Rabu, 25 Februari 2015

Ketika Fian Belajar Tentang Kehilangan :)

Tadi malam atas permintaan darurat saya, suami membeli pisang sunpride. Karena belinya di minimarket, pilihan tidak banyak. Akhirnya hanya membeli 3 buah saja yg matangnya sudah pas dan siap dimakan.
Saya sebut darurat, karena Ifan berkata BAB-nya nggak enak, meski belum terhitung diare. Pisang adalah buah alami yg bisa membantu menormalkan.

Yang sedikit itu memang lebih enak jadi rebutan dibandingkan jika membeli banyak :D
Suami saya makan satu, dan sepulang sekolah Ifan juga memakan satu.
Fian yang matanya mulai mengantuk menunggu waktu mengaji ba'da ashar melihat abangnya makan pisang, timbul keinginannya juga. Fian pun mengambil pisang yang tinggal satu tersebut, dan membukanya.
Mungkin karena mengantuk, pisang yg sudah dibuka kulitnya tergelincir dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Ifan segera menghalangi adiknya yang mau mengambil dan tetap memakan pisang tersebut.
"Jangan Fian, udah jatuh ke lantai, kotor, nanti Fian sakit perut!" larang Ifan.
"Tapi belum 5 menit, bangggg!" rengek Fian :D
Ifan tetap berkeras melarang, dan akhirnya Fian menangis.

Kejadian tersebut terjadi saat saya sedang di kamar mandi.
Mendengar tangisan Fian, saya bertanya pada Ifan ada apa. Ifan menjelaskan segalanya, Fian makin kencang tangisnya.
Antara geli dan iba, saya berkata pada Fian, "Kalau Fian mau berhenti menangis dulu, bunda akan keluar dan peluk Fian."

Setelah beberapa kali kalimat itu saya ucapkan, dengan usaha yg keras Fian mengendalikan tangisnya sejenak.

Metode ini memang saya gunakan untuk kejadian yang tidak gawat sejak dulu saya mendidik Ifan, karena saya ingin mereka terbiasa mengendalikan emosi sejak dini, dan tidak memanfaatkan tangisan utk meraih simpati. Meski jika sedih saat bercerita, mereka tetap boleh menangis kembali :)

Dengan Ifan dulu, sangat banyak moment saya untuk terlibat percakapan filosofis, karena memang Ifan bukan anak yang aktif secara fisik, tidak terlalu suka bermain dengan teman sebaya di lingkungan rumah. Menurut Ifan kata-kata mereka cenderung kasar dan tidak sopan :)
Dengan Fian, moment percakapan filosofis jarang terjadi, karena karakter Fian yang bertolak belakang dengan Ifan, dia suka bermain bersama anak-anak tetangga, dan dengan demikian memangkas waktunya bersama saya.

Saya pun memeluk Fian.
"Fian pengen makan pisang, Bun," airmatanya kembali mengalir.
"Tapi kan pisangnya tadi jatuh kena lantai."
"Kan belum 5 menit..."

(Duh ini efek pergaulan dgn teman-teman nih pastinya karena tidak ada istilah belum 5 menit dalam pengajaran saya :D)
"Kira-kira, kalau jatuh kena lantai walau belum 5 menit kumannya udah nempel di pisang belum ya?" tanya saya sambil tersenyum.
"Ya udah sih..." jawab Fian masih dengan berlinang airmata.
"Fian mau makan pisang yang udah ada kumannya? Silakan aja, nanti yg merasakan sakit perutnya juga Fian..." kata saya ringan sambil tetap tersenyum.
"Nggak mauuuu..." Tangis Fian :D
"Ya sudah, bagus kalo gitu..."
"Tapi Fian pengen pisang..."
"Pisang goreng mau? Ada pisang tanduk tuh nanti dibikinin," bujuk saya.
"Nggak mau, maunya pisang kayak tadiiii (sunpride)..."
"Ya sudah, sore ini kan memang bunda mau ke carrefour, nanti bunda beli ya..."

