Selasa, 17 Juni 2014

Lessons from Kids : Ketika Saya Belajar Tentang Pentingnya "Packaging" dan "Timing"


Selalu membuat tercengang, saat menyadari bagaimana anak-anak kita ternyata mengajari kita banyak hal, mungkin malah lebih banyak daripada yang telah kita ajarkan kepada mereka.

Kemarin, 16 Juni 2014, Fian, putra bungsu kami, berulang tahun yang ke 6th.
Karena tahun lalu Fian sudah merayakan di sekolah bersama teman-temannya, tahun ini kami mengarahkan agar dirayakan bersama keluarga inti saja. Kebetulan memang ulang tahunnya jatuh bukan di hari libur.
Kami juga ingin agar "perayaan besar" tidak menjadi budaya wajib sehingga akhirnya menjadi beban. Kami ingin agar moment hari ulang tahun lebih diingat sebagai moment berkumpul bersama keluarga - bisa keluarga inti saja atau keluarga besar - daripada diidentikkan dengan perayaan besar-besaran dalam sebuah pesta dimana kado yang bertumpuk-tumpuk juga menjadi ciri khasnya.

Kue ulang tahun dibuatkan oleh Bude Fatmah Bahalwan tercinta dan diantarkan oleh kurir ke kantor saya yang berlokasi dekat markas NCC. Kue ini merupakan gabungan selera seluruh anggota keluarga : bolu pandan dengan taburan keju gondrong yang menggoda di seluruh permukaannya :D


Fian meminta hadiah ulang tahun berupa tas sekolah dan penggaris, yang walaupun terlihat sebagai pasangan yang ganjil namun membuktikan bahwa hadiah pertama yang dipilihnya adalah sesuai dengan konsep "kebutuhan vs keinginan" yang kami ajarkan kepadanya selama ini terkait dalam pembelian barang. 
"Jika diperkenankan memilih, maka pilihlah barang - dalam hal ini hadiah - yang memang kita butuhkan, jika tidak ada kebutuhan yang mendesak, maka bolehlah memilih barang yang kita inginkan."
Memang tahun ajaran ini Fian akan masuk SD. Tas sekolah yang dipakainya selama masih di TK ukurannya terlalu kecil untuk memuat buku-buku pelajaran SD yang berukuran besar dan banyak itu.
Sementara penggaris yang Fian gunakan di TK adalah penggaris pendek 15 cm, sementara di SD membutuhkan penggaris panjang 30 cm.
Jadi, Fian meminta hadiah yang memang dia butuhkan :)
Siang hari, Fian menelepon saya ke kantor.
Saya bertanya apakah Fian ingin memilih sendiri Tas dan Penggarisnya atau boleh saya saya yang pilihkan.
Fian berkeras ingin memilih sendiri. 
Btw, karakter Fian yang ini memang sungguh berbeda dengan Ifan yg cenderung membiarkan dan menerima apapun yang saya pilihkan untuknya hanya karena dia percaya akan selera saya pasti baik dan percaya akan cinta saya padanya bahwa saya akan memilihkan yang paling bagus dan paling pantas baginya :D
Saya berkata kepada Fian, bahwa jika dia ingin memilih sendiri, berarti hadiahnya terpaksa ditunda menunggu weekend mendatang.

"Fian ulang tahunnya dan potong kuenya kan malam ini, Bunda, jadi hadiahnya harus beli malam ini juga!" Fian menolak dengan keras.
"Tapi kalau kita beli tas dulu, berarti potong kuenya nanti terlalu malam dong..." saya mencoba menawar :D
"Bunda pulang kantor langsung ke Gramedia Central Park aja, nanti Fian tunggu Bunda di sana. Kita beli hadiah untuk Fian, terus langsung pulang. Nggak lama kog... Kan hanya beli Tas dan Penggaris aja..." Atur Fian dengan enteng.

Akhirnya saya setuju.
Suami menjemput saya di kantor untuk sekaligus membawa kue tart, sementara Ifan, Fian dan pengasuhnya membuat janji temu dengan kami di Gramedia Central Park yang memang hanya berjarak 5 menit dari kediaman kami.

Namun, setelah tiba di Gramedia, ternyata moment untuk membeli Tas memang tidak tepat.
Stock pilihan Tas yang ada tidak begitu banyak dan tidak istimewa pula baik dari segi model maupun harga. Saya menduga hal ini terjadi karena liburan sekolah belum lagi dimulai, dan belum terlalu dekatnya waktu tahun ajaran baru. Sementara saat liburan anak sekolah lah biasanya muncul film-film karakter untuk anak yang diikuti berbagai merchandise.
Kami mencoba pindah ke Kids Station yang hanya berbeda 1 lantai saja, namun ternyata sama saja stock pilihannya, bahkan harganya.

Akhirnya saya memberikan pilihan kepada Fian lengkap dengan konsekuensi pilihannya.
"Fian boleh memilih Tas Sekolah saat ini atau menunggu bulan depan menjelang masuk sekolah. Kalau Fian beli sekarang, bulan depan saat tahun ajaran baru biasanya akan keluar model yang baru. Saat keluar model baru yang Fian inginkan, Fian sudah nggak bisa beli lagi karena sudah terlanjur beli sekarang. Kalau Fian beli bulan depan, memang hadiah Fian jadi tertunda. Tapi, akan ada lebih banyak pilihan model dan harganya. Terserah Fian..." jelas saya lugas.
"Tapi Fian mau buka hadiah ulang tahun malam ini Bun..." kata Fian ragu, karena jelas baginya ulang tahun dan hadiah sebaiknya bersamaan waktunya.
"Gimana kalau hadiahnya kita ganti saja dulu? Bulan depan Bunda akan tetap belikan Tas Sekolah karena memang perlu. Tapi hadiah ulang tahun Fian malam ini kita ganti dengan yang lain dulu..." usul saya mencoba berkompromi.

Fian setuju dan mulai memilih.
Di Kids Station, saya menolak dengan tandas pilihan alternatif pertamanya yaitu mainan Minion yang walaupun sedang discount 30% namun masih tercetak seharga lebih dari Rp 500.000,-. Saya memberikan pilihan bahwa Fian akan kehilangan kesempatan membeli Tas baru untuk tahun ajaran baru dan hanya bisa memakai Tas abangnya yang lama namun masih bisa dipakai jika memang memaksa membeli Minion itu :D

Saya menggiringnya kembali ke Gramedia, karena bagi saya buku lebih bermanfaat dan lebih "ramah" harganya :D
Dengan bersemangat Fian memilih, dan akhirnya pilihannya jatuh pada Komik Smurf dan 2 kotak Puzzle Hot Wheels @ 117 pieces.
Saat menuju ke kasir, Fian berhenti di tempat bungkus kado.
"Bunda, hadiah itu harus di bungkus..." pintanya.
"Lho, kan Fian udah tahu apa hadiahnya? Kenapa harus dibungkus lagi?" tanya saya setengah geli.
"Karena ini kan 'hadiah' ulang tahun Bun, jadi harus dibungkus kado..." sekali lagi Fian meminta sambil tersenyum manis.

Saya menyerah, mengikuti kemauannya. Setelah hadiah dibungkus dan dibayar, saya saat itu juga menyerahkan bungkusan tersebut kepada Fian,
"Ini Fian, selamat ulang tahun..."
"Makasih Bunda..." ucap Fian sambil memeluk saya, menerima hadiah tersebut sebentar, dan mengembalikan hadiah tersebut kepada saya. "Tapi Bunda sekarang pegang dulu ya... Nanti kalau udah sampai di rumah, udah di depan kue ulang tahun, baru Bunda kasih lagi ke Fian hadiahnya..." kata Fian dengan serius.

*Ya Allah...*

Malam ini, kami menjalankan semua ritual ulang tahun : Doa yang dipimpin oleh Papa saya yang kebetulan sedang ada urusan di Jakarta, menyanyi lagu selamat ulang tahun bersama-sama, pemberian hadiah, potong kue, pembagian kue dan makan kue bersama.
Saat saya menyerahkan hadiahnya yang terbungkus rapi, Fian tersenyum manis dengan sorot mata berbinar-binar, balas memeluk dan mengecup pipi saya sambil berkata, "Makasih ya Bun..."
Sebagai catatan, pada saat pembagian kue, secara mengejutkan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, potongan kue pertama Fian berikan kepada Ifan. 
Saat suami saya protes kog bukan Bunda, Fian lalu berkata, "Iya, nanti, abang dulu ya..."
Hebatnya, saat potongan kue kedua diberikan, Fian memberikan kue tersebut kepada saya sambil berkata, "Yang ini untuk Bunda, karena yang ini paling banyak kejunya..."

***

Ya Allah, Alhamdulillah....
Malam itu, saya belajar banyak dari Fian.

Lucu rasanya, merasa diingatkan oleh anak usia 6th bahwa romantisme bisa terjadi dengan packaging dan timing yang tepat :)

Saya yang selama ini dalam banyak hal lebih menekankan dan mementingkan Isi dari pada Kemasan, belajar dari Fian bahwa meskipun Isi  memang penting, namun Packaging dan Timing juga tidak kurang pentingnya.
Tak peduli kita sudah mengetahui apa isinya, Hadiah yang diserahkan dalam keadaan terbungkus rapi tentu akan jauh lebih menyentuh hati.
Demikian juga dengan waktu pemberian hadiah. Pemberian hadiah pada waktu yang Tepat akan jauh lebih meningkatkan arti. 
Jadi, untuk kesuksesan seputar romantisme dan kasih sayang - dan banyak hal lain dalam hidup - niat dan tindakan lugas saja terkadang belum cukup :D

Selain itu, saya juga belajar bahwa tidak seperti yang diragukan sebagian besar orang, strategi, diplomasi dan ketulusan hati ternyata juga bisa berjalan beriringan.
Sungguh saya takjub akan kecermatan Fian saat pembagian kue ulang tahun, takjub akan sikap penuh pertimbangannya.
Fian memastikan abangnya senang menjadi penerima kue yang pertama karena selama ini Fian paling sering mengganggu Ifan, namun Fian juga memastikan bahwa saya mengetahui bahwa saya juga tidak luput dari perhatiannya karena mendapatkan bagian yang paling banyak kejunya - sesuai dengan kesukaan saya - meskipun hanya menjadi penerima kue yang kedua :D

Ahmad Balda Arifiansyah, Bunda berdoa, semoga saja sikap penuh pertimbangan yang menjadi ciri orang yang bijaksana - sesuai doa yang diwujudkan dengan pemberian penggalan dari namamu : Arif - ini akan tetap dibawa hingga dewasa, hingga bisa menyejukkan hati orang-orang terkasih yang berada disekelilingmu...

Jakarta, 17 Juni 2014
Yeni Suryasusanti

Jumat, 13 Juni 2014

Tentang Bahagia...


Sahabat,
Kebahagiaan itu tidak bisa dicari
Namun tidak perlu membuat galau diri
Karena ia hanyalah sebuah kondisi
Jika kita terus berusaha keras mencari kebahagiaan hingga membuat hati gelisah
Ia mungkin justru tidak akan bisa kita temukan hingga jiwa dan raga kita terpisah

Sahabat,
Kebahagiaan itu hanya ada dalam hati yg merasa "cukup"
Yang sulit didapat ketika iman kita sedang meredup
Ia hanya bisa diperoleh jika kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya dalam hidup
Namun tentu tanpa membuat pintu perbaikan diri menjadi tertutup

Sahabat,
Mungkin itu makanya banyak orang berkata
Bahwa dia memiliki banyak harta tapi tidak merasa bahagia
Mungkin itu karena meskipun dirinya kaya raya
Tetapi dia tidak merasa cukup dengan harta kekayaannya

Sahabat,
Ada juga sebagian dari kita yang sudah memiliki pasangan hidup yang luar biasa baiknya
Tetapi dia tidak merasa bahagia, atau merasa belum cukup bahagia
Mungkin itu karena dia selalu fokus pada kekurangan yang dimiliki oleh pasangan hidupnya
Sehingga dia tidak merasa pasangannya "cukup" baik bagi dirinya

Sahabat,
Bahagia ataupun tidak, yakinlah bahwa cobaan hidup akan selalu ada
Karena syaitan memang berjanji untuk terus menggoda manusia hingga akhir dunia
Jadi, tidak seperti dalam dongeng Cinderella
Tidak mungkin kita merasa berbahagia sepanjang masa ketika bahagia akhirnya tiba
Karena yang kekal itu di akhirat adanya
Sementara di dunia
Allah memberi kita penderitaan pula
Bahkan mungkin bertepatan dengan saat kita merasa bahagia di sisi lain kehidupan kita

Sahabat,
Mungkin ini yang dinamakan keseimbangan di dunia
Karena kita akan jauh lebih mampu menghargai manisnya bahagia
Jika kita pernah merasakan pahitnya derita...

Jakarta, 13 Juni 2014
Untuk menjawab pertanyaan pagi ini dari seorang sahabat yang sedang merasa paling menderita di dunia, semoga Allah memberikan kemudahan kepadanya...
Yeni Suryasusanti

Jumat, 25 April 2014

Ketika Kita Merasa Jenuh dan Lelah...

 


Saya rasa setiap orang pasti pernah merasakan titik jenuh akibat lelah dalam kehidupan.
Titik dimana kita seperti merasa ingin muntah karena semua seperti menimpa kita sekaligus. Ketika kita merasa sudah memberikan yang terbaik namun hasilnya masih tidak seperti yang kita harapkan – bahkan tidak menghasilkan apa-apa karena memang tidak ada yang berhasil selesai – karena banyak elemen yang terkait yang terkadang kemampuan elemen tersebut tidak berada dalam kekuasaan kita karena kita memang hanya memiliki kekuasaan penuh atas diri sendiri, bukan atas orang lain.

Apa yang harus kita lakukan pada saat itu?
Bagaimana caranya menawarkan rasa mual ingin memuntahkan semua dengan kata-kata pedas yang nyaris sudah terbentuk di ujung lidah namun menyadari bahwa jika kita lakukan hal itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih parah?
Menarik diri sejenak mungkin merupakan solusi sementara yang terbaik, namun membayangkan hal buruk yang bisa terjadi tanpa bisa kita cegah saat kita menarik diri pun membuat pilihan ini tidak lagi menjadi yang terbaik.
Keluar dari masalah ini tanpa peduli juga bisa menjadi pilihan, namun bayangan kata “gagal melewati” mungkin akan membayangi pikiran kita seumur hidup.

Ketika rasa muak berbenturan dengan tanggung jawab dan akhlak, juga ketika rasa jenuh berbenturan dengan rasa butuh, ketika itulah kita merasakan sebuah dilema.
Dan belajar memang tidak mengenal usia. Setiap kali kita mengira satu masalah telah selesai dan kita telah mengambil hikmah dibaliknya, selalu saja ada pelajaran baru untuk kita jalani berikutnya. Semua kemudian berulang, namun dengan tingkatan yang lebih tinggi dan masalah yang biasanya semakin parah.

Di Paskibra 78, kami belajar untuk bertahan dan tetap menjalani setiap bagian terpahit dari kehidupan, dengan selalu mengedepankan tanggung jawab dan kewajiban. Kami belajar untuk berhenti disaat semua tugas telah selesai kami jalani. Karena memang hidup itu adalah perjuangan.
Disaat semua beban serasa tak tertanggungkan, Alhamdulillah selalu Allah mengirimkan bantuan. Entah itu berupa pendampingan, pengalih perhatian, kemudahan atau hanya sekadar tambahan daya tahan.
Tidak ada yang mengatakan hidup itu mudah. Namun ketika kita akhirnya berhasil melewati prosesnya dengan tetap memberikan yang terbaik dari diri kita dan dengan ikhlas menerima apa pun hasilnya, ketika itulah kita bisa melihat ke belakang dan berkata, “Ya, saya bisa.”

Saya percaya, ketika saya sampai di titik terparah dari sebuah masalah, pada akhirnya saya akan berhasil melalui semuanya, karena Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak tertanggungkan.
Jadi, setiap kali rasa ingin muntah karena jenuh dan lelah itu sampai pada titik terparah, saya akan mencoba untuk bertahan dan menguatkan hati dengan berkata, “Insya Allah, ini semua akan menjadi ibadah…”

Karena hidup di dunia ini hanyalah sementara…

Jakarta, 25 April 2014
Yeni Suryasusanti

Selasa, 04 Februari 2014

Seberapa Jauh Kita Ikut Bertanggungjawab?


Tulisan ini saya buat karena tergelitik dengan cerita suami saya tentang sebuah resepsi pernikahan yang dihadirinya bersama Papa saya dan Ifan.

Ketika undangan tersebut datang ke rumah untuk Papa saya, sudah terdengar omelan Papa ketika membacanya.
"Undangan kog Bahasa Inggris semua redaksinya. Emangnya dia orang apa sih?"
Hahahaha....
Omelan ini bukan karena Papa tidak menguasai Bahasa Inggris, sama sekali bukan. Sejak masih aktif bekerja Papa juga bolak balik ditugaskan ke luar negeri dan penguasaan Bahasa Inggris Papa sangatlah baik.
Namun, Papa berpegang teguh pada peribahasa Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung dan selalu berusaha tidak menjadi Kacang yang lupa pada kulitnya.
Jadi penggunaan Bahasa Inggris sepenuhnya pada Undangan Pernikahan dimana yang menjadi mempelai adalah orang Indonesia lumayan mengganggu perasaan Papa :D

Menyimpang sejenak dari topik cerita, beberapa hasil kerja saya merupakan Formulir Administrasi untuk pelanggan. Saya selalu membuatnya 2 bahasa untuk mengantisipasi pelanggan asing. Namun, bahasa yang diutamakan adalah Bahasa Indonesia, ditandai dengan peneraan Bahasa Indonesia dahulu baik pada judul formulir maupun isi formulir, baru kemudian pada baris berikutnya diberikan terjemahan Bahasa Inggrisnya.
Bagi saya ini merupakan pernyataan sikap, karena formulir ini digunakan oleh mayoritas pelanggan Indonesia sedangkan pelanggan asing hanya minoritas saja :)

Dari Undangan Pernikahan yang Papa terima, terbersit tanya dalam pikiran saya.
Seberapa jauh sang pengantin dan keluarganya ikut andil dalam pudarnya kecintaan pada Bahasa Indonesia?
Karena dengan memberikan undangan yang berbahasa selain Bahasa Indonesia berarti ikut membantu menyebarkan Trend penggunaan Bahasa Asing pada acara resmi keluarga.
Berapa banyak calon pengantin dan keluarga yang akan mengikutinya?

Karena saya tidak ikut hadir pada acara pesta pernikahan tersebut, saya bertanya pada suami saya yang mengantar Papa bersama Ifan tentang kesannya terhadap acara pesta pernikahannya.
"Keren sih... Mewah... Tapi... Nggak ada aura tradisionalnya. Yang tradisional hanya baju adat dan pelaminannya. Selain itu, kesannya modern, seperti yang biasa dibuat EO gitu deh..."

Islam memang mengatur tentang akad nikah.
Setiap akad nikah pastinya akan menjadi moment yang membuat isi dada kita bergetar. Bahkan, kita terkadang ikut tegang dan menahan napas ketika mempelai pria sedang mengucapkan ijab kabul.
Namun untuk pesta pernikahan, atau walimah, sepanjang pengetahuan saya tidak ada aturan baku penyelenggaraannya.

Saya jadi teringat acara pesta pernikahan saya sendiri.
Dimana aura tradisional demikian kental baik ketika pesta di Jakarta maupun saat pesta ngunduh mantu di Lampung.
Untuk acara di Jakarta, kami tidak menjalani upacara acara adat lengkap.
Acara perkenalan keluarga dilakukan sekitar setahun sebelum menikah. Acara Lamaran dilakukan 2 bulan sebelum menikah. Acara seserahan malam sebelum akad nikah. Ketiga acara tersebut dijalankan tanpa nuansa adat tradisional, hanya memenuhi etika dan norma sosial. Sementara akad nikah dijalankan sesuai arahan KUA.
Baru pada acara pesta pernikahan ada nuansa tradisional yang kuat.
Undangan pesta pernikahan kami pun bernuansa wayang golek.
Kami bukan hanya menggunakan pakaian adat Sunda dan pelaminan yang sesuai dengan asal daerah Papa saya. Namun juga pelengkap acaranya seperti atraksi mapag pengantin untuk penyambutan pengantin yang ditutup dengan tarian tradisional.
Alat musik yang ada di dalam ruangan yang digunakan sebagai musik latar bukanlah Keyboard dan Biduanita, melainkan Degung Sunda :)

Terlebih lagi saat di Lampung, dimana keluarga suami saya memang masih sangat kuat adat istiadatnya.
Mengutip ucapan almarhum ayah mertua saya yang bijaksana, "Adat wajib dijalankan, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka Adat akan ditinggalkan dan ajaran Islam yang wajib dijalankan."

Tidak heran, pada masa itu saya menilai pesta pernikahan merupakan moment yang terasa sangat sakral yang membuat dada kita tergetar baik dari aura ruangannya, pengantinnya maupun para undangannya.

Lalu, pergeseran budaya terjadi. Tentu diawali oleh beberapa generasi muda yang terpengaruh kata globalisasi.
Bukannya saya tidak menyukai romantisme... Namun jujur saya katakan, bagi saya agak menyedihkan bagaimana pesta pernikahan bergeser dari sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang sekedar romantis.
Getaran hati yang saya rasakan sungguh jauh berbeda.
Dulu, ketika memasuki gedung pernikahan yang penuh nuansa tradisional, maka saya akan langsung menarik nafas dalam-dalam dengan dada bergetar.
Namun sekarang, ketika saya memasuki ruangan pesta dimana biasanya para tamu langsung disambut dengan parade foto pre wedding, maka reaksi saya umumnya bukan lagi menarik nafas dalam dengan dada bergetar, namun reaksi saya malah seperti layaknya bintang iklan di TV yang bersuara manja dan seolah bermimpi, "Ooohhhh... sooo sweetttt...." :D

Dari acara pesta pernikahan yang dihadiri suami saya, terbersit tanya dalam pikiran saya.
Seberapa jauh sang pengantin dan keluarganya ikut andil dalam pudarnya kecintaan pada Adat Istiadat dan bahkan hilangnya Budaya Asli Indonesia?
Karena dengan mengadakan pesta pernikahan bertema Internasional berarti ikut membantu menyebarkan Trend penggunaan budaya internasional pada acara resmi keluarga Indonesia.
Berapa banyak calon pengantin dan keluarga yang akan mengikutinya?

Kemudian, di depan Papa saya, suami saya bercerita tentang antusiasme Ifan ketika mengelilingi ruangan untuk melihat makanan dan minuman apa saja yang tersaji di sana.

Berikut percakapan keduanya...

"Ayah, tau nggak, diluar situ ada Bir, Wine dan Champagne lho Yah!" celoteh Ifan bersemangat.
"Kog Ifan tau itu minuman apa aja?" suami saya sambil nyengir balas bertanya.
"Ifan tanya sama pelayannya itu apa... trus dijelasin deh!" tutur Ifan.
"Oooooo.... Emangnya Ifan mau nyicip kog pake tanya-tanya?" selidik suami saya sambil tersenyum.
"Nggak kog, Ifan mau tau aja itu apa... Ifan nggak mau minum kog... Haram!" sahut Ifan tegas dengan suara cukup keras :D

Di dekat Ifan, banyak kepala menoleh ketika kata "Haram" diucapkan Ifan dengan tegas namun enteng sambil berjalan. Bahkan seorang bapak yang tadinya memegang gelas minuman, langsung meletakkan gelasnya tanpa menghabiskan dan berlalu ke lain ruangan :D

Saya bertanya kepada Papa saya, karena beliau merupakan teman dari orangtua salah satu mempelai, "Lho, bukannya oom itu muslim pa? Kog pestanya ada bir segala?"
"Iya muslim, dan besannya setahu Papa muslim juga, tapi penyelenggara pestanya sepertinya besannya sih, dan memang tamunya banyak orang bule dan cina juga..." jawab Papa saya.

Dari minuman alkohol yang hadir pada acara pesta pernikahan itu, terbersit tanya dalam pikiran saya.
Seberapa jauh sang pengantin dan keluarganya ikut andil dalam dosa memberikan minuman yang tidak baik efeknya kepada para tamu meskipun kebanyakan yang meminum adalah tamu non muslim yang tidak menetapkan keharaman atas minuman tersebut?
Karena dengan menyediakan minuman beralkohol pada pesta pernikahan bisa menjadi godaan bagi tamu muslim yang belum begitu kuat akidahnya untuk mencoba meminum minuman yang diharamkan tersebut.
Berapa banyak calon pengantin dan keluarga yang akan mengikuti trend ini juga nantinya?

Inilah tulisan pertama saya di tahun 2014, disempatkan untuk dituliskan dan didorong pula oleh keharuan serta kebanggaan akan ketegasan Ifan yang semoga saja kelak bisa berpengaruh baik bagi lingkungannya...

Sungguh, saling tolong menolong dalam kebajikan dan saling ingat mengingatkan dalam kesalahan adalah tugas umat Islam...

Mungkin ada baiknya, jika sebelum melakukan sebuah tindakan yang memberikan pengaruh kurang baik pada orang-orang di sekitar kita, hendaklah kita bertanya pada diri kita : Seberapa jauh kita ikut bertanggungjawