300.000,-. Besar kecilnya biaya ini tergantung masalah kulit wajahnya.

Setelah selesai melakukan perawatan kecantikan ekstra tersebut, tibalah saatnya saya membayar dokter, tindakan dan biaya obatnya. Saya diberikan antibiotik kapsul, salep Bioplacenton dan Gentamicin.
Semuanya menghabiskan biaya lebih dari Rp 600.000,-!

Bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan perawatan wajah ekstra, mungkin biaya ini wajar saja.
Tapi bagi saya yang asing dengan pengeluaran jenis ini, harga tersebut bagi saya sungguh luar biasa.
Bukan masalah nilai rupiahnya, karena saya cukup sering mengeluarkan biaya sebesar itu untuk dihabiskan di gramedia, dimana dengannya saya bisa membeli novel yang ditulis oleh pengarang kesukaan saya, membelikan novel dan berbagai eksiklopedi untuk Ifan, dan buku cerita bergambar untuk Fian.
Namun yang menjadi ganjalan bagi saya adalah nilai manfaatnya.
Jika kulit wajah saya memang bermasalah, lain lagi persoalannya. Saya tentu lebih mudah menerima besarnya biaya yang saya keluarkan karena tujuan perawatannya adalah "memberbaiki" penampilan yang memang sangat perlu diperbaiki. Namun, untuk kasus kulit saya saat ini dimana penumpukan lemak terjadi di daerah pipi, sesungguhnya saya tidak terlalu merasakan perbedaan sebelum dan sesudah tindakancauter karena memang masalah kulit kali ini tidak mengganggu secara langsung seperti dulu saat ada penumpukan lemak di bawah garis mata yang memang membuat pandangan saya terganggu.



Namun, dari kejadian ini saya juga belajar, bahwa terkadang ada harga yang tinggi yang harus dibayar baik untuk ketenangan hati orang yang kita cintai maupun untuk kita sendiri.


Ketika sampai di rumah, Ifan dan Fian kaget melihat wajah saya penuh bekas luka bakar.
"Bunda kenapa mukanya?" demikian mereka bertanya dengan nada suara khawatir.
Saya menjelaskan tentang tindakan cauter yang dilakukan oleh dokter, sebab dilakukan dan akibatnya.
Ifan menerima penjelasan tersebut tanpa bertanya lebih lanjut. Namun Fian yang memiliki sifat ingin tahu yang lebih tinggi mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah saya.
"Jangan Fian! Nanti bunda makin sakit mukanya!" seru Ifan sang pelindung seketika.
Sambil menatap saya lekat-lekat, Fian berkata,
"Bunda, mukanya jangan dibakar lagi ya... Nanti Fian nggak bisa pegang pipi Bunda kalau bilang sayang Bunda..."
Fian memang romantis. Setiap kali dia menyatakan sayang kepada saya, tangannya selalu ditangkupkan ke wajah saya :D
"Yang suruh cauter ke dokter ini Atin Cewek (panggilan mereka kepada Emak), Fian..." jelas saya ingin tahu reaksinya saat mendengar neneknya lah yang menyarankan tindakan yang mengakibatkan luka bakar di wajah saya :D
Fian terbelalak, lalu berkata tegas,
"Nanti Fian yang akan bilang sama Atin Cewek jangan suruh Bunda bakar mukanya lagi!"
Hehehehehe.....
Dari Ifan dan Fian, saya belajar bahwa karakter seseorang menentukan sikap mereka ketika membela orang yang dikasihi dan sejauh apa mereka bersedia bertindak tanpa diminta.
Ifan sang pelindung yang lembut hati, tidak banyak bertanya namun waspada terhadap serangan langsung yang berpotensi menyakiti orang yang disayanginya dengan bereaksi seketika saat Fian hendak menyentuh wajah saya yang penuh bekas luka bakar cauter.
Fian sang pembela yang lebih agresif, langsung mewawancarai saya untuk mengetahui masalahnya secara lebih jelas, kemudian dengan tegas mengambil tindakan yang menurutnya merupakan akar permasalahannya agar tidak terjadi lagi kejadian yang menyakiti saya :D

Pelajaran hidup yang saya dapatkan dari pengalaman ini tidak hanya sampai disini.
Pada hari Senin, 14 Oktober 2013 saya pergi ke Thamrin City berdua dengan suami saya untuk membeli beberapa keperluan. Ketika kami bertransaksi di sebuah toko, pemiliknya - seorang wanita yang cukup menarik dan terlihat berdandan - yang bertindak sebagai kasir berkomentar melihat bekas luka bakarCauter di wajah saya.
"Habis perawatan ya Kak?" tanyanya memulai percakapan ringan.
"Oh iya, abis di cauter..." jawab saya enteng.
"Kulitnya bagus banget deh Kak... Biasa perawatan rutin dimana?" tanya sang wanita pemilik toko terlihat jelas ingin tahu.
Saya sejenak tertegun, agak bingung harus menjawab bagaimana karena saya tidak melakukan perawatan wajah secara rutin, melainkan tergantung kesempatan dan kebutuhan saja yaitu baru 3 kali sepanjang usia saya.
"Waduh, kalau perawatan rutin saya nggak pernah mbak... Tapi kalau cauter ini saya lakukan di dokter kecantikan di klinik 24 jam dekat rumah saya..." jelas saya apa adanya.
"Ah, nggak mau ngasih tau ya... Tapi emang gitu sih biasanya... Kalau perempuan cantik itu nggak pernah mau kasih tahu pakai dokter yang mana untuk perawatan..." si wanita pemilik toko tersenyum maklum.
"Ha? Yang bener? Emang perempuan pada suka begitu?" tanya saya terperangah.
"Iya Kak... Supaya nggak ada yang menyaingi mungkin ya..." 
"Wah, tapi saya berani bilang Demi Allah lho kalau saya memang nggak pernah perawatan wajah rutin ke dokter..." 
Gantian sang wanita pemilik toko yang terperangah :D

Pelajaran hari itu yang saya dapatkan adalah mengenai lunturnya semangat untuk berbagi ilmu dan manfaat bagi sebagian orang di beberapa bidang tertentu.
Hingga saat saya menuliskan cerita ini, hal itu masih terasa cukup mengganggu bagi saya, yang terbiasa sejak kecil diajarkan betapa bahagianya jika kita berbagi manfaat, bersama-sama berlomba mencapai kebaikan, dan bukannya menghambat orang lain agar kita menjadi satu-satunya orang yang baik dan bermanfaat.

Yang cukup mengherankan bagi saya, dimanakah semua orang tipe tersebut berada selama ini?
Mengapa saya jarang bersilang jalan dengan mereka?
Namun demikian, saya masih ingat dengan jelas perkataan sepupu saya yang dokter kecantikan itu tentang alasan mengapa dia memilih menjadi dokter kecantikan dibandingkan dengan dokter bidang lain.
"Wanita itu dek, bersedia menderita dan membayar mahal meskipun hanya untuk menjadi cantik selama 1 jam saja... Apalagi untuk menjadi cantik dalam jangka waktu yang lama... Jadi kalau mau cari uang banyak, masuklah ke segmen wanita dan kecantikan..."

Selama ini saya merasa di sekeliling saya ada banyak sekali orang-orang yang senang berbagi ilmu dan manfaat. Dengan gratis pula... Paskibra 78, Natural Cooking Club, Group Millenial Learning Centre dan masih banyak lagi.
Namun jika mempercayai penuturan sang wanita pemilik toko dan sepupu saya itu, sepertinya orang tipe tidak senang berbagi dan bersedia menderita serta membayar mahal untuk cantik itu banyak mereka temui di sekeliling mereka. Hal ini paling mungkin terjadi karena mereka bekerja di bidang yang membuat mereka cukup sering bertemu dengan orang-orang seperti itu, orang-orang yang lebih memprioritaskan penampilan daripada karakter dan hati meskipun tidak berarti mereka mengabaikannya sepenuhnya karena mungkin menjadi cantik merupakan tuntutan di lingkungan mereka.

Satu lagi pelajaran yang bisa saya ambil kesimpulannya : Seleksi alam memang berlaku dalam kehidupan sosial seseorang.
Kelompok-kelompok memang terjadi akibat adanya kesamaan karakter, visi dan misi, prioritas hidup dan masih banyak lagi.
Jadi, jika kita ingin berada di lingkungan yang baik, saya rasa kuncinya adalah dengan selalu menjaga semangat menebar manfaat dan selalu berusaha memperbaiki diri sendiri...

Tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang berbagi kepada Mbak Ayu Magdina, Poppy Yuditya, Debby Cintya dan Dewi Damayanti. Untuk teman-teman lain yang membaca, semoga bermanfaat ya!

Jakarta, 2 November 2013
Yeni Suryasusanti

Jumat, 18 Oktober 2013

Ketika Fian Mulai Bernegosiasi dan Nilai Hidup Mulai Tertanam


Tadi malam, Debby Cintya lewat di depan rumah saya bertepatan dengan saat guru privat Ifan pulang diantar Fian ke teras. Kost Debby memang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami, yang hanya ditempati 2 minggu setiap 2 bulan sekali saat dia cuti dari tempatnya bekerja di Kalimantan.
Oleh Fian, Debby diminta untuk mampir masuk ke rumah tepat ketika saya baru saja masuk ke kamar mandi. Akibatnya, Debby "disandera" Fian disuruh menunggu saya.
Padahal saya kasih tau ya, saya itu menganggap waktu di kamar mandi sambil membaca buku sebagai salah satu "Me Time" saya yang paling berharga dan sungguh tidak tenang jika diburu-buru :p

Debby yang sudah mengetahui betapa berharganya "Me Time" saya itu (heheheh...) menyampaikan kepada Fian bahwa dia ingin langsung pulang karena sejak awal pun memang tidak ada rencana mampir, dan dari kamar mandi saya pun berusaha membujuk Fian dengan mengatakan bahwa saat itu sudah malam jadi tante Debby mau beristirahat.
Debby berpamitan di pintu kamar mandi, tapi ternyata Fian masih belum rela melepasnya pergi.
Kedekatan hati ini terjadi karena waktu dan perhatian yang diluangkan Debby bagi mereka sejak pertama kali saya diserahi tugas mendidiknya oleh Mentor Paskibra 78, sehingga Debby memang sudah seperti keluarga dekat saja bagi Ifan dan Fian.

Ternyata, bakat negosiasi bisa menurun tanpa diajari, hanya dengan menyerap kejadian sehari-hari :D
Karena saya tidak bersedia terburu-buru keluar dari kamar mandi, Debby terpaksa membujuk Fian agar mengizinkan dirinya pulang ke kost.
Pagi ini Debby bercerita kepada saya tentang kejadian tadi malam ketika saya sedang di kamar mandi.
Dengan gaya khasnya, Fian akhirnya mengizinkan Debby pulang namun berkata kepada Debby,
"Fian ikut ke kost tante Debby. Bentaaaaaar aja kog. Terus tante Debby pulangin Fian ke rumah, Fian kunci gembok, terus tante Debby pulang lagi..." :D

Kata Debby, cara Fian membargaining Debby dengan kalimat diatas menunjukkan skill planning dan negosiasi Fian :p

Kemudian, ketika sampai di kost Debby, Fian berkeliling kamar kost Debby, memegang hair dryer lalu menemukan bel / klakson berbentuk bola untuk sepeda dan terlihat tertarik dengan benda tersebut dan memainkannya.
Debby otomatis bertanya, "Fian mau klakson-nya?"

Daaannnn.....
"Jawabannya aja dong yang bikin salut... Salut ihh sama yang mendidik..." cerita Debby antusias kepada saya.

"Boleh, kalau tante Debby sudah tidak perlu lagi..." demikian jawaban Fian atas tawaran Debby :)

Jujur saya katakan, saya tidak mengajarkan secara khusus tentang tehnik negosiasi maupun jawaban Fian yang spektakuler untuk anak usia 5th 4bln itu :D
Kemungkinan besar Fian menyerap dari nilai-nilai yang terimplementasi pada kejadian sehari-hari.
Saya ingat dulu waktu Ifan dibelikan suling yang baru karena sulingnya agak retak, saat saya ingin memberikan suling lama kepada Fian, Ifan sempat sedikit kurang rela. Mungkin karena membayangkan Fian pasti akan berisik karena sudah punya suling sendiri sehingga tidak bisa dilarang meniup suling :D
Saat itu ada Fian disana, mendengar keberatan abangnya.
Saya berkata kepada Ifan, "Abang, kan sulingnya sudah nggak Ifan pakai lagi... Ifan sudah nggak perlu suling yang lama ini karena udah punya suling yang baru... Boleh dong suling lamanya dikasih ke Fian... Fian kan mau belajar suling juga... Nggak hanya suling, mainan dan buku juga gitu. Pokoknya, setiap Barang yang udah nggak Ifan gunakan lalu diberikan dan bermanfaat untuk untuk orang lain, itu akan lebih bagus daripada didiamkan nggak berguna... Mubazir lho..."

Demikian juga dengan makanan. Saya selalu mengajarkan kalau makanan ada yang berlebih, tolong jangan langsung di buang, tapi ditanyakan apakah ada mau, atau bisa memberitahu saya.
Sesekali Ifan atau Fian menawarkan makanan / minuman kepada saya, memang saya terkadang berkata, "Ifan / Fian udah nggak mau?" sebelum memutuskan memakannya.
Yah, mungkin inilah salah satu bentuk kasih seorang Ibu kepada anaknya, yang lebih rela tidak mendapatkan bagian jika sang anak masih ingin memakan bagiannya :D

Sepertinya hal itu menancap kuat di benak Fian sehingga terucap secara otomatis dalam percakapan :)

Saya terharu, takjub, bahagia...
Karena kami sungguh tidak pernah menargetkan "hasil" dari pendidikan karakter yang saya terapkan kepada Ifan dan Fian.
Kami hanya menanamkan nilai-nilai dasar yang baik semaksimal mungkin.
Terkadang dengan pengajaran lewat kata-kata dalam percakapan filosofis yang sesekali memang saya lakukan dengan Ifan dan Fian. Namun lebih banyak lagi lewat sikap dan tindakan atas kejadian normal sehari-hari.
Ternyata, hasilnya dahsyat ya...
Mungkin ini adalah hadiah dari Allah sebagai buah dari komitmen, kesabaran, keikhlasan dan ikhtiar yang tidak mengenal menyerah dari orang tua dalam menjalankan amanah dari Allah...

Alhamdulillah...

Jakarta, 18 Oktober 2013
Yeni Suryasusanti

Jumat, 11 Oktober 2013

15th Pernikahan Kami : Antara “Cantik”, “Menarik” dan “Biasa Saja”, Ketika Kita Bicara Tentang Wanita…

Bicara tentang wanita, jarang bisa terlepas dari “cermin”. Karena wanita memang katanya identik dengan “keindahan”.
Masalahnya, masing-masing pribadi memiliki seleranya sendiri atas “keindahan” tersebut. Meskipun tetap ada standar yang diberlakukan secara umum, namun standar tersebut pun biasanya berbeda antara setiap generasi.

Bicara tentang “keindahan”, umumnya orang menggolongkan wanita menjadi 3 golongan : “Cantik”, “Menarik” dan “Biasa Saja”.
Wanita “Cantik” biasanya adalah wanita yang memiliki wajah atau penampilan fisik yang langsung “menjerat” mata yang melihat. Untuk standar setiap masa bisa berbeda, dari Sophia Loren sampai Barbie :D
Wanita “Menarik” biasanya adalah wanita yang tidak memiliki kecantikan wajah seperti wanita “Cantik” sehingga terkadang hanya dilihat sepintas lalu oleh mata, tapi memiliki sesuatu entah apa pada penampilannya karena kemudian entah mengapa tiba-tiba dia membuat orang tersebut menoleh dan menatap dirinya ketika kali kedua.
Wanita “Biasa Saja” biasanya cenderung terlewatkan oleh mata.
Meskipun ada beberapa yang tega menyebut seorang wanita “Jelek”, saya pribadi menolak memasukkan kategori tersebut dalam penggolongan karena saya percaya ciptaan Allah itu adalah sempurna :)

Sejak saya masih kecil hingga remaja, kata “Cantik” tidak pernah diidentikkan dengan diri saya. Saya identik justru dengan “Mata Sipit” dan “Pipi Tembem” heheheh… 
Kakak saya, Yesi Surya Handayani adalah yang selalu disebut sebagai si “Cantik” dan si “Baik” dalam keluarga :p
Di masa kecil, menolak bermain boneka di rumah dan lebih memilih bermain kejar-kejaran atau layangan di lapangan atau di atas atap rumah kami membuat kulit saya menjadi hitam dan rambut saya pun terbakar sinar matahari :D


Di masa SMA, memilih menjadi anggota Paskibra SMA 78 juga berdampak sama :p
Ketika tidak menyibukkan diri dengan kegiatan di luar rumah, maka saya akan berkurung di kamar saya, menikmati membaca buku sambil mendengarkan lagu :D
Saat itu, saya bukanlah outgoing person seperti sekarang… Saya hanyalah seorang “kutu buku” yang sudah berkacamata sejak SMP kelas 2, sampai Paskibra 78 membuka dunia saya, menumbuhkan kecintaan saya pada organisasi dan kehidupan sosial…




Dibalik dinding yang saya buat di masa remaja, saya selalu mengagumi teman-teman SMA saya yang terlihat “Cantik”, yang biasanya berasal dari keluarga berada, dan mereka ke sekolah umumnya diantar atau bahkan menyetir mobil sendiri, seperti tontonan sinetron saja layaknya.
Sampai pernah ada seorang teman yang berkomentar sinis, “Lah, jelas aja cantik, anggaran ke salonnya aja gede banget… Enak ya jadi orang kaya, walaupun nggak cantik bisa kelihatan kinclong, jadi cowok gampang jatuh cinta pada pandangan pertama... Padahal, belum tentu baik kepribadiannya…”

Muncul pertanyaan dalam diri saya waktu itu.
Apakah cinta hanya mudah hinggap di wajah “Cantik” saja? Sementara untuk yang “Biasa Saja” meski suatu hari akan ada cinta namun tidak terjadi seketika?
Lalu bagaimana kita yang berpenampilan “Biasa Saja”? Nggak mungkin dong harus operasi plastik hanya untuk menarik perhatian lawan jenis?

Namun, meskipun saya melihat bahwa wanita “Cantik” memang lebih mudah menarik perhatian lawan jenisnya, lewat pengamatan yang cukup panjang, saya menarik kesimpulan bahwa untuk mempertahankan sebuah hubungan – entah itu hubungan persahabatan maupun hubungan cinta – wajah yang “Cantik” saja tidak pernah cukup.
Saya pribadi kurang percaya dengan kalimat “Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama” dan lebih percaya kalimat "Jatuh Suka Pada Pandangan Pertama" karena cinta itu bagi saya dalam sekali rasanya, tentunya diperdalam dengan proses juga, sehingga menurut saya rasanya sulit jika seketika hanya dengan memandang saja langsung kelas berat begitu perasaannya...
Akhirnya bagi saya, kata “Jatuh Suka” saya asosiasikan dengan wanita yang “Cantik” atau “Menarik”, namun kata “Jatuh Cinta” saya asosiasikan dengan “Karakter”.

Salah seorang teman saya di Facebook pernah berkata,
“Pria jatuh cinta karena mata, Wanita jatuh cinta karena hati.”

Jika memang benar demikian, maka dari lubuk hati yang paling dalam bisa saya ucapkan  Alhamdulillah… berarti suami saya jatuh cinta bukan pada “kecantikan” saya :)

Mengenang kembali semuanya, hal itu hampir bisa saya pastikan karena ketika kami pertama kali bertemu justru kami “berantem” gara-gara saya meminta dia pindah tempat duduk di Bis Kota karena ingin mendapatkan tempat di dekat jendela pada suatu hari ketika saya hendak menuju kampus hahahahah…..
Kali kedua bertemu pada hari yang sama di sore hari, kami kembali “berantem” di ruang Badan Perwakilan Mahasiswa STIE Perbanas Jakarta, dengan disaksikan oleh Ketua Umum BPM saya, kali ini karena dia menegur saya yang ketika itu menjabat Sekretaris 2 BPM karena tidak mengenalinya sebagai Komandan Menwa ketika kami berantem di Bis Kota :D
Lah, salah siapa juga nggak kenal secara saya mahasiswi baru, baru terpilih jadi BPM, sedangkan dia sudah jarang ke kampus karena sudah menjelang lulus :p
Pada saat yang sama pula, “berantem” itu semakin panjang ketika mengetahui bahwa kami ternyata masing-masing berada di organisasi yang “cukup sering berkonflik” karena perbedaan doktrin dasar :D

Jadi, kalau sampai dibilang suami saya “Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama” pada saya – dengan pertemuan pertama kami yang jelas penuh angkara – hal itu sudah jelas tidak mungkin kan? :p

Tulisan pendek ini saya sempatkan untuk tulis diantara sempitnya waktu saya kini karena saya ingin berbagi di Hari Anniversary Pernikahan kami yang ke 15th hari ini.
Bahwa dari kehidupan pernikahan kami selama 15 tahun ini, bisa saya pastikan, jika hanya mengandalkan wajah “Cantik” saja, jelas pernikahan sejati tidak akan pernah mampu bertahan…

Dengan tulisan ini saya ingin menghimbau para wanita yang merasa tidak memiliki “Kecantikan Secara Universal” untuk tidak merasa rendah diri dan dilanda kekhawatiran yang berlebihan.
Percayalah, wajah yang “Biasa Saja” bisa menjadi “Menarik” kog, dan hal itu bisa dilakukan bukan hanya dengan polesan make up semata.
Awalnya tentu dengan meningkatkan “Kecerdasan”, baik secara intelektual, emosional dan spiritual sehingga wanita bisa menjadi tempat bercerita yang sepadan dengan pasangannya.
Kemudian dengan menjaga “Kebersihan”, baik menjaga kebersihan fisik maupun kebersihan hati, sehingga pasangannya bisa merasa nyaman bersamanya.
Dan akhirnya dengan niat dan ikhtiar untuk selalu berusaha memperbaiki diri.




Dengan tulisan ini saya juga ingin menghimbau para pria agar tidak memilih pasangan dengan pertimbangan utama “Kecantikan” belaka.
Cukup banyak saya melihat “Pernikahan Impian” dimana sang pengantin merupakan “Pria Tampan” dan “Wanita Cantik” di tengah perjalanannya terguncang karena akhirnya sang suami jatuh cinta lagi dengan wanita yang kecantikannya jauh di bawah istrinya karena membuatnya lebih nyaman dalam komunikasi dan kebersamaan.

Wanita "Cantik" memang sangat mudah tertangkap oleh mata, dan mungkin tidak demikian halnya dengan wanita “Menarik”.
Namun, meski tidaklah semudah itu dia bisa teridentifikasi,
percayalah, wanita "Menarik" selalu bisa tertangkap oleh hati :)



Di Hari 15th Anniversary Pernikahan kami,
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 17 Agustus 2013

Ketika Bahasa Tidak Lagi Menjadi Identitas Bangsa...


Sejak Papa saya masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, untuk membiayai kuliahnya beliau bekerja di RRI Padang. Di instansi itulah Papa kemudian bertemu dengan Ibu saya.
Ketika itu Papa bertugas sebagai kepala penyiar, dan Ibu yang sedang menanti keluarnya SK gurunya mengisi waktu dengan menjadi penyiar honorer. Jabatan yang Papa pangku tentu mewajibkan penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan Papa dengan sungguh-sungguh mengajarkan kecintaan akan Bahasa Indonesia kepada kami semua.

Saya ingat dengan sangat jelas bagaimana Papa memotivasi kami semua - ketiga orang putrinya - mengenai pentingnya penguasaan atas Bahasa Indonesia.
"Selalu ada kemungkinan Papa dipindahkan ke kota lain dan kalian semua ikut pindah juga. Jadi, meskipun setiap daerah memiliki bahasa daerahnya sendiri, selama kalian menguasai Bahasa Indonesia dengan baik, maka kalian tidak akan terlalu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi," demikian Papa saya pernah berkata.

Saat itu kami tinggal di kota Pontianak - kami tinggal di sana sejak saya berusia 2 tahun - dan dalam pergaulan sehari-hari menggunakan Bahasa Melayu. Tapi Papa saya berkeras kami tidak boleh menggunakan Bahasa Melayu di dalam rumah, apalagi ketika kami sedang kumpul bersama di meja makan yang seringkali waktunya kami manfaatkan untuk mengobrol. Bahasa Melayu hanya boleh kami gunakan ketika kami bermain bersama teman-teman sebaya. Jika kami kebetulan harus berbicara dengan orang lain yang jauh lebih tua usianya, kami juga harus menggunakan Bahasa Indonesia.
Jadi sejak kecil saya memang telah terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia meskipun mungkin tidak selalu baku kata-katanya.

Pada saat saya kelas IV SD, Papa dimutasi ke Palembang. Wejangan Papa tentang penguasaan Bahasa Indonesia terbukti manfaatnya.
Komunikasi awal kami dengan teman-teman baru di lingkungan yang baru tidak mengalami hambatan. Namun demi kenyamanan bersosialisasi, kami juga mempelajari bahasa setempat, yaitu Bahasa Palembang yang digunakan sehari-hari dalam pergaulan, yang kata-katanya agak sedikit menyimpang dari Bahasa Indonesia.
Setiap pulang dari sekolah, saya dan kakak-kakak membandingkan perbendaharaan kata baru yang kami dapatkan. Dengan demikian Bahasa Palembang sebagai bahasa pergaulan pun dengan cepat kami kuasai.

Di tahun 1987, ketika itu saya duduk di kelas 2 SMP, Papa dimutasi lagi. Kali ini ke Jakarta.
Dibandingkan dengan pengalaman pindah kota sebelumnya, komunikasi di Jakarta paling mudah, karena mayoritas kata-kata dalam Bahasa Betawi bisa dikatakan tidak jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia. 
Sekali lagi, penguasaan Bahasa Indonesia membantu kami dalam berkomunikasi.

Berbeda dengan pendidikan di masa sekarang, kami baru mulai mempelajari Bahasa Inggris dari pelajaran sekolah ketika saya masuk SMP. Ketika SMA barulah saya mulai mengikuti kursus di LIA untuk lebih memperdalamnya. Namun secara sederhana, saya melatih penguasaan Bahasa Inggris saya dengan mendengarkan dan menyanyikan lagu barat sambil mencari arti liriknya, juga dengan menonton film barat sambil sesekali menirukan pengucapan kata-kata dari dialog film untuk membiasakan diri dengan percakapannya.
Papa saya sendiri memperdalam Bahasa Inggris di ILP dan tidak lama kemudian beliau ditugaskan mengikuti semacam seminar terkait Broadcasting di luar negeri.

Saya mengingat kata-kata Papa, dan menjadikannya pegangan dalam pendidikan berbahasa :
"Belajar Bahasa itu mudah. Kita hanya perlu punya keberanian untuk bertanya apa artinya dan berlatih mengucapkan kata-katanya. Memiliki kamus sebagai awalnya. Untuk menjadi mahir dalam waktu singkat, kita hanya perlu berada di lingkungan yang menggunakan bahasa yang sama."
Sedangkan kalau kata nenek saya, "Lancar mengaji karena diulang."

"Di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung," demikian pengajaran Papa saya.
Sesederhana itulah, sehingga saya tidak terlalu khawatir jika tidak menguasai Bahasa Inggris dengan sempurna karena saya memang orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. 
Saya memang mempelajari Bahasa Inggris yang disebut bahasa internasional. Tapi hanya sebagai bekal tambahan saja, untuk sedikit membantu komunikasi awal dengan orang asing yang berkunjung ke Indonesia jika mereka memerlukan. Menurut saya, orang asing yang datang ke Indonesia yang seharusnya belajar dengan keras agar menguasai Bahasa Indonesia, seperti saya dulu belajar menguasai Bahasa Palembang ketika pertama kali pindah ke sana.
Jika saya yang kemudian pindah ke Luar Negeri, maka tentu saya akan dengan sungguh-sungguh belajar bahasa mereka.
Kamus bahasa demikian banyak, dan belajar bahasa tidak seperti belajar bahasa pemograman komputer yang memerlukan pendidikan lama dan keahlian khusus untuk mempelajarinya. Kita hanya perlu niat dan keberanian untuk mencoba.
Jadi, sesekali Papa melatih kemampuan conversation saya dalam percakapan di rumah, dan saya juga punya beberapa teman bule hasil pergaulan di cafe demi memperlancar komunikasi verbal dan ketika awal bekerja sambil kuliah memiliki banyak rekan kerja asing karena saya bekerja di perusahaan joint venture dengan Australia.
Hingga saat ini pun terkadang dengan teman yang cukup menguasai Bahasa Inggris saya menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan, hanya untuk melatih conversation agar tetap lancar diucapkan.

Namun tetap saja, bahasa yang secara umum boleh digunakan di rumah kami adalah Bahasa Indonesia. Penggunaan kata gue sudah jelas akan menghasilkan pelototan mata Papa yang demikian terkenal :D

Setelah saya dewasa dan bisa menganalisa, barulah saya menyadari bahwa prinsip Papa untuk menomorsatukan penggunaan Bahasa Indonesia ketika kami masih belia ternyata memang tepat adanya.
Penggunaan Bahasa Indonesia yang mendekati baku dalam percakapan sehari-hari di rumah mempermudah saya ketika harus bertransformasi ke dalam bahasa tulisan.
Hobby membaca yang ditularkan Papa sejak kecil juga memperkaya kosa kata dan membentuk gaya bahasa tulisan saya pula.
Ketika membuat anggaran dasar dan berbagai proposal untuk kepentingan organisasi, pembuatan makalah, skripsi dan thesis untuk kepentingan kuliah, dan terutama dalam hal surat menyurat dan bahan presentasi ketika bekerja, penguasaan saya akan Bahasa Indonesia membuat saya hampir selalu memegang peranan yang cukup penting dan mendapat tugas memeriksa ejaan dan tata bahasa dari materi tertulis yang akan digunakan.

Semua ini bisa terjadi karena Papa, karena beliau menanamkan di hati saya bahwa "Bahasa Menunjukkan Bangsa".
Saya orang Indonesia dan tinggal di Indonesia pula, dengan demikian saya harus bangga berbahasa Indonesia. Meskipun hal ini tidak berarti saya menolak mempelajari bahasa asing karena memang saya juga mempelajarinya, namun saya harus memiliki penguasaan akan Bahasa Indonesia yang santun, baik dan benar diatas segala bahasa lain di dunia.

Namun kini pergeseran telah terjadi.
Generasi muda kita kebanyakan belajar Bahasa Inggris bahkan ketika mereka belum menguasai Bahasa Indonesia dengan baik. Yang kemudian terjadi, adalah meredupnya kebanggaan menguasai dan menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris dianggap lebih baik, lebih sexy, lebih gaul, hanya karena menjadi Bahasa Internasional. Bahkan dalam forum-forum resmi kenegaraan saya pernah mendengar Presiden berpidato dalam Bahasa Inggris.
Dulu di TVRI bahkan setiap hari ada pelajaran Bahasa Indonesia oleh Bp. Yus Badudu. Sekarang TV Swasta mendominasi, acara tersebut menjadi tenggelam. Atau ditiadakan?
Kemana perginya kebanggaan kita akan Bahasa Indonesia?

Waktu saya kecil, saya pernah bertanya kepada Papa mengapa Presiden Soeharto tidak pernah menggunakan Bahasa Inggris dan selalu membawa penerjemah di sisinya jika bertemu dengan perwakilan negara lain.
Apakah karena beliau hanya lulusan SR yang setingkat SD sehingga tidak bisa menguasai Bahasa Asing?
Saat itu Papa berkata, bahwa Papa yakin Presiden Soeharto bisa berbahasa Inggris. Apa sulitnya? Toh beliau tidak buta huruf, jadi pasti beliau bisa belajar bahasa. Hanya saja, karena kedudukan Presiden sebagai wakil bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, menuntut beliau menggunakan bahasa negaranya dalam komunikasi resmi di dunia internasional. 
Seperti rakyat Jepang dan Prancis di masa lalu yang memiliki kebanggaan dengan bahasa mereka, sehingga ketika berada di negara mereka sendiri menolak bercakap-cakap dengan orang asing dalam Bahasa Inggris meskipun mereka mungkin bisa.

Kemudian ditambah dengan pergeseran pengejaan kata dan bahasa akibat teknologi.
Teman-teman yang berusia terbilang muda - mungkin berusia sekitar 20-27 th - baik di kantor maupun di mailing list Natural Cooking Club yang saya ikuti saking terbiasanya dengan bahasa sms dan bbm terkadang terbawa menggunakan singkatan-singkatan yang tidak baku bahkan mencampurkan angka dengan huruf dalam menuliskan sebuah kata digunakan dalam email dan bahasa tulisan.
Hal ini cukup mengesalkan bagi saya, yang tidak terbiasa membacanya sehingga cukup menimbulkan sakit kepala :(
Kenapa juga harus menggunakan singkatan padahal hanya mengurangi 1 karakter saja?
Seperti kata "dan" ditulis mereka 'n padahal secara sederhana kalau memang tujuannya ingin mempersingkat bisa diganti dengan simbol &.
Kata "tempat" dijadikan t4, saya masih bisa mengerti jika kita memang buru-buru menyalin percakapan dalam rapat menjadi tulisan dalam notulensi. Tapi ketika menjadi sebuah email bahkan surat antar departemen? Ampun deh....

Pertanyaan yang seringkali melintas di otak saya, "Ada apa dengan generasi muda sekarang? Sementara saya masih berusaha terus memperbaiki Bahasa Indonesia saya terutama dalam hal bahasa tulisan dengan mencari website-website terkait Bahasa Indonesia seperti KBBI Online dan Artikata.com dan dengan lebih banyak membaca, mengapa mereka seperti tidak perduli dengan kesalahan ejaan dalam bahasa tulisan yang mereka buat sendiri dan tidak berusaha memperbaiki?"

Saya mencermati bahwa hasil pengajaran bahasa asing yang terlalu dini yang diperoleh berbeda antara orangtua yang jelas memiliki program dan ambisi dengan orangtua yang bergegas mengikuti hanya karena khawatir anak-anaknya ketinggalan trend atau tertinggal kepintarannya dengan anak-anak lain, tanpa menyadari bahwa hal itu beresiko menimbulkan terjadinya "kebingungan bahasa" pada anak, karena mereka bisa kebingungan memilih bahasa yang akan digunakan saat mengekspresikan perasaannya. Dalam kasus yang berat, hal ini menimbulkan rasa frustrasi hingga tekanan jiwa. Dari hasil diskusi dengan psikiater dan psikolog saat Ifan didiagnosa Delay Speech di usia 2th dulu, kasus kebingungan bahasa ini mulai banyak terjadi di Indonesia.

Saya mengamati teman-teman yang berusia sekitar 10th dibawah usia saya.
Mereka yang memiliki orangtua yang fokus mengenai bahasa ini akan sangat menguasai Bahasa Inggris baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Untuk Bahasa Indonesia, kemampuan mereka standar saja, bahkan terkadang kurang memadai dan mereka terlihat kurang nyaman ketika mereka menggunakannya. 
Hal ini mungkin terjadi karena orangtua mereka lebih menekankan penguasaan dalam Bahasa Inggris karena dianggap merupakan Bahasa Internasional sehingga dianggap "lebih penting dan lebih sulit dipelajari" dari pada "Bahasa Ibu" yaitu Bahasa Indonesia. 
Mungkin anak-anak itu juga disekolahkan di institusi yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya bahkan juga mengajak mereka bercakap-cakap dalam keseharian dalam 2 bahasa.
Di satu sisi membanggakan, melihat anak-anak Indonesia bisa bersaing di dunia internasional tanpa memerlukan seorang penerjemah di sisi mereka. Di sisi lain menyedihkan, ketika melihat anak-anak yang sukses tersebut bahkan terkadang terbata-bata mencari istilah dalam "Bahasa Ibu"-nya yang bisa digunakan untuk mengungkapkan maksud mereka.
Mereka lebih fasih menggunakan istilah-istilah dalam Bahasa Inggris, padahal mereka bukan Orang Inggris.

Ada juga anak-anak yang betul-betul menguasai kedua Bahasa : Indonesia dan Inggris. Bahkan mungkin lebih.
Namun biasanya mereka memiliki orangtua yang sangat konsisten dalam menerapkan peran pendamping bahasa.
Misalnya dengan Ibu mereka berbahasa Indonesia, dengan Ayah mereka berbahasa Inggris. Mereka inilah yang biasanya berhasil memasuki dunia internasional tanpa kehilangan identitas bangsanya.

Sementara anak-anak yang memiliki orangtua yang hanya sekadar bergegas mengikuti trend tanpa mempelajari efek samping dan bagaimana cara memotivasi untuk mendukung proses belajarnya, cenderung menghasilkan anak-anak yang setengah-setengah.
Anak-anak mereka tidak bisa dikatakan menguasai Bahasa Inggris dengan luar biasa, namun tidak juga menguasai Bahasa Indonesia dengan sempurna.
Mereka memiliki kemampuan dasar untuk tensesnya, memiliki vocabulary yang cukup, namun tidak memiliki keberanian untuk berbicara karena khawatir salah dan tidak bisa dipahami oleh lawan bicara jika kebetulan secara tidak sengaja mereka keluar dari tenses.
Padahal, kita tetap bisa berkomunikasi dengan orang asing meskipun tidak menggunakan tenses yang sempurna, cukup dengan bahasa TST (tahu sama tahu) yang mengungkapkan kata kunci dari sebuah kalimat saja maksud kita bisa dipahami oleh lawan bicara.

Anak-anak yang setengah-setengah ini dengan menyedihkan juga tidak menguasai Bahasa Indonesia, baik secara tata bahasa, maupun EYD-nya.
Ada seorang rekan kerja yang berpikir bahwa kata Bahasa Inggris Standard telah diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Standart. Padahal ejaan yang benar dalam Bahasa Indonesia Baku adalah Standar.
Pada akhirnya, anak-anak yang setengah-setengah ini menjadi beban bagi orang lain dalam interaksinya di dunia kerja.

Saya sendiri tidak selalu menggunakan penulisan Bahasa Indonesia Baku dan sempurna. Namun ketika hal tersebut terjadi, maka biasanya saya tetap menggunakan penulisan dalam bahasa asli dari kata tersebut, dan berusaha tidak menciptakan kata dan bahasa baru :D
Pun sesekali saya menuliskan ungkapan-ungkapan hati dalam Bahasa Inggris. Tapi hal itu tidak membuat saya berhenti untuk terus berusaha memperbaiki kemampuan saya dalam Berbahasa Indonesia, selama saya masih mampu menulis dan berbicara.

Jika masalah bahasa yang merupakan identitas bangsa ini tidak kita jadikan fokus di dunia pendidikan kita, pada akhirnya bisa jadi Bahasa Indonesia hanya menjadi bahasa dalam tata negara dan perundang-undangan saja.
Tidak ada lagi esensi dari Sumpah Pemuda yang pernah diucapkan pada tanggal 28 Oktober 1928. 
Tidak ada lagi generasi muda yang menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.
Dan ketika ungkapan "Bahasa Menunjukkan Bangsa" tidak bisa lagi bisa dijadikan pegangan karena Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi identitas orang yang berbangsa Indonesia, saat itulah saya akan berpikir, 
"Apakah benar Indonesia saat itu tetap menjadi negara yang berdaulat dan merdeka?" 
Karena ketika kita dijajah Jepang bahkan Belanda di kurun waktu yang lama saja, kita tidak menggunakan bahasa mereka dalam keseharian kita.
Namun mengapa disaat kita mengaku berdaulat dan merdeka, kita justru mengganti Bahasa yang kita gunakan sehari-hari yang merupakan identitas kita bahkan disaat kita tinggal di Indonesia dengan Bahasa Negara Inggris dan Amerika?

Saya bukanlah seorang pakar bahasa. Bukan pula seorang pakar pendidikan.
Tulisan ini tercipta karena kegalauan hati saya sebagai seorang anak bangsa, sebagai seorang rekan kerja, dan sebagai seorang Ibu menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia...

Jakarta, 17 Agustus 2013
Yeni Suryasusanti