Fian masih juga menangis.

Memang sih, saya mengerti bagaimana kesalnya, pisang yang sudah di tangan dan hampir masuk ke mulut jatuh... Sakitnya tuh disiniiii *tunjuk tenggorokan :D

Akhirnya saya berkata sambil tetap memeluknya,
"Allah mau Fian belajar tentang kehilangan. Bagaimana sedihnya kehilangan sesuatu yang ada di genggaman. Karena semua itu punya Allah, Nak, dan Allah bisa mengambil nikmatnya kapan saja. Dalam hidup Fian nanti, bukan hanya pisang yang mungkin akan hilang. Banyak hal, sayang... Tapi percayalah Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Tidak harus sama persis, tapi pasti lebih baik menurut Allah. Sekarang Fian kehilangan pisang karena jatuh, tapi Insha Allah akan diganti dengan pisang lain lebih baik nanti sore bunda beli..."

Tangis Fian mulai reda, tinggal sesenggukan :)

"Ingat bunda pernah pernah cerita kalau bunda sedih waktu kakak Nada meninggal?" tanya saya sambil mengusap rambutnya.
Fian mengangguk.
"Allah juga mau bunda belajar tentang kehilangan. Tapi, Allah juga memberi ganti dengan kelahiran Fian. Meski Fian anak laki-laki bukan anak perempuan seperti kakak Nada, tapi Bunda bahagia Fian ada. Nah, begitu juga dgn pisang, nanti Allah beri gantinya untuk Fian lewat bunda."
"Tapi kalau di carrefour nggak ada gimana?"
"Kalau perlu, kita ke Total Buah. Bunda janji. Masih percaya janji bunda kan? Kalo bunda janji ke Fian nggak pernah ingkar kan?"
Fian mengangguk, masih sedikit sesenggukan.
"Sekarang tarik nafas panjang lalu hembuskan, biar nafasnya lega," pandu saya beberapa kali sambil mengusap sisa air matanya.

Akhirnya airmatanya berhenti mengalir, dan Fian pun mandi untuk kemudian berangkat ke mesjid untuk mengaji :)


*Ah, mungkin sekarang kau belum benar-benar memahami dalamnya percakapan ini Nak, tapi bunda berdoa semoga percakapan ini tertanam dihati. Sehingga jika suatu hari nanti kau mengalami kehilangan yang meremukkan hati, kau tetap bisa berprasangka baik kepada Allah dan menerima dengan ikhlas semua yang telah terjadi...

Jakarta, 25 Februari 2015
Yeni Suryasusanti


Catatan : Setelah tulisan ini dipublish di facebook, mendapat ilmu dari seorang teman yang meninggalkan comment :
Herry Hasibuan Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya di makan dan jangan dibiarkan untuk setan” Dalam riwayat yang lain dinyatakan, “sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.” (HR Muslim no. 2033 dan Ahmad 14218)

Alhamdulillah niat berbagi manfaat malah jadi mendapat manfaat, meskipun untuk kasus pisang dalam tulisan ini memang pisangnya sudah matang sekali sehingga mengakibatkan sulit dibersihkan kecuali dicuci air panas ya... Tapi dengan mengetahui hadist ini akan saya pikirkan bagaimana penerapan yg aman utk anak2 di masa datang :) 

Senin, 08 Desember 2014

Muffin Zeelandia ala Ibu Matre

Muffin selalu menjadi cemilan favorit untuk Ifan.
Setelah sekian lama menahan diri karena tidak tega melihat kelelahan saya akibat kesibukan saya bekerja di kantor, akhirnya malam ini, saat belajar menghadapi Ujian Akhir Semester,  Ifan minta dibuatkan Muffin Blueberry dan Chocochips sebagai teman belajar.

Biasanya saya membuat Muffin dgn Resep NCC, yg saya anggap sebagai resep Muffin paling enak, yg merupakan warisan dari Ruri (almh) moderator NCC. Al Fatihah untuk Ruri...
Namun karena terbiasa "prepare for the worst" hehehe.... Saya seringkali menyediakan stock tepung instant Muffin produksi Zeelandia, yang saya anggap lumayan enak jika permintaan mendadak sementara bahan dan waktu tidak cukup.

Muffin ini baru diminta dibuat pada pukul 20.00 WIB, dan jam 20.35 WIB sudah dihidangkan :)
Ini resep yang sudah sedikit saya modifikasi.
Dibuat dengan penuh cinta, dimakan saat masih hangat karena baru keluar dari oven... Hmmm...

Muffin Zeelandia ala Ibu Matre



Bahan :

500 gr tepung muffin zeelandia
4 telur (ukuran sedang)
200 gr minyak sayur
50 gr susu uht

Cara Membuat :
  1. Panaskan oven suhu maksimal (250 derajat)
  2. Kocok semua bahan dgn kecepatan rendah 5 menit saja (saya pakai K Beater yg utk buttercream, bukan pakai yg whisk)
  3. Masukkan ke cup setengah lebih sedikit saja krn mengembangnya cukup tinggi
  4. Beri isi atau topping sesuai selera
  5. Turunkan suhu oven jadi 200 derajat
  6. Masukkan cup  berisi adonan muffin
  7. Panggang selama 20 menit
  8. Test tusuk, jika masih ada adonan lengket tambahkan 10 menit tapi dgn suhu diturunkan jadi 180 derajat.

Hasil : 9 Cup seperti di photo

Jakarta, 8 Desember 2014
Yeni Suryasusanti

Rabu, 26 November 2014

Bola Nasi ala Ibu Matre :)

Bola Nasi ala Ibu Matre :)


Bahan:
2 centong nasi (dikira2 aja cukup utk 6 bola sebesar onde-onde)
2 siung bawang putih
1 butir bawang merah
Garam secukupnya
100 ml air kaldu
Lada secukupnya
Minyak goreng utk menumis

Bahan isi:
Nugget, goreng, potong kecil
Daging burger, goreng, potong kecil
Keju parut

Bahan Pelapis:
1 btr telur, dikocok lepas
Tepung panir secukupnya

Cara membuat:
  1. Haluskan bawang putih, bawang merah dan garam.
  2. Tumis bumbu halus sampai matang.
  3. Masukkan air kaldu dan lada, aduk rata, didihkan.
  4. Masukkan nasi, aduk2 sampai kaldu meresap.
  5. Matikan api, dinginkan.

Penyelesaian:
  1. Pipihkan nasi di tangan yg sudah dialas plastik.
  2. Letakkan bahan isi, boleh dipisah yg isi nugget + keju atau isi daging burger + keju, atau semua isi dicampur juga boleh :D
  3. Tutup bahan isi dgn nasi, jadikan bola dengan cara memadatkan nasi dgn plastik seperti kantung ekkado (hehehe kebayang nggak?).
  4. Celupkan ke kocokan telur, gulingkan ke tepung panir, simpan di kulkas.
  5. Pagi2 tinggal di goreng deh....

Catatan:
  • Air kaldu bisa diganti dgn susu atau whipped cream, tergantung selera.
  • Keju parut bisa diganti dgn potongan keju mozarella utk hasil lebih asyik
  • Isi bisa disesuaikan dgn selera atau leftover di dapur
  •  Dimakan dgn cocolan saus sambel enak, pakai saus keju juga mantap

Jakarta, 26 November 2014
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 27 September 2014

Tentang Seorang "Ayah"...


Tugas seorang ayah
Bukan hanya memberi titah
Namun juga memberi kuliah
Tanpa itu, bisa jadi beliau akan dibantah

Tugas seorang ayah
Bukan hanya sebagai pemberi arah
Namun juga sebagai penengah
Demi tercapainya islah

Seorang ayah
Meskipun beliau pemegang amanah
Tetap hanyalah makhluk Allah
Yang tidak luput dari salah

Jadi jangan menjerumuskan para ayah
Dengan mengikuti titahnya yang salah
Karena kelak di hadapan Allah
Beliau harus bertanggungjawab atas segala ulah

Bagi rakyatnya, pemimpin ibarat seorang ayah
Meskipun tak memiliki hubungan darah
Dan untuk menjadi seorang pemimpin yang amanah
Baru bisa dilakukan jika tujuannya adalah ibadah

Ketika kebijakan dan keputusan pemimpin menjadi masalah
Pastikan bahwa hal itu bukanlah fitnah
Lalu ingatkanlah, terutama ketika masalahnya terkait akidah
Karena kemampuan introspeksi diri memang harus selalu diasah

Menjadi seorang pemimpin, memang terkadang serba salah
Namun tak pernah ada yg menjanjikan bahwa menjadi pemimpin itu mudah
Ingatlah, bahwa pemimpin yang baik tidak membuat rakyatnya menjadi terpecah-belah
Apalagi sampai bermusuhan akibat menang dan kalah

Ya Allah,
Kepada-Mu kami titipkan para "ayah"
Semoga mereka tetap setia menjaga amanah
Hingga kami bisa lebih sering mengucapkan "Masya Allah" dan "Alhamdulillah"
Ketimbang mengucapkan "Astaghfirullah" dan "Na'udzubillah"...

Jakarta, 27 September 2014
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 20 September 2014

Trending Topic : Ibu Rumah Tangga vs Ibu Bekerja



Dalam agama Islam, idealnya, status terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang wanita yang telah menikah memang sebagai Ibu Rumah Tangga. Rumah tangga Rasulullah mencontohkannya. Namun demikian, di dunia yang tidak sempurna ini, tidak semua wanita beruntung bisa memilih status yang ideal itu.



Di keluarga muslim, saya melihat, kondisi tidak ideal ini bisa disebabkan beberapa hal :

Pertama, karena niat suci demi kemaslahatan umat ketika memilih menjalankan profesi yang memang lebih baik atau bahkan harus dipegang oleh seorang wanita. Contohnya, profesi Guru, Perawat dan Dokter Kandungan. 

Kedua, karena pergeseran nilai budaya yang dipengaruhi budaya barat sehingga mengakibatkan para pria masa kini sudah terlanjur merasa "nyaman" dan dengan senang hati "mengambil keuntungan" dari kesetaraan gender sehingga menganggap mencari nafkah bagi keluarga adalah tanggung jawab bersama suami istri.

Ketiga, karena belum terlalu kuatnya iman suami, istri, atau keduanya sehingga belum sampai di titik berani "pasrah" dan tawakkal dengan janji Allah bahwa rizki itu Allah yang mengatur dan seringkali tidak masuk logika manusia perhitungannya, berbeda dengan cara perhitungan kita yang masih menggunakan "matematika ala manusia".

Keempat, karena kondisi memaksa demikian, misalnya karena suami sakit dan tidak bisa mencari nafkah.

Kelima, karena nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan oleh orangtua dan lingkungan akibat pergeseran budaya seperti pada point ketiga.

Dan mungkin masih banyak alasan lain yang tidak terpikirkan oleh saya.

Jujur, saya rasa saya memilih menjadi Ibu Bekerja karena alasan yang ketiga dan kelima :)

Umumnya wanita adalah seorang problem solver yang akan bertindak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dan indahnya dalam Agama Islam, semua perbuatan wanita itu menjadi tanggung jawab suaminya :D
Ketika melihat ada seorang wanita yang sudah menikah dan bekerja maka - daripada menyerang sang wanita hehehe - cobalah kita bertanya kepada suaminya yang menjadi penanggung jawab atasnya : mengapa dia mengizinkan (atau bahkan menyuruh? :p) istrinya bekerja dan bukannya menempatkan wanita pada fitrahnya yaitu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya?

Dan ketika mendengar jawabannya, cobalah untuk tidak berperan sebagai hakim dengan mengatakan bahwa keputusannya benar atau salah, karena kita tidak persis berada dalam situasi dan kondisi yang menyebabkan mereka memutuskan demikian.

Bagaimanapun juga kita tidak bisa - dan seharusnya tidak boleh - mengukur kenyamanan atau ketidaknyaman yang orang lain rasakan berdasarkan kepribadian kita sendiri. Nilai-nilai yang diserap oleh kita dari pendidikan orangtua, agama, keluarga dan lingkungan sedikit banyak pasti membuat masing-masing dari kita memiliki bakat dan karakter yang khas. Berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi, menurut saya adalah penting untuk memegang kunci suksesnya :D

Kunci sebuah kesuksesan dalam mendidik anak adalah hati yang ikhlas dan tenang disamping ilmu.

Seorang ibu yang bekerja dengan hati yang tidak tenang biasanya akan mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anaknya. Anak akan menangis menjerit-jerit ketika ditinggal berangkat kerja, atau bertingkah tidak baik karena ingin menarik perhatian penuh saat ibunya berada di rumah. Sementara itu, karena pilihan yang dibuat olehnya, pekerjaan di kantor juga menuntut perhatian. Akibatnya, saat berada di kantor sang Ibu selalu terpikirkan anak-anaknya sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan bekerja maksimal, sementara ketika berada di rumah sang Ibu malah memikirkan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Ini adalah salah satu tanda bahwa dia adalah tipe wanita yg sebenarnya lebih cocok menjadi Ibu Rumah Tangga :D

Sebaliknya, demikian juga dengan seorang Ibu Rumah Tangga yang berada di rumah tetapi hatinya berada di luar rumah karena di dalam hati kecilnya dia belum ikhlas memusatkan dunia pada keluarga. Akhirnya hanya status saja yang Ibu Rumah Tangga, tapi dia lebih sering keluar bersama teman-teman atau ketika dia di rumah gadget selalu berada di tangan sehingga tak jarang dia malah jadi mengabaikan kehadiran anak-anaknya.
Nah, ini adalah salah satu tanda bahwa dia sebenarnya lebih cocok menjadi Ibu Bekerja :D

Kalau sudah begini, ya tentu tidak akan nyaman bagi semuanya. Tapi coba tukarkan peran mereka berdua, mungkin akan lebih baik hasilnya :)

Mengutip comment teman saya Ratna Natyas' Kitchen di status Facebook saya sebelumnya, "Dan surga tetap di telapak kaki ibu, tidak hanya untuk ibu yang berkerja atau ibu yang tidak berkerja." :)

Profesi Ibu Rumah Tangga adalah profesi yang mulia. Saya rasa setiap umat Islam yang mencoba menjalankan Islam secara kaffah akan setuju dengan hal ini.

Namun demikian, biarlah Allah yang menentukan siapa-siapa dari kita yang memang nantinya mendapatkan kemulian. Karena tugas kita sebagai seorang manusia khususnya seorang Ibu hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjalankan tugas kita mendidik anak dan mendukung suami dengan penuh keikhlasan. Apakah bentuk dukungan kita kepada suami adalah dengan menjadi Ibu Rumah Tangga ataupun Ibu Bekerja, sesuai keadaan dan pilihan kita masing-masing itu adalah yang terbaik atau bukan, biarlah hanya Allah yang menilai dan menentukan.

Saya memilih untuk tidak memperdebatkan siapa yang lebih mulia, dan menyikapi perbedaan pilihan ini secara sederhana : Dengan menjadikan segalanya sebagai ibadah, mengerjakan apa yang kita cintai, mencintai apa yang kita kerjakan, dan menjadi professional sesuai dengan pilihan kita entah sebagai Ibu Rumah Tangga, ataupun sebagai Ibu Bekerja yang tentu tetap tidak abai terhadap keluarga, baik terhadap pengurusan, perkembangan dan kebutuhan suami serta anak-anaknya...

Bagaimana dengan anda?

Jakarta, 20 September 2014
Yeni Suryasusanti