Senin, 08 Desember 2014

Muffin Zeelandia ala Ibu Matre

Muffin selalu menjadi cemilan favorit untuk Ifan.
Setelah sekian lama menahan diri karena tidak tega melihat kelelahan saya akibat kesibukan saya bekerja di kantor, akhirnya malam ini, saat belajar menghadapi Ujian Akhir Semester,  Ifan minta dibuatkan Muffin Blueberry dan Chocochips sebagai teman belajar.

Biasanya saya membuat Muffin dgn Resep NCC, yg saya anggap sebagai resep Muffin paling enak, yg merupakan warisan dari Ruri (almh) moderator NCC. Al Fatihah untuk Ruri...
Namun karena terbiasa "prepare for the worst" hehehe.... Saya seringkali menyediakan stock tepung instant Muffin produksi Zeelandia, yang saya anggap lumayan enak jika permintaan mendadak sementara bahan dan waktu tidak cukup.

Muffin ini baru diminta dibuat pada pukul 20.00 WIB, dan jam 20.35 WIB sudah dihidangkan :)
Ini resep yang sudah sedikit saya modifikasi.
Dibuat dengan penuh cinta, dimakan saat masih hangat karena baru keluar dari oven... Hmmm...

Muffin Zeelandia ala Ibu Matre



Bahan :

500 gr tepung muffin zeelandia
4 telur (ukuran sedang)
200 gr minyak sayur
50 gr susu uht

Cara Membuat :
  1. Panaskan oven suhu maksimal (250 derajat)
  2. Kocok semua bahan dgn kecepatan rendah 5 menit saja (saya pakai K Beater yg utk buttercream, bukan pakai yg whisk)
  3. Masukkan ke cup setengah lebih sedikit saja krn mengembangnya cukup tinggi
  4. Beri isi atau topping sesuai selera
  5. Turunkan suhu oven jadi 200 derajat
  6. Masukkan cup  berisi adonan muffin
  7. Panggang selama 20 menit
  8. Test tusuk, jika masih ada adonan lengket tambahkan 10 menit tapi dgn suhu diturunkan jadi 180 derajat.

Hasil : 9 Cup seperti di photo

Jakarta, 8 Desember 2014
Yeni Suryasusanti

Rabu, 26 November 2014

Bola Nasi ala Ibu Matre :)

Bola Nasi ala Ibu Matre :)


Bahan:
2 centong nasi (dikira2 aja cukup utk 6 bola sebesar onde-onde)
2 siung bawang putih
1 butir bawang merah
Garam secukupnya
100 ml air kaldu
Lada secukupnya
Minyak goreng utk menumis

Bahan isi:
Nugget, goreng, potong kecil
Daging burger, goreng, potong kecil
Keju parut

Bahan Pelapis:
1 btr telur, dikocok lepas
Tepung panir secukupnya

Cara membuat:
  1. Haluskan bawang putih, bawang merah dan garam.
  2. Tumis bumbu halus sampai matang.
  3. Masukkan air kaldu dan lada, aduk rata, didihkan.
  4. Masukkan nasi, aduk2 sampai kaldu meresap.
  5. Matikan api, dinginkan.

Penyelesaian:
  1. Pipihkan nasi di tangan yg sudah dialas plastik.
  2. Letakkan bahan isi, boleh dipisah yg isi nugget + keju atau isi daging burger + keju, atau semua isi dicampur juga boleh :D
  3. Tutup bahan isi dgn nasi, jadikan bola dengan cara memadatkan nasi dgn plastik seperti kantung ekkado (hehehe kebayang nggak?).
  4. Celupkan ke kocokan telur, gulingkan ke tepung panir, simpan di kulkas.
  5. Pagi2 tinggal di goreng deh....

Catatan:
  • Air kaldu bisa diganti dgn susu atau whipped cream, tergantung selera.
  • Keju parut bisa diganti dgn potongan keju mozarella utk hasil lebih asyik
  • Isi bisa disesuaikan dgn selera atau leftover di dapur
  •  Dimakan dgn cocolan saus sambel enak, pakai saus keju juga mantap

Jakarta, 26 November 2014
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 27 September 2014

Tentang Seorang "Ayah"...


Tugas seorang ayah
Bukan hanya memberi titah
Namun juga memberi kuliah
Tanpa itu, bisa jadi beliau akan dibantah

Tugas seorang ayah
Bukan hanya sebagai pemberi arah
Namun juga sebagai penengah
Demi tercapainya islah

Seorang ayah
Meskipun beliau pemegang amanah
Tetap hanyalah makhluk Allah
Yang tidak luput dari salah

Jadi jangan menjerumuskan para ayah
Dengan mengikuti titahnya yang salah
Karena kelak di hadapan Allah
Beliau harus bertanggungjawab atas segala ulah

Bagi rakyatnya, pemimpin ibarat seorang ayah
Meskipun tak memiliki hubungan darah
Dan untuk menjadi seorang pemimpin yang amanah
Baru bisa dilakukan jika tujuannya adalah ibadah

Ketika kebijakan dan keputusan pemimpin menjadi masalah
Pastikan bahwa hal itu bukanlah fitnah
Lalu ingatkanlah, terutama ketika masalahnya terkait akidah
Karena kemampuan introspeksi diri memang harus selalu diasah

Menjadi seorang pemimpin, memang terkadang serba salah
Namun tak pernah ada yg menjanjikan bahwa menjadi pemimpin itu mudah
Ingatlah, bahwa pemimpin yang baik tidak membuat rakyatnya menjadi terpecah-belah
Apalagi sampai bermusuhan akibat menang dan kalah

Ya Allah,
Kepada-Mu kami titipkan para "ayah"
Semoga mereka tetap setia menjaga amanah
Hingga kami bisa lebih sering mengucapkan "Masya Allah" dan "Alhamdulillah"
Ketimbang mengucapkan "Astaghfirullah" dan "Na'udzubillah"...

Jakarta, 27 September 2014
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 20 September 2014

Trending Topic : Ibu Rumah Tangga vs Ibu Bekerja



Dalam agama Islam, idealnya, status terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang wanita yang telah menikah memang sebagai Ibu Rumah Tangga. Rumah tangga Rasulullah mencontohkannya. Namun demikian, di dunia yang tidak sempurna ini, tidak semua wanita beruntung bisa memilih status yang ideal itu.



Di keluarga muslim, saya melihat, kondisi tidak ideal ini bisa disebabkan beberapa hal :

Pertama, karena niat suci demi kemaslahatan umat ketika memilih menjalankan profesi yang memang lebih baik atau bahkan harus dipegang oleh seorang wanita. Contohnya, profesi Guru, Perawat dan Dokter Kandungan. 

Kedua, karena pergeseran nilai budaya yang dipengaruhi budaya barat sehingga mengakibatkan para pria masa kini sudah terlanjur merasa "nyaman" dan dengan senang hati "mengambil keuntungan" dari kesetaraan gender sehingga menganggap mencari nafkah bagi keluarga adalah tanggung jawab bersama suami istri.

Ketiga, karena belum terlalu kuatnya iman suami, istri, atau keduanya sehingga belum sampai di titik berani "pasrah" dan tawakkal dengan janji Allah bahwa rizki itu Allah yang mengatur dan seringkali tidak masuk logika manusia perhitungannya, berbeda dengan cara perhitungan kita yang masih menggunakan "matematika ala manusia".

Keempat, karena kondisi memaksa demikian, misalnya karena suami sakit dan tidak bisa mencari nafkah.

Kelima, karena nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan oleh orangtua dan lingkungan akibat pergeseran budaya seperti pada point ketiga.

Dan mungkin masih banyak alasan lain yang tidak terpikirkan oleh saya.

Jujur, saya rasa saya memilih menjadi Ibu Bekerja karena alasan yang ketiga dan kelima :)

Umumnya wanita adalah seorang problem solver yang akan bertindak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dan indahnya dalam Agama Islam, semua perbuatan wanita itu menjadi tanggung jawab suaminya :D
Ketika melihat ada seorang wanita yang sudah menikah dan bekerja maka - daripada menyerang sang wanita hehehe - cobalah kita bertanya kepada suaminya yang menjadi penanggung jawab atasnya : mengapa dia mengizinkan (atau bahkan menyuruh? :p) istrinya bekerja dan bukannya menempatkan wanita pada fitrahnya yaitu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya?

Dan ketika mendengar jawabannya, cobalah untuk tidak berperan sebagai hakim dengan mengatakan bahwa keputusannya benar atau salah, karena kita tidak persis berada dalam situasi dan kondisi yang menyebabkan mereka memutuskan demikian.

Bagaimanapun juga kita tidak bisa - dan seharusnya tidak boleh - mengukur kenyamanan atau ketidaknyaman yang orang lain rasakan berdasarkan kepribadian kita sendiri. Nilai-nilai yang diserap oleh kita dari pendidikan orangtua, agama, keluarga dan lingkungan sedikit banyak pasti membuat masing-masing dari kita memiliki bakat dan karakter yang khas. Berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi, menurut saya adalah penting untuk memegang kunci suksesnya :D

Kunci sebuah kesuksesan dalam mendidik anak adalah hati yang ikhlas dan tenang disamping ilmu.

Seorang ibu yang bekerja dengan hati yang tidak tenang biasanya akan mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anaknya. Anak akan menangis menjerit-jerit ketika ditinggal berangkat kerja, atau bertingkah tidak baik karena ingin menarik perhatian penuh saat ibunya berada di rumah. Sementara itu, karena pilihan yang dibuat olehnya, pekerjaan di kantor juga menuntut perhatian. Akibatnya, saat berada di kantor sang Ibu selalu terpikirkan anak-anaknya sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan bekerja maksimal, sementara ketika berada di rumah sang Ibu malah memikirkan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Ini adalah salah satu tanda bahwa dia adalah tipe wanita yg sebenarnya lebih cocok menjadi Ibu Rumah Tangga :D

Sebaliknya, demikian juga dengan seorang Ibu Rumah Tangga yang berada di rumah tetapi hatinya berada di luar rumah karena di dalam hati kecilnya dia belum ikhlas memusatkan dunia pada keluarga. Akhirnya hanya status saja yang Ibu Rumah Tangga, tapi dia lebih sering keluar bersama teman-teman atau ketika dia di rumah gadget selalu berada di tangan sehingga tak jarang dia malah jadi mengabaikan kehadiran anak-anaknya.
Nah, ini adalah salah satu tanda bahwa dia sebenarnya lebih cocok menjadi Ibu Bekerja :D

Kalau sudah begini, ya tentu tidak akan nyaman bagi semuanya. Tapi coba tukarkan peran mereka berdua, mungkin akan lebih baik hasilnya :)

Mengutip comment teman saya Ratna Natyas' Kitchen di status Facebook saya sebelumnya, "Dan surga tetap di telapak kaki ibu, tidak hanya untuk ibu yang berkerja atau ibu yang tidak berkerja." :)

Profesi Ibu Rumah Tangga adalah profesi yang mulia. Saya rasa setiap umat Islam yang mencoba menjalankan Islam secara kaffah akan setuju dengan hal ini.

Namun demikian, biarlah Allah yang menentukan siapa-siapa dari kita yang memang nantinya mendapatkan kemulian. Karena tugas kita sebagai seorang manusia khususnya seorang Ibu hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjalankan tugas kita mendidik anak dan mendukung suami dengan penuh keikhlasan. Apakah bentuk dukungan kita kepada suami adalah dengan menjadi Ibu Rumah Tangga ataupun Ibu Bekerja, sesuai keadaan dan pilihan kita masing-masing itu adalah yang terbaik atau bukan, biarlah hanya Allah yang menilai dan menentukan.

Saya memilih untuk tidak memperdebatkan siapa yang lebih mulia, dan menyikapi perbedaan pilihan ini secara sederhana : Dengan menjadikan segalanya sebagai ibadah, mengerjakan apa yang kita cintai, mencintai apa yang kita kerjakan, dan menjadi professional sesuai dengan pilihan kita entah sebagai Ibu Rumah Tangga, ataupun sebagai Ibu Bekerja yang tentu tetap tidak abai terhadap keluarga, baik terhadap pengurusan, perkembangan dan kebutuhan suami serta anak-anaknya...

Bagaimana dengan anda?

Jakarta, 20 September 2014
Yeni Suryasusanti

Minggu, 24 Agustus 2014

Adzan Bagi Saya = Hidayah Yang Harus Segera "Ditangkap"


Mungkin tulisan ini pendek saja, karena awalnya saya hanya sekadar ingin membuat status darinya. Tapi lalu terpikirkan sungguh sayang jika tulisan yang saya buat terutama untuk mengingatkan diri sendiri ini hilang dalam timbunan status-status harian saya :)

Saya termasuk orang yang sering "keasyikan" jika sedang mengerjakan sesuatu, cenderung mudah menjadi lupa waktu.
Karena itu - terutama ketika berada di kantor dimana pekerjaan seperti tidak ada usainya - cukup sering saya baru teringat untuk mengerjakan shalat ketika adzan sudah cukup lama berlalu :(

Belum lama ini, tepatnya ketika bulan ramadhan, saya menginstall aplikasi adzan dan kiblat di hp android saya. Dan aplikasi ini sungguh mempermudah saya. Dimanapun saya berada, saya bisa mengetahui kapan tepatnya waktu shalat tiba sekaligus tidak perlu bertanya-tanya kemana arah kiblat yang tepat. Tentunya hal ini berlaku selama signal Telkomsel / Wifi bagus diterima oleh hp saya.

Aplikasi ini juga berguna menyentakkan diri saya dari keasyikan bekerja. Minimal, saat mendengar adzan berkumandang dari hp saya, ada rasa bersalah ketika saya tidak segera bangkit dan berwudhu.
Meskipun demikian, janji syaitan memang terus berlaku untuk menggoda manusia, sehingga terkadang masih juga saya mengabaikan adzan tersebut dengan alasan "tanggung, sebentar lagi selesai". Padahal, berdasarkan pengalaman, seringkali di tengah satu pekerjaan yang sedang saya kerjakan, sudah muncul pekerjaan lain yang menanti untuk saya kerjakan. Godaan ini tidak hanya muncul ketika di kantor, namun juga di rumah :D

Siang ini, ketika mendengar adzan dari hp saya, saya mencoba tidak menggubris godaan syaitan yang membisikkan kata " tanggung" dan langsung beranjak untuk berwudhu.
Setelah shalat, saya tiba-tiba berpikir bahwa fenomena adzan dan shalat tepat waktu ini nyaris sama persis dengan hidayah yang saya dapatkan ketika saya memutuskan untuk menutup aurat saya.
Dulu, saat hidayah untuk menutup aurat pertama kali datang kepada saya, saya sempat menunda dengan alasan "belum siap", memilih memperbaiki sikap terlebih dahulu sembari mulai membeli baju-baju yang bisa menutup aurat saya. Ternyata, hasilnya nol besar. Alhamdulillah 6 bulan kemudian hidayah untuk menutup aurat kembali datang, dan kali itu hidayah tersebut saya tangkap tanpa menunda lagi.

Siang ini, saya merasakan hal yang serupa, bahwa jika saya ingin memperbaiki shalat saya menjadi di awal waktu, maka saya harus segera bergerak untuk berwudhu ketika adzan berkumandang, tanpa menunda. Karena jika saya menunda sebentar saja, maka saya akan kembali ke pola lama : shalat di tengah bahkan di akhir waktu.

Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa bagi saya adzan itu seperti hidayah dari Allah : harus segera ditangkap. Karena jika tidak, maka dia akan seperti hidayah, hilang dari hidup kita dan belum tentu datang kembali.

Allahumma a'inni 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatika...

Jakarta, 24 Agustus 2014