Senin, 31 Januari 2011

Ifan dan Adik

Alhamdulillah, selama ini saya belum pernah mengalami Ifan cemburu pada adiknya.
Saat Ifan berusia 3 th, suami dan saya mempunyai keinginan untuk memberi Ifan seorang adik. Sebelum terjadi kehamilan, kami berkonsultasi dengan psikiater anak di RSAB Harapan Kita Jakarta tentang penanganan sang kakak agar tidak terjadi kecemburuan yang terkadang bisa mengakibatkan bencana.

Dari konsultasi dengan Dr. Gita kami mendapatkan beberapa saran yang baik, yang menurut saya akan bermanfaat jika saya share di sini...
Pertama, jangan memisahkan kamar anak setelah terjadi kelahiran adik. Jika ingin si kakak tidur sendiri, lakukan prosesnya sebelum kelahiran agar si kakak tidak merasa "terusir".
Kedua, libatkan si kakak dalam proses pengurusan adiknya, termasuk dalam proses menyusui. Dalam hal Ifan, moment ini saya gunakan untuk menjelaskan kepada Ifan bahwa saat Ifan kecil dan belum bisa apa-apa, Ifan pun diperlakukan sama. Dan bahwa bayi yang masih belum bisa apa-apa sangat tergantung dengan bantuan dari orang dewasa yang ada disekelilingnya.
Ketiga, saya harus bisa menahan diri untuk tidak menghabiskan waktu dengan adik bayi saja, tapi harus tetap membagi waktu dan perhatian saya dengan adil.

Sejak saya hamil Nada, keterikatan Ifan dan adiknya sudah terlihat. Setiap akan tidur, Ifan selalu mencium perut saya, mencium adiknya. Setiap kali Ifan mencium, si adik pun menendang dari dalam perut saya.
Saat saya mengalami kontraksi jelang melahirkan, Ifan lah yg menuntun tangan saya, berjalan bolak balik di sepanjang kamar dan ruang keluarga agar pembukaan berjalan lebih cepat :)

Kelahiran Nada Salsabila Hafizah pada tanggal 26 Agustus 2004 merupakan moment membahagiakan bagi kami sekeluarga.
Kata pertama yang diucapkan Nada adalah "Abang". Ifan pun sayang pada adiknya, meskipun seiring dengan pertumbuhannya, Nada menjadi adik yang suka mengganggu abangnya.
Ketika Ifan sedang asyik bermain komputer Nada memencet tombolnya sehingga komputer tiba-tiba mati :D
Ifan tidak membalas kenakalan adiknya. Hanya saja kerap terdengar teriakannya, "Bundaaaaa.... Nada nakal nihhhh... gangguin Ifan terussss!!!" hahahah....
Hingga kemudian Nada jatuh sakit, dan dalam waktu hanya 8 hari menghadap Allah Swt di usia 1,5 th... sedangkan usia Ifan 5,5 th... pada tanggal 17 Maret 2006.

Saat membawa jenazah Nada pulang ke rumah dengan ambulance, Ifan menyambut saya dengan tepuk tangan dan teriakan gembira, "Nada... Nada..."
Ya Allah... ternyata Ifan menyangka adiknya pulang dengan kondisi sehat.
Saya segera turun dari ambulance, dan langsung memangku Ifan di teras rumah yang sudah dipenuhi pelayat. Saya langsung berkata jujur, "Ifan, Nada sudah meninggal, Nada sekarang sudah nggak bisa main lagi dengan Ifan. Nanti Ifan ikut ya... kita mau memakamkan Nada..."
Walaupun mungkin bagi sebagian orang tindakan saya dianggap kurang bijaksana, tapi saya memilih dengan sadar untuk berkata yang sebenarnya pada Ifan karena khawatir mengoreksi kebohongan akan jauh lebih sulit disamping memberikan harapan semu.
Ifan mengikuti semua prosesi, dari mulai memandikan, men-shalatkan hingga menguburkan Nada.

Selama 3 hari saat ta'ziah, Ifan terlihat berbeda. Saat sepupu-sepupunya datang dia bermain dengan kegembiraan yang berlebihan. Tetapi sewaktu mereka pulang, Ifan menangis tidak memperbolehkan. Hari ketiga ta'ziah, malam terakhir, adik ipar saya memergoki Ifan menangis di sudut kamarnya. "Ifan kesepian nggak ada Nada," keluhnya saat ditanya.

Malam itu, saya menghubungi Dr. Gita, dan menceritakan berita duka ini, serta menanyakan pendapatnya.
Dari Dr. Gita saya mendapatkan gambaran, bahwa bagi seorang anak, batas waktu normal untuk berduka adalah 3 bulan. Tapi harus dipantau, jika kondisinya terus memburuk, bukan semakin membaik, maka saat 2 bulan saya harus membawa Ifan menemui Dr. Gita.

Alhamdulillah, kantor memberi saya cuti tanpa batas, dan saya pun memanfaatkan kemurahan hati pimpinan kantor saya...
Setelah berunding dengan suami, kami sepakat agar saya dan Ifan berlibur, hanya berdua tanpa pengasuh, agar saya bisa menembus selubung dukanya. Saat itu Ifan masih TK, jadi izin tidak masuk sekolah pun lebih mudah.

Saat hanya berdua dengan Ifan, saya menjajaki dukacitanya...
"Ifan kenapa sedih?"
"Ifan kesepian Bun nggak ada Nada..."
"Ifan ingat saat Nada sakit? Nada di infus... dan Bunda nggak bisa pulang karena harus menemani Nada di Rumah Sakit? Sekarang Nada sudah tidak merasakan sakit lagi, Bunda pun bisa pulang untuk mengurus Ifan... dan karena Nada masih bayi, masih suci, Nada langsung masuk surga dan hanya ada kebahagiaan disana. Jadi Ifan nggak perlu sedih lagi ya..."
Ifan tetap diam.
"Setiap makhluk hidup pasti akan mati suatu saat nanti, tidak tau kapan waktunya. Bunda dan Ifan juga begitu. Kalau Ifan mau bertemu Nada lagi, Ifan harus berusaha jadi anak yang shaleh, jadi orang yang baik, karena hanya orang yang shaleh dan baik yang bisa masuk surga..."
"Oke, Bun..." akhirnya Ifan berkata perlahan. "Tapi Ifan suka sedih kalo inget Nada..."
"Oke. Kalo gitu, kita belajar mengingat hal-hal yang menyenangkan aja dari Nada ya..." ajak saya.
Mulailah perjuangan kami untuk belajar hanya mengingat hal-hal yang terbaik dari Nada. Bagaimana lucunya, bagaimana isengnya Nada... dan ternyata hal itu sangat membantu kami mengatasi duka. Akhirnya kami bisa membicarakan Nada tanpa meneteskan air mata :)

"Bunda, Ifan minta dibuatkan adik lagi..." suatu saat Ifan tiba-tiba berkata.
"Ifan berdoa sama Allah ya... semoga diberi adik lagi. Tapi kalau Allah memberi kesempatan Ifan untuk punya adik lagi, Ifan harus lebih sayang lagi sama adik ya..."
"Oke Bun, Ifan janji."

Alhamdulillah, setelah mengalami 1 kali keguguran, akhirnya lahirlah Ahmad Balda Arifiansyah - Fian panggilan kami kepadanya - pada tanggal 16 Juni 2008.
Kata pertama yang Fian ucapkan juga "Abang".
Entah Ifan ingat akan janjinya, atau mungkin karena Ifan sudah lebih besar, Ifan lebih sering mengajak Fian bermain dibandingkan dengan Nada dulu. Ifan membujuk Fian saat menangis dengan mengajaknya bercanda. Ifan pun lebih sabar dalam menghadapi Fian, padahal Fian saat ini jauh lebih menguji kesabaran :D
Jika Fian memukul, tidak terdengar lagi teriakan "Bundaaaaa..." melainkan hanya "Fian jangan donggg... kan sakittt..." kata Ifan tanpa membalas.
"Bunda, kalau Fian udah nggak ASI lagi, Fian tidur di kamar Ifan aja ya..." pinta Ifan, menggambarkan kedekatan hatinya dengan Fian :)
Suatu saat Ifan bahkan berkata pada Papa saya, "Fian itu nanti jadi tanggung jawab Ifan, Ki..."
"Ha? Emang kenapa, Fan?" Papa saya sampai seperti kehabisan kata-kata.
"Soalnya, nanti waktu Fian baru kelas 6 SD, Ifan udah kuliah..." Usia Ifan dan Fian memang terpaut lumayan jauh, 8 th. Wah... ternyata inilah hasil pembicaraan "antar lelaki" dengan ayahnya... :D
Namun demikian, meskipun sudah ada Fian, Ifan tidak melupakan Nada. "Ayo Bunda, ajak Fian ke makam Nada, biar Fian bisa ketemu kakaknya..."
"Assalamualaikum, Nada... ini ada adik Fian juga datang..." katanya jika kami berziarah.

Subhanallah... memang benar yang pernah saya dengar dari beberapa ceramah agama... bahwa cukuplah kematian sebagai nasehat... Tidak hanya bagi suami dan saya, tapi juga bagi Ifan.
Saat semangat ibadah Ifan sedang sangat mengendur, saya hanya cukup mengingatkan Ifan, "Ifan ingin bertemu Nada nanti di surga?" dan semangat ibadah Ifan pun pulih kembali.
Alhamdulillah ya Allah... dibalik kesulitan Engkau memberikan kemudahan...

Saat ini, Ifan bahagia sudah memiliki adik lagi untuk teman bermainnya :D

Jakarta, 15 Oktober 2009
Yeni Suryasusanti

 

Jumat, 28 Januari 2011

Catatan Perjalanan Pernikahan Saya : Hadiah Anniversary 11 th Untuk Suami Tercinta

Pernikahan Saya :
Sebuah Media Untuk Mengasah Kemampuan Berkomunikasi dan Kompromi, Menguji Cinta dan Keikhlasan, Serta Sarana Perbaikan Diri dan Ibadah


Hari ini 11 tahun yang lalu, saya sedang menjalani perawatan pengantin di Puri Ayu Graha Indorama Kuningan, sebagai persiapan pesta pernikahan kami yang akan berlangsung tanggal 11 Oktober 1998.
Saat itu usia saya belum genap 24 th, dan seperti umumnya wanita muda, rasanya persiapan "fisik" terasa lebih penting bagi saya, dari pada pembekalan "mental" yang diberikan oleh Ibu saya.
Ah... betapa naifnya saya saat itu, menganggap bahwa saya sudah kenal betul karakter calon suami saya hanya karena kami sudah berteman lama sebelum memutuskan untuk menikah.

Sejak 1 tahun sebelum menikah, setelah diadakannya pertemuan antar dua keluarga inti kami, setiap saya hendak melangkahkan kaki keluar rumah, Ibu selalu bertanya,
"Yeni, sudah kasih tau Fahly kalau mau pergi?"
Sungguh, saat itu pertanyaan itu selalu membuat saya sebal.
"Kenapa sih, Bu? Jadi suami aja belom... kog ribet banget sih..." protes saya gusar.
"Karena semua pembelajaran perlu proses. Haram langkah seorang istri keluar rumah tanpa izin suami. Yeni akan kaget nanti, dan pasti akan sering lupa meminta izin, kalau baru menerapkannya setelah menikah."

Mengingat percakapan yang terjadi berulang kali dan sepanjang tahun itu, sungguh saya sangat bersyukur memiliki seorang Ibu yang tidak pernah putus asa mendidik putri bungsunya yang keras kepala ini, yang saat itu sangat percaya bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan modern yang menjunjung kesetaraan kedudukan antara suami dan istri.
Saat itu, "Suami Ideal" bagi saya adalah suami yang bisa berkomunikasi dengan baik, tegas, bisa menghargai saya, mencintai orang tua dan keluarga saya, mau bekerja sama dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak, bla bla bla... segala hal positif lainnya :p

Setelah menikah, saya menemukan kenyataan bahwa pernikahan ternyata tidak sesederhana anggapan saya sebelumnya, dan suami yang telah lama saya kenal sebagai teman, ternyata tidak semudah itu dimengerti karakternya.
Suami saya yang dulu sangat saya kagumi kemampuan berkomunikasinya saat kami masih bersama-sama berkecimpung di organinasi kami masing-masing di kampus, yang piawai dalam argumentasi dan mampu menengahi banyak masalah pelik di organisasi kepemudaan, ternyata diam seribu bahasa pada suatu saat, ketika saya membantahnya dengan mengajukan argumentasi. Padahal saya berharap kami akan berdiskusi untuk mencari jalan tengah dari permasalahan kami.
Hari demi hari berlalu, satu demi satu, kekurangan suami muncul di depan mata saya. Saat itu, saya pun menjadi bingung... dan kecewa...

Di tahun-tahun awal pernikahan kami, kata adil dalam kamus saya adalah satu-satu, aksi-reaksi, jika saya bisa maka kamu juga seharusnya bisa, jika kamu tidak suka maka demikian juga saya...
Dan pertanyaaan yang sering muncul di kepala saya adalah :
Mengapa seorang suami boleh pergi begitu saja, sedangkan istri haram langkahnya tanpa izin suami?
Mengapa seorang suami pulang kerja bisa dengan leluasa pergi hang out dulu, sedangkan istri harus buru-buru pulang untuk mengurus anak dan rumah?
Dan berbagai kata "Mengapa" bermunculan saat saya mempelajari dengan setengah hati bagaimana menjadi istri shalihah, sehingga yang saat itu muncul dalam pikiran saya adalah "betapa tidak adilnya Islam pada wanita"...
Astaghfirullah... Semoga Allah mengampunkan prasangka buruk saya dulu... :(

"Yeni, jangan kamu lihat kekurangan suamimu... lihat kelebihannya saja..." nasehat Ibu kepada saya.
"Yeni, belajarlah untuk ikhlas. Ikhlas berarti kamu bisa menerima semua kekurangan suami tanpa ada kata Tapi. Jadikan pernikahan kamu sebagai ibadah..." ucapan seorang sahabat wanita yang sudah saya anggap kakak, mencoba mengetuk hati saya.

Tahun demi tahun kami lalui... Saya pun membuktikan bahwa berada di lingkungan yang positif mempengaruhi kita untuk berpikiran positif juga.
Berada di lingkungan kerja dan lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi mahligai pernikahan membuat saya tidak gampang menyerah saat menemukan perbedaan prinsip dalam beberapa aspek kehidupan kami.
Wejangan tak putus dari Ibu saya, yang selalu meminta saya mengoreksi diri sendiri sebelum menyalahkan suami, membuat mata saya mulai terbuka, betapa saya pun tidak sempurna sebagai seorang pribadi, istri dan ibu.
Jadi pantaskah jika saya menuntut suami saya berakhlak seperti Rasulullah jika saya sendiri tidak berakhlak seperti Ibu Khadijah?
Sebagai pribadi, saya terkadang dominan, karena terbiasa pendapat saya didengar dan dipertimbangkankan.
Sebagai istri, saya masih kurang mengabdi (jauh sekali jika dibandingkan dengan pengabdian Ibu saya kepada Papa).
Sebagai ibu, di saat lelah saya terkadang menjadi kurang sabar.
Masih banyak lagi kekurangan dan kesalahan yang pernah saya perbuat, yang mungkin jika saya tulis satu per satu akan membuat penuh lembaran buku dosa saya.
Namun suami saya menerima hal itu, dan tidak melemparkan kritik sama sekali kecuali saya sudah keterlaluan.

Saya pun mulai belajar menjadi "paranormal" - istilah saya untuk orang yang tau sesuatu tanpa diberitahu secara lisan :D - dengan mulai mempelajari reaksi suami saya - expresi wajah, sorot mata, garis mulut, bahasa tubuhnya - dari berbagai kejadian.
Setelah mulai memahami, barulah saya menyadari, bahwa suami saya tidak mau mendebat saya dalam diskusi justru karena cinta, karena dia tidak ingin menyakiti hati saya dengan kata-kata... Tidak adanya kritikan dan protes keras yang dia sampaikan atas sifat-sifat saya yang mungkin tidak berkenan di hatinya belum tentu karena dia tidak apa-apa, melainkan karena dia ingin saya berubah atas kesadaran saya sendiri, bukan karena terpaksa.
Akhirnya saya mengerti, bahwa dengan diamnya, suami saya menunjukkan toleransinya, dan dengan maaf yang dia berikan atas kesalahan-kesalahan yang saya perbuat, suami saya menunjukkan cintanya...

Teman-teman pria di sekeliling saya dan teman-teman wanita disekeliling suami saya pun menjadi penguji kekuatan cinta kami... membuktikan bahwa cinta memang harus terus dipelihara, dipupuk dan diperjuangkan.
Berpulangnya putri tercinta kami ke rahmatullah pun menjadi penguat cinta kami, sekaligus membuktikan bahwa kami memang benar-benar saling membutuhkan, kami butuh saling menguatkan...

Saya mulai belajar untuk selalu memperbaiki diri, meskipun perlahan dan rasanya tidak akan pernah sepenuhnya berhasil jika mengingat tidak ada manusia yang sempurna. But at least, saya terus berusaha, meski tidak mudah, dan dengan diiringi doa, tanpa meributkan siapa yang salah, mulai dari diri saya sendiri, dan tanpa menunggu apalagi meminta suami saya melakukan perubahan terlebih dulu. Saya percaya Allah maha membolak-balikkan hati. Insya Allah, suami saya akan tergerak hatinya jika melihat saya sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, dan bukan mustahil dia akan melakukan hal yang sama.

Saya pun mulai belajar melihat kelebihan suami saya, mengingat semua hal yang dulu membuat saya jatuh cinta. Pada kegigihannya mendapatkan cinta saya meskipun dia tidak piawai menyatakannya dengan kata-kata, pada usahanya memperjuangkan hubungan cinta kami agar direstui kedua keluarga, pada rasa sayang dia kepada orang tua dan keluarga saya, pada waktu yang selalu dia luangkan untuk ikut kumpul bersama arisan keluarga saya, pada kemampuannya menjadi teman dan sahabat bagi saya dan bagi setiap anggota keluarga besar saya... pada usahanya yang tak kenal putus untuk membahagiakan saya meskipun dengan caranya sendiri :D... dan masih banyak lagi.
Subhanallah... ternyata sungguh banyak kelebihan suami saya jika saya berniat menggalinya, sehingga kekurangannya tidak lagi terasa berarti...

3 tahun terakhir ini, saya mulai belajar melihat pernikahan saya sebagai ibadah.
Bagaimana memahami dan mengurus suami serta mendidik anak merupakan ladang amal yang luas bagi seorang istri dan ibu.

Lewat perjalanan yang cukup panjang, meskipun bukan mendapatkan pencerahan dari pengajian dan hanya merupakan visi saya pribadi :D, saya mulai memahami arti Allah menciptakan manusia berpasangan. Bukan hanya jenis kelamin, tapi juga sisi kelebihan dan kekurangannya...
Seperti dalam pernikahan kami, semua kekurangan suami saya lengkapi dengan kelebihan saya, sebagaimana dia melengkapi banyak kekurangan saya dengan kelebihannya.
Terbayang oleh saya, jika suami saya mampu mengerjakan semuanya sendiri, untuk apa lagi ada saya? Pasti akan sangat menyedihkan menjadi orang yang tidak dibutuhkan...

Lewat introspeksi diri yang panjang pula - karena saya hanya diberitahu tentang hadist mengenai haramnya langkah seorang istri tanpa izin suami tanpa penjelasan mengapa hal tersebut diharamkan dan riwayat diangkatnya ke surga seorang ibu yang memiliki putri yang tidak datang saat beliau meninggal karena belum mendapat izin dari suami yang sedang pergi keluar rumah - saya akhirnya mengambil hikmah pribadi betapa Rasulullah menganggap pentingnya komunikasi antar suami istri. Karena jika komunikasi suami dan istri sangat baik, suami istri saling memahami dan terbiasa berkompromi, rasanya tidak akan mungkin suami tidak memberikan izin langkah seorang istri selama disampaikan secara santun, untuk tujuan yang baik dan tidak mengabaikan tugas istri yang lebih utama.
Saya pun jadi berpikir, jika pergi keluar rumah tanpa izin suami tidak diharamkan, akankah saya berusaha mati-matian untuk mengenal, memahami dan berkomunikasi efektif dengan suami saya? Mungkin tidak, karena toh tidak berdosa saya jika saya pergi tanpa izinnya.
Namun, karena hal tersebut diharamkan, yang berarti saya berdosa jika pergi keluar rumah tanpa izin, pastinya saya akan berusaha mencari jalan bagaimana agar halal langkah saya, agar tidak bertambah buku dosa saya. Akibat usaha tersebut, suami saya pun benar-benar menjadi belahan jiwa saya :)

Akhirnya saya pun harus mengakui betapa adilnya Islam terhadap wanita...
Karena meskipun terasa berat tugas dan tanggung jawab seorang istri di dunia dalam pandangan masyarakat kita, namun di akhirat nanti dia hanya menanggung dirinya sendiri.
Sedangkan meskipun terlihat enak menjadi suami di dunia dalam pandangan masyarakat kita, namun di akhirat justru paling berat tanggung jawabnya karena suami berkewajiban membimbing anggota keluarganya - istri dan anak-anaknya - sehingga baik buruknya akhlak istri dan anak-anak tidak lepas dari tanggung jawab suami pula.
Pun begitu banyaknya ladang amal bagi seorang wanita. Melahirkan sebagai jihad, mengurus suami dan anak sebagai jihad... sedangkan laki-laki harus pergi keluar untuk membela agama dulu baru terhitung jihad (CMIIW)...
Well, saya hidup di dunia hanya sementara kan? Jadi, mengapa seolah hidup hanya mempermasalahkan beban berat seorang istri di dunia sedangkan di depan mata terhampar ladang amal yang luas untuk bekal hidup di akhirat kelak? :D

Mungkin sebenarnya perjuangan saya akan lebih sederhana jika saya datang kepada ahli agama. Karena semua aturan dan bagaimana hubungan yang baik dalam rumah tangga, sudah di riwayatkan melalui contoh-contoh dalam hadist Rasulullah. Namun karena segala keterbatasan diri saya, saya harus menempuh jalan yang panjang, dengan jatuh bangun pula...
Bagaimanapun sulitnya, alhamdulillah, semua itu saya anggap sebagai sarana pendewasaan diri saya...

Sejak 3 tahun yang lalu, Alhamdulillah, saya telah belajar untuk ikhlas...
Mengurus rumah tangga dan mendidik anak pun sudah menjadi suatu kenikmatan bagi saya, semula hanya karena mengingat nilai ibadahnya, dan akhirnya juga karena bahagia mengerjakan prosesnya dan melihat hasilnya.
Dulu, jika ada tugas rumah tangga yang saya kerjakan yang seharusnya merupakan porsi tugas suami, saya terkadang berkata, "Saya ikhlas kog mengerjakannya, tapi kan seharusnya suami saya bisa mengerjakan itu..." (yang benar kata sahabat wanita saya bahwa adanya kata Tapi itu pertanda jauh di dalam lubuk hati saya belum ikhlas :p)
Saat ini, Alhamdulillah, jika ada yang bertanya, saya sudah bisa hanya berkata, "Ya, saya ikhlas mengerjakannya.", sambil tersenyum pula :D

Tulisan ini saya persembahkan untukmu, Ahmad Fahly Riza, suami tercinta, yang saya berikan lebih awal dengan niat sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ke 11 di tanggal 11 Oktober 2009.
Saya tulis ini sebagai perwujudan cinta dan rasa syukur saya karena memiliki suami yang pemaaf dan penuh cinta... suami yang karena karakternya membuat saya belajar banyak untuk dunia dan akhirat saya...
Meskipun mungkin kelak masih akan ada ujian dari Allah bagi cinta kita - semoga Allah selalu menyelamatkan bahtera rumah tangga kita - saat ini izinkan saya nyatakan pada dunia bahwa saya mencintaimu seutuhnya, karena Allah semata...

Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat bagi semua yang membaca, terutama bagi yang akan menikah, bahwa memasuki ambang pernikahan bukan dengan niat utama untuk ibadah akan menghasilkan banyak kekecewaan... Pun, bagi yang sudah dan masih menikah, tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadikan pernikahan sebagai sarana menuju surga disamping sebagai surga dunia... :)

Jakarta, 8 Oktober 2009
Yeni Suryasusanti

Ifan dan Pesantren Ramadhan SD Bhakti



Setiap tahun, setiap Ramadhan tiba, di 3 hari terakhir sebelum liburan lebaran, SD Bhakti mengadakan Pesantren Ramadhan. Selama 3 hari itu, pelajaran sekolah ditiadakan. Para siswa mengenakan seragam hari Jumat (seragam muslim/muslimah) di hari pertamanya, dan pada hari kedua dan ketiga mengenakan pakaian muslim bebas. Mereka belajar segala sesuatu tentang Agama Islam layaknya di "Pesantren".
Pada hari kedua, diadakan lomba antar kelas yang pialanya dibagikan di hari terakhir Pesantren Ramadhan.

Sebelumnya, saya menganggap kegiatan Pesantren Ramadhan SD Bhakti merupakan kegiatan positif yang biasa saja layaknya pesantren biasa, hingga tahun ini, pendapat saya berubah dan menganggap kegiatan itu menjadi luar biasa.

Pada waktu Pesantren Ramadhan Th. 2007, Ifan mengikuti layaknya anak kelas 1 yang lain, biasa saja.
Pada waktu Pesantren Ramadhan Th. 2008, Ifan diminta ikut Lomba Adzan, dan mendapatkan Juara 3, mendapatkan piala.

Tapi, bagi saya, yang istimewa justru tahun ini.
Di Pesantren Ramadhan Th. 2009, Ifan menyampaikan kepada saya bahwa dia diminta ikut Lomba Susun Ayat oleh wali kelasnya. Ada 3 teman lain yang juga ditunjuk untuk ikut lomba. Semula saya berpikir, ini lomba perorangan seperti tahun sebelumnya, bahwa ada 4 siswa yang mewakili kelas 3B untuk ikut lomba.
Ifan diminta menghafalkan 4 Surat Al Qur'an : Al Falaq, Al Ma'un, Al Fiil dan Al Humazah.
Oke, saya pikir tidak ada ruginya, karena kalaupun seandainya Ifan tidak menang, Ifan sudah mendapat keuntungan dengan menambah perbendaharaan hafalan surat pendeknya.
Malam itu, saya dan Ifan bersama-sama menghapalkan surat yang diminta. Mengapa bersama-sama? Karena kekuatan ifan adalah "telinga"nya hehehe... Ifan lebih cepat hapal jika mendengar daripada hanya "membaca". Jadi, saya memeluk Ifan yang membaca Juz Amma, sambil melantunkan ayat-ayatnya, sehingga sambil membaca Ifan juga mendengarkan :)

Hari kedua Pesantren Ramadhan, saat saya pulang kerja, Ifan menyambut saya di teras rumah dengan bersemangat, "Bunda, Ifan punya kabar gembira untuk bunda!"
"Oh ya? Kabar gembira apa, sayang?" saya tersenyum.
"Ifan juara 1 lomba susun ayatnya!!"
"Wah... selamat ya Fan!! Pialanya besok dibagikan?"
"Iya, tapi pialanya untuk di kelas, Bun!"
"Lho, kog untuk di kelas?" saya sempat bingung.
"Kan yang lomba bukan Ifan sendiri..."

Oalahhh.... ternyata lomba beregu... heheheh....
"Kelas berapa juara 2 dan 3-nya?"
Ifan berada di kelas 3B. Saya pikir yg juara 2 dan 3 kelas 3A dan 3C.
"Kelas 1C juara 2, kelas 2C juara 3, Bun!"

Lho???? Masa sih anak kelas 1 mengalahkan kelas 2 dan kelas 3 yang lain? pikir saya.
Hasil wawancara dengan Ifan-lah yang merubah pikiran saya sebelumnya, bahwa saya pikir Pesantren Ramadhan SD Bhakti hanya belajar Agama Islam saja. Ternyata tidak...

Ifan menceritakan bahwa Lomba Susun Ayat diadakan di lapangan, dan 1 kelompok terdiri dari 4 siswa. Ifan dan Rizki yang memilih ayatnya, kemudian memberikan kepada Farhan yang berlari menyampaikan kepada Salma yang berada diseberang lapangan, yang bertugas menempel potongan ayat tersebut di papan.

Pantas saja....
Karena lomba beregu, tentu saja peran wali kelas sangat diperlukan... Wali kelas harus mengenali kemampuan masing-masing anak didiknya, siapa yang hafal ayat, siapa yg cepat larinya, siapa yang rapi dan cepat kerjanya.
Pantas saja pemenang lainnya bukanlah kelas 3, tapi justru kelas 1... karena biasanya wali kelas 1 adalah guru yang paling telaten dan paling perhatian terhadap siswanya :)

Mengapa saya menganggap lomba tersebut luar biasa, walaupun Ifan tidak mendapatkan piala pribadi?

Ya, lomba tersebut bagi saya sangat luar biasa, karena Ifan jadi belajar realita kehidupan sejak dini, yang bisa bermanfaat hingga dia dewasa dan bekerja kelak.

Dengan adanya lomba tersebut, saya jadi punya momentum untuk mengajarkan Ifan, bahwa "Kepintaran" bukanlah segalanya.
Bahwa setiap manusia memiliki kelebihan yang bisa digunakan untuk kesuksesan dirinya kelak, selama dia bisa mengenali dan mengasah potensi tersebut.
Bahwa dalam hidup diperlukan kerjasama yang baik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam dunia kerja.

Lebih jauh lagi, kelak saya punya bahan untuk mengajari Ifan bagaimana menjadi "Seorang Pemimpin yang Bijak".

Team Kelas 3B tidak akan menang, jika pemimpinnya (dalam hal ini wali kelas) tidak bisa mengenali kemampuan anak buahnya (dalam hal ini siswa). Apa jadinya jika Salma yang bertugas berlari (biasanya perempuan berlari lebih lambat daripada laki-laki hehehe) dan Ifan yang menempel ayat di papan (sedangkan Ifan anak yang kurang telaten untuk menempel dan sejenisnya)? :D
Mungkin mereka tidak akan menjadi pemenang.
Apa jadinya pula jika pemimpinnya tidak bisa menengahi serta memotivasi siswa yang ikut, bahwa dalam hal "team work" semua elemen memiliki peran penting yang sama?
Mungkin masing-masing anak akan menganggap karena dirinya lah kemenangan itu terjadi, dan bukan mustahil juga mengecilkan peran anggota team lainnya. Sehingga akhir kemenangan mereka bukanlah kebahagiaan melainkan pertikaian...

Kelak, untuk bekal Ifan di dunia organisasi dan kerja, saya punya bahan untuk mengajari Ifan, bahwa "Idealnya" Pemimpin lah yang menentukan arah, team work menjalankan.
Bahwa Pemimpin yang Bijak harus mengetahui potensi anak buahnya dan menempatkan anak buahnya di bidang terbaik yang bisa mengoptimalkan pencapaian hasil kerja bersama.
Bahwa Pemimpin yang Bijak harus dapat menjadi pengarah, pembina, penengah, penilai, pengoreksi, penyemangat, pengayom, penanggungjawab dan panutan bagi anak buahnya.
Bahwa begitu beratnya tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin... sehingga wajar pula jika di dunia kerja imbalan yang pemimpin terima lebih besar daripada anak buahnya :D

Sebagai orang tua, saya merasa bersyukur Ifan bersekolah di sekolah yang mengajarkan bukan hanya "Kepintaran" belaka, tetapi juga meletakkan dasar konsep hidup yang dapat berguna hingga Ifan dewasa :)

Jakarta, 5 Oktober 2009
Yeni Suryasusanti

Sharing Copy Paste : Mengganti Puasa atau Syawal dulu?

Dari tahun ke tahun ke tahun saya sering mencermati teman-teman saya puasa syawal.

Tanpa bermaksud menimbulkan perdebatan panjang, berikut saya copy paste-kan seri tanya jawab dari Web Percikan Iman <http://www.percikaniman.org/> asuhan Ustadz Aam Amiruddin, M.Si.

Saya pribadi setuju dengan pendapat beliau untuk mendahulukan yang wajib baru kemudian melaksanakan sunnah, karena sejak putri tercinta saya, Nada Salsabila Hafizah, berpulang ke rahmatullah di usia yang sangat belia (1,5 th), saya senantiasa mengingat kematian...
Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput... entah 1 jam lagi, besok pagi, atau entah kapan... sehingga rasanya lebih bijaksana jika kita lebih dahulu berusaha menyelesaikan hutang piutang kita, apa pun bentuk hutangnya...

Semoga sharing ini bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya...

Jakarta, 30 September 2009
Yeni Suryasusanti

Mengganti Puasa atau Syawal dulu?
27-09-2009 / 06:42:22 Oleh : Ust.Aam Amiruddin, M.Si


Tanya :

Ustadz, pada bulan Syawwal kita dianjurkan shaum sunnah 6 hari bukan? Sebenarnya, mana yang harus didahulukan, apakah shaum qadha ataukan shaum sunnah syawwal? Mohon penjelasan


Jawaban :

Betul sekali, kita disunahkan melaksanakan shaum enam hari pada bulan Syawwal sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.,

“Diriwayatkan dari Abu Ayyub r.a. Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa shaum pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan shaum (sunah) enam hari pada bulan Syawal, seolah-olah ia shaum sepanjang tahun.” (HR.Muslim).

Hadits ini tidak menjelaskan apakah shaum tersebut dikerjakan harus berturut-turut atau terpisah-pisah. Ini menunjukkan bahwa kita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri, apakah mau berturut-turut atau terpisah-pisah, itu semua tergantung pada situasi dan kondisi per individu, yang penting harus dilakukan pada bulan syawwal.

Mana yang harus kita dahulukan, Qadha atau Syawwal? Paling tidak, ada dua pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat pertama menyatakan harus memprioritaskan shaum Qadha karena shaum itu adalah wajib, sementara shaum Syawwal itu sunah. Kalau bentrok antara yang wajib dan yang sunnah, tentu yang yang wajib harus diprioritaskan.

Pendapat kedua menyatakan, shaum enam hari pada bulan Syawwal itu terikat waktu. Kalau bulan Syawwal habis, berarti habis juga kesempatan shaum sunah. Karena itu shaum Syawwal harus diprioritaskan. Sementara shaum Qadha walaupun wajib, namun waktunya leluasa, bulan apa saja bisa kita lakukan.

Mencermati kedua pendapat di atas, sesungguhnya kita bisa melakukan kompromi. Kalau mampu, alangkah baiknya pada bulan syawwal itu kita selesaikan dulu utang shaum Qadha, dilanjutkan dengan shaum sunah Syawwal. Dengan demikian kedua-duanya bisa kita kerjakan dengan baik pada bulan Syawwal. Ini yang paling ideal.

Kalau tidak memungkinkan, hal ini diserahkan pada kebijakan kita (per-individu). Tidak tercela kalau kita memprioritaskan shaum Syawwal. Insya Allah, kita akan mendapatkan pahala shaum sunah Syawwal walaupun masih punya utang shaum Qadha. Dan juga tidak tercela kalau kita memprioritaskan shaum Qadha dengan pertimbangan yang wajib harus lebih diutamakan dari pada yang sunah. Insya Allah, kita akan mendapat pahala dari segi memprioritaskan yang wajib, walaupun tidak mendapat pahala dari shaum sunah Syawwal.

Kesimpulannya, alangkah utama kalau shaum Qadha dan Syawwal bisa kita laksanakan pada bulan Syawwal. Namun tidak salah kalau kita mau memprioritaskan salah satunya. Mengutamakan Qadha, akan mendapat pahala dari segi mengutamakan yang wajib. Mengutamakan Syawwal, akan mendapat pahala dari aspek ibadah sunnahnya.

Wallahu A’lam.


Sumber : http://www.percikaniman.org/tanya_jawab_aam.php?cID=276

Ifan, Saya dan Ramadhan 1430 H

Banyak hal yang saya dan Ifan pelajari di Ramadhan tahun ini. Dari satu sama lain, dan dari sekolah Ifan, SD Bhakti.

Di awal bulan puasa, oleh gurunya Ifan dibagikan Tabel Ibadah untuk diisi selama bulan Ramadhan.
Pertama-tama, saya ingin membagi gambaran Tabel Ibadah Ifan, semoga bisa dibayangkan dan menjadi manfaat bagi teman-teman semua...

Pada Tabel Ibadah tersebut terdapat kolom "Nomor Kegiatan", "Jenis Kegiatan", 30 kolom berisi "Tanggal dan Hari-hari Ramadhan" dan kolom "Jumlah" untuk menjumlahkan pelaksanaan kegiatan selama 1 bulan.
"Jenis Kegiatan" berisi : Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya, Puasa, Shalat Tarawih, Tadarus.
Di baris paling bawah dari "Jenis Kegiatan" ada kolom "Jumlah Kegiatan" untuk menjumlahkan pelaksanaan kegiatan per hari. Semua kegiatan diatas di nilai 1.
Ada pula 4 kolom "Ceramah Tarawih" yang mencakup tanggal tarawih, Judul, Kesimpulan Ceramah dan TTD Penceramah, ini nilai kegiatannya 5.

Pada Tabel Ibadah tersebut, orang tua diminta mengisi kegiatan yang dilaksanakan oleh putra/putrinya dengan tanda check. Ada dispensasi bagi yang sakit, dengan menuliskan "S" atau "P" bagi yang bepergian jauh.
Di lembar tersebut diinformasikan bahwa nilai akhir tabel ini akan dimasukkan dalam Aspek Penerapan Agama Islam di sekolah Ifan.

Saat itulah saya mulai mengawali pelajaran pribadi di Ramadhan 1430 H.

Pelajaran Pertama, Saya belajar untuk jujur mengisi Tabel Ibadah Ifan, tidak memanipulasi kegiatan demi mencapai nilai tertinggi, betapa pun besarnya keinginan tersebut.

Alhamdulillah karena Ifan sudah sejak kelas 1 SD berpuasa penuh, tidak ada hambatan bagi saya untuk mengisi kolom "Puasa" dengan tanda check. Namun, karena Ifan lupa menyampaikannya kepada saya, dan saya lalai tidak memeriksa tas sekolahnya karena Ifan libur awal ramadhan, saya baru mengetahui ada Tabel Ibadah tersebut pada puasa hari ketiga, sehingga saya harus merelakan kolom "Tadarus" di hari 1 dan 2 ramadhan dikosongkan (untuk menghindari godaan berbohong, saya langsung membuat tanda cross bagi jenis kegiatan yg tidak dilakukan Ifan setiap hari heheheh). Pada hari ke 3 dan 12, saya harus merelakan kolom "Zuhur" di cross, karena Ifan ketiduran sepulang sekolah dan baru bangun saat Ashar. Saya juga harus ikhlas membiarkan nilai tertinggi "Ceramah Tarawih" kosong karena Ifan tidak bersedia membawa tabel tersebut ke mesjid karena khawatir hilang katanya (atau malas? hihihihi) :D

Pelajaran Kedua, Saya membuktikan bahwa memang lebih mudah mengoreksi dan menilai orang lain daripada diri sendiri :D

Saat membaca tabel tersebut, saya langsung berpikir bahwa tabel ini bisa dimanfaatkan bukan hanya pada bulan ramadhan, melainkan juga bisa menjadi solusi bagi kontrol ibadah Ifan pada hari-hari setelah ramadhan, sepanjang tahun.
Saya bahkan mulai memikirkan pengembangan Tabel Ibadah tersebut, dimana akan saya tambahkan point shalat "di awal waktu" dan "di akhir waktu", bahkan saya sempat secara sambil lalu sebelum berangkat kerja membicarakan hal tersebut dengan Ifan, saat saya menggambarkan mungkin di setiap akhir bulan akan melakukan penilaian dan memberikan "reward" jika nilai Ifan pada Tabel Ibadah yang akan saya buat nanti melebihi target rata-rata. Reaksi Ifan pun sangat antusias.

Pada hari itu di mushalla kantor, setelah baru "sempat" melakukan shalat zuhur lewat sedikit dari jam 14.00 WIB, saat itulah saya tersentak, teringat tabel ibadah rancangan saya untuk Ifan walaupun masih berupa sketsa di kepala.
Bagaimana mungkin saya hendak memberikan penilaian mengenai waktu pelaksanaan shalat di awal atau di akhir untuk Ifan... sedangkan saya terkadang masih suka "menunda" shalat hanya karena merasa "tanggung" dengan pekerjaan kantor... Duh... alangkah malunya... jika saya menegur Ifan karena shalat di akhir waktu karena Ifan keasyikan nonton TV atau main komputer, sedangkan saya sendiri terkadang masih shalat di akhir waktu karena "keasyikan" bekerja...

Saat itu juga saya mengambil keputusan. Jika saya mau membuatkan Ifan Tabel Ibadah setelah Ramadhan nanti, maka saya juga harus membuatkan Tabel Ibadah untuk diri saya sendiri.
Tentunya Jenis Kegiatan Ibadah saya dan Ifan harus berbeda.
Saya membayangkan mungkin akan menambahkan Shalat Sunnah Rawatib, Shalat Dhuha, Shalat Tahajud dan Puasa Senin Kamis pada Jenis Kegiatan Tabel Ibadah saya.

Ifan tidak putus berpuasa dan tarawih di mesjid. Selama Ramadhan 1430 H, saya menolak acara buka puasa di luar rumah yang tidak mengadakan acara tarawih bersama demi menjaga semangat ibadah ramadhan Ifan. Saya tidak tega Ifan hanya berbuka puasa bersama pengasuhnya dirumah sedangkan saya di mall bersama teman-teman. Saat teman-teman saya mengusulkan mengajak Ifan juga, saya tetap menolak karena sayang memutuskan tarawih Ifan di mesjid yang belum putus hingga tanggal 14 September 2009.
Suatu subuh bahkan saya dikejutkan oleh Ifan yang berlari menemui saya saat mendengar adzan berkumandang, "Bunda, Ifan boleh shalat subuh di mesjid?"
Langsung suami dan saya menjawab, "Oh, boleh Fan, laki-laki memang lebih baik shalat di mesjid..."
Dan setelah itu Ifan beberapa kali shalat subuh di mesjid yang kebetulan lokasinya dekat sekali dengan rumah kami.

Namun, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Meskipun Ifan berniat berpuasa penuh lagi tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, Allah berkehendak lain.
Hari Sabtu, 12 September 2009 Ifan dan Fian secara bersamaan sakit flu dan radang tenggorokan. Meskipun begitu, Ifan tetap berkeras melaksanakan puasa. Tapi kemudian, pada saat hendak sahur di tanggal 15 September 2009 Ifan demam tinggi. Akhirnya saya melarang Ifan berpuasa hari itu. Siangnya Fian menyusul demam tinggi. Dari hasil test darah dan widal hari itu, Fian di diagnosa para typus, sedangkan Ifan juga tertular adiknya, meskipun lebih ringan.
Alhamdulillah, salah satu pengasuh memutuskan tidak pulang lebaran tahun ini, dan bersedia mengambil infal kerja untuk kami. Dengan adanya bantuan pengasuh, saya sangat terbantu dalam mengurus 2 anak yang sakit para typus yang demamnya naik turun sehingga harus disiapkan proris yang dimasukkan lewat anus jika perlu, harus sering di seka agar suhunya turun, yang harus dijaga agar tidak banyak turun dari tempat tidur... dan hanya bisa makan bubur... dan harus sering-sering diingatkan untuk minum...
Ya Allah... Alhamdulillah Engkau memberi suami, saya dan pengasuh anak-anak kekuatan dan kesehatan... sehingga bisa merawat Ifan dan Fian.

Meskipun tidak berpuasa, tidak tadarus - saya memberi tanda "S" pada Tabel Ibadah Ramadhan Ifan - Ifan belajar hal lain dari sakitnya di bulan Ramadhan 1430 H ini.
Ifan tetap melaksanakan shalat meskipun sakit. Saya meminta Ifan melakukan shalat meskipun saya menyadari bahwa Ifan belum akil balik sehingga belum wajib shalat. Hal ini saya minta semata-mata karena saya ingin menanamkan pada diri Ifan, bahwa Allah memberikan kemudahan bagi orang sakit... dan Ifan harus tetap menjalankan shalat hingga akhir hayatnya, hingga Ifan kelak di shalatkan.

Inilah yang Ifan pelajari dari sakitnya di bulan Ramadhan 1430 H :

Ifan tidak boleh turun dari tempat tidur, karenanya Ifan belajar tayamum, lengkap dengan niatnya.
Ifan belajar shalat dengan posisi tidur. Pada saat-saat tertentu, dimana Ifan merasa lebih baik, Ifan belajar shalat dengan posisi duduk.

Saat saya menulis notes ini, Alhamdulilah Ifan dan Fian sudah dalam proses pemulihan. Suhu badan mereka sudah stabil, dan mereka sudah kembali ceria. Hanya tinggal menghabiskan anti biotik dan menjaga mereka tetap istirahat agar pemulihannya berjalan maksimal. Meskipun Ifan sudah merasa lebih baik, karena masa inkubasi penyakitnya belum tuntas, saya belum mengizinkan Ifan berpuasa.
Merasa lebih sehat, Ifan sempat berkomentar, "Ini karena Ifan berdoa minta cepat sembuh sama Allah setiap habis shalat, Bun... Ifan juga doain Fian karena Fian belum bisa berdoa sendiri." Duh... saya jadi terharu... :D

Bukan hanya Ifan yang belajar dari sakitnya di bulan Ramadhan 1430 H ini. Saya pun belajar.
Saya harus membimbing ifan melafalkan niat tayamum, sedangkan karena saya belum menemukan kondisi harus tayamum sebelumnya sehingga saya tidak hafal niat tayamum dalam bahasa arab (hehehe....), terpaksa saya menuntun Ifan melafalkan niat tayamum sambil membaca buku petunjuk shalat anak milik Ifan.

Ya... kita selalu bisa belajar dari setiap orang dan dari setiap kejadian, setiap hari, sepanjang hidup kita.
Alhamdulillah, meskipun mungkin merupakan hal yang sepele bagi sebagian orang, bagi saya pribadi, meskipun sedikit, hal ini tetaplah merupakan sebuah kemajuan, bahwa saat ini saya dan Ifan telah hafal niat tayamum dalam bahasa arab :D

Jakarta, 19 September 2009
Yeni Suryasusanti