Selasa, 11 Oktober 2011

Tentang Cinta Sejati : Sebuah Renungan di Hari Ulang Tahun Pernikahan :)



Beberapa waktu lalu, seorang sahabat menautkan tulisannya ke Facebook saya. Sebuah tulisan yang saya yakin bisa bermanfaat bagi banyak orang, yang setelah membacanya saya akhiri dengan renungan.

Tulisan itu bercerita tentang sepasang kekasih yang tidak bisa berakhir dengan pernikahan karena perbedaan keyakinan, merasa bahwa kekasihnya adalah belahan jiwanya, tapi karena prinsip masing-masing akhirnya menikahi orang lain dan membentuk keluarga. Namun, kedua mantan kekasih ini masih berhubungan baik melalui telepon meskipun jarang bertemu.

Saya tidak akan menghakimi mereka "berselingkuh", karena saya sendiri masih agak ragu dengan batasan seseorang disebut berselingkuh :)
Masing-masing orang biasanya menentukan batasan yang berbeda.
Ada yang menetapkan baru dinamakan selingkuh jika sudah ada "sentuhan fisik" diluar batas kewajaran (yang juga berbeda bagi setiap orang batasannya).
Ada yang menetapkan sudah termasuk selingkuh jika sudah mulai "saling bertemu tanpa sepengetahuan pasangan sah" meskipun tanpa adanya "sentuhan fisik" diluar batas kewajaran umum seperti bersalaman.
Ada juga yang menetapkan sudah termasuk selingkuh jika sudah mulai "ada rasa lain" kepada seseorang yang bukan pasangan sah meskipun tanpa adanya sentuhan fisik maupun komunikasi yang intens.
Terlebih lagi, saya tidak mengetahui dengan jelas apakah teman yang diceritakan oleh sahabat saya ini berhubungan baik dengan atau tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing.
Jadi, mari kita asumsikan mereka hanya "menjalin silaturahmi" meskipun masing-masing masih menyimpan cinta di hati :)

Lanjut cerita mengenai teman dari sahabat saya, atas izinnya saya kutipkan disini sedikit ceritanya :

"Habis lebaran kemarin kita bertengkar, sebetulnya tentang hal yg nggak penting sih dan dia ngomong salah satu kalimat sakti, Mas... Sekarang aku baru sadar kalo B (nama istrinya) memang yg terbaik yg diberikan Allah untuk aku... Belum pernah selama kami pacaran atau berumah tangga ada keluar kalimat sakti dari mulutnya meski kami bertengkar hebat... Belum lagi pengorbanannya untuk aku dan anak2... Buta aku selama ini!"

Karena saya mengenal Si Adik kelas ini dari dulu, saya mengerti maksudnya. Yang dimaksud dengan "KALIMAT SAKTI" nya yg terkenal sejak dia remaja adalah ketika pacarnya mengucapkan kalimat:
"kayaknya kita dah nggak sepaham lagi deh, kita putus aja ya..." atau
"Kita ternyata udah nggak cocok ya, kayaknya aku mesti pergi deh..." atau
"kita mesti putus karena aku dah nemu yg lebih baik dari kamu.."
Pokoknya kalimat yg kayak gitu deh...
Ketika seorang wanita berkata seperti itu padanya, maka saat itu juga matilah si wanita itu di hati si adik kelas.

Saya pernah bertanya mengapa mudah sekali untuk dia mematikan rasa cinta yg begitu besar ketika mendengar kalimat seperti itu. Jawabnya membuat saya tercengang :
"Ketika seorang wanita mengucapkan kata itu untuk suatu perbedaan kecil atau pertengkaran, maka wanita itu tidak layak untuk dipertahankan atau dicintai karena dia tidak akan pernah berjuang untuk cinta itu sendiri dan cinta yg dimilikinya tidak sebesar apa yg terucap dari mulutnya karena dia tidak pernah ikhlas melihat kekurangan pasangannya..."

Dari beberapa sharing pengalaman teman dan pengamatan, saya seringkali melihat, biasanya para kekasih menjadi seolah-olah buta karena "terpesona", terbawa emosi dan terkadang menganggap seseorang sebagai "belahan jiwa" karena orang tersebut terlihat lebih "memahami", bisa merasakan dan menghadapi dengan cara yang baik perubahan emosi mereka daripada "pasangan sah"-nya. Padahal mungkin mereka bertemu dengan kekasihnya hanya dalam kondisi terbaik mereka sehingga semua terasa indah saja. Atau bisa saja mereka begitu jarang bisa bersama sehingga ketika kebersamaan itu tiba semua hal yang tidak enak akan mereka kesampingkan terlebih dahulu dengan sengaja, sehingga semua juga terasa indah saja.
Tidak seperti "pasangan sah" yang memang selalu hidup berdampingan dalam setiap kondisi sehingga mereka mengalami seluruh masa bersama-sama, baik masa terbaik maupun masa terburuk.

Disamping itu, ketika membaca cerita sahabat saya di atas, ada satu hal yang agak sedikit mengganjal bagi saya, di alinea terakhir dari kutipan cerita tersebut.
Tanpa bermaksud menghakimi, kata-kata tersebut bagi saya justru menandakan bahwa cinta diantara pasangan mantan kekasih tersebut bukanlah cinta sejati. 
Mengatakan seseorang sebagai belahan jiwa, namun dengan mudah pula mematikan cinta hanya karena satu "kalimat sakti", menghakimi bahwa seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut - meski dalam keadaan emosi - berarti tidak akan pernah ikhlas menerima kekurangan pasangannya sendiri.
Sedangkan bagi saya, ketika kita mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mau mencoba dan belajar memahami segala sikapnya, salah satunya adalah dengan melihat situasi emosi ketika ucapan yang tidak baik terjadi.

Sebagai ilustrasi, kata "Talak" yang diucapkan ketika suami istri bertengkar saja dari apa yang pernah saya baca dianggap tidak sah.

Menurut pendapat madzab ahlus-sunnah wal jama’ah Imam Hanafi, salah satu persyaratan jatuhnya talak adalah si suami sadar apa yang diucapkannya dan dia benar-benar menginginkannya. Karenanya, orang yang dalam keadaan marah, menurut pendapat Imam Hanafi tidak jatuh talaknya. Orang yang marah sering kehilangan kendali, bahkan kehilangan akal sehatnya. Dalam keadaan seperti itu, segala keputusannya tidak berlaku. (Sumber : http://majalah.hidayatullah.com/?p=1017)

Bagi saya, pada cinta sejati harus ada unsur kasih sayang, saling mengingatkan dengan cara yang baik dan terutama : maaf :)
Jadi, Allah sungguh Maha Mengetahui, teman dari sahabat saya disandingkan dengan seorang wanita yang sangat sabar dan dapat menjaga lidahnya untuk tidak mengucapkan "kalimat sakti" yang dapat menghancurkan pernikahan mereka :)

Saya juga mengamati, bahwa meskipun tidak seluruhnya, hampir setiap hubungan yang berpotensi "mengarah" kepada perselingkuhan biasanya akan disamarkan dari pandangan pasangan sah.
Terlepas dari benar atau salahnya tindakan tersebut, menurut penilaian saya, bukankah hal itu pertanda bahwa mereka masih ada rasa khawatir ketahuan dan kehilangan hubungan dengan pasangan sah-nya?
Bukankah hal itu menyatakan bahwa - apa pun alasannya entah itu untuk kestabilan, demi nama baik pribadi dan keluarga maupun atas nama anak-anak - dia masih memiliki "cinta"?
Karena jika betul sudah tidak ada "cinta" sama sekali diantara pasangan sah tersebut, bukankah seharusnya dia tidak akan perduli lagi akan ketahuan atau tidak perselingkuhannya?

Tulisan sahabat saya ternyata membawa saya pada perenungan yang cukup dalam, lebih dari yang saya rencanakan :)

Ketika sepasang kekasih - yang masing-masing sebenarnya sudah memiliki pasangan hidup - bertengkar, mungkin itu adalah isyarat dari Allah bahwa sesungguhnya memang yang terbaik bagi mereka berdua adalah perpisahan.
Karena apakah mungkin memperjuangkan janji dan cinta untuk seorang kekasih tetapi dengan mengorbankan janji dan cinta yang lain yaitu untuk pasangan hidup di mata Allah apalagi jika sudah hadir anak-anak karena cinta Allah kepada mereka berdua?

"Ketika sepasang kekasih berani mewujudkan isyarat Allah untuk menjalani perpisahan dan ikhlas melepaskan, Insya Allah seketika itu juga bahagia akan datang dari pasangan hidup mereka masing-masing. And that's the true happiness." demikian kata salah seorang sahabat saya, Riana Ambarsari, di salah satu notes puisi saya :)

Dari hasil renungan itu juga saya mendapati, bahwa terkadang, kita hanya tidak menyadari cinta sejati yang kita miliki di dalam hati...

Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun kita sedang bertengkar dengan pasangah hidup kita, namun kita tetap selalu berusaha saling menjaga nama baik dengan tidak mengumbar permasalahannya?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun beberapa orang melakukannya dalam keadaan emosi, namun kita tetap melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh pasangan hidup kita dengan kelebihan yang kita miliki?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun sedang merasa kesal pada pasangan hidup kita, namun kita tetap menghidangkan minuman baginya dan tetap sepenuh hati merawat anak-anak yang menjadi buah cinta kita?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun mungkin beberapa orang awalnya sempat terpesona oleh orang ketiga, namun kita kemudian segera melepaskan diri darinya, dari gairah atau rasa nyaman yang sempat tercipta, karena ingat keluarga?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun merasa sedih  melihat pasangan hidup kita menyimpang dari jalan kebenaran, namun kita dengan penuh kasih sayang memberikan peringatan?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun awalnya diliputi angkara murka dan air mata, namun pada akhirnya kita tetap memaafkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pasangan hidup kita?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun memulai pernikahan dari tanpa memiliki apa-apa, namun kita tetap mendampingi pasangan hidup kita, bahkan melakukan ikhtiar bersama-sama?
Bukankah cinta sejati namanya, ketika meskipun banyaknya permasalahan hidup dan ketidakcocokan terjadi, namun kita tidak serta merta melenggang pergi, bahkan berusaha lebih memahami?

Dan masih banyak lagi bukti cinta sejati yang masih bisa kita explorasi...

Ketika kita menikah, kita berjanji di hadapan Allah, dan ada tanggung jawab yg muncul akibat ikatan pernikahan. Jadi ketika ada pertengkaran biasanya masing-masing tidak serta merta melenggang pergi, meskipun dengan segala pengorbanan hati kita tetap mencoba mempertahankan ikatan suci, mencoba selalu tetap bersyukur dengan lebih memfokuskan pandangan kepada kelebihan yang pasangan kita miliki.
Karena setiap pertengkaran bagi pasangan suami istri mungkin merupakan isyarat Allah kepada kita agar kita belajar untuk lebih saling memahami...

Terkadang, kita hanya lupa - dan butuh diingatkan kembali - bahwa cinta sejati adalah cinta yang bisa memberikan ketenangan jiwa, seperti ketenangan yang ditimbulkan oleh pelukan dari kekasih tercinta... dan ketenangan jiwa yang sesungguhnya hanya bisa kita peroleh dari hubungan yang sudah dihalalkan oleh agama sehingga tidak berbuah dosa...

Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang paling sulit mengendalikan emosi... Namun bersamanya kita belajar untuk meningkatkan kesabaran diri...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang sering tidak mau mengerti... Namun bersamanya kita belajar untuk selalu mencoba memahami...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang paling egois yang pernah kita temui... Namun bersamanya kita belajar untuk bisa bertoleransi...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri... Namun bersamanya kita belajar untuk menjadi orang yang peduli...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang sulit untuk diajak berdiskusi... Namun bersamanya kita belajar untuk mandiri dalam mencari solusi...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang jarang membantu urusan rumah tangga... Namun bersamanya kita belajar untuk menjadi orang yang multitasking sebagai jalan keluarnya...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang paling posesif di dunia... Namun bersamanya kita belajar bahwa kepercayaan itu mahal harganya...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang tidak memiliki banyak harta... Namun bersamanya kita belajar untuk meniti jalan menuju surga dengan ikhlas mendampinginya...
Mungkin saja pasangan hidup kita adalah orang yang paling sering membuat kita meneteskan air mata... Namun bersamanya kita belajar mencari penghiburan dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa...
Mungkin saja pasangan hidup kita tidak terlihat seperti orang yang terbaik di mata kita... Namun percayalah, dia adalah pasangan yang terbaik bagi kita menurut Sang Pencipta...

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah : 216).

Jakarta, 11 Oktober 2011
Di Hari Ulang Tahun Pernikahan ke 13th,
Yeni Suryasusanti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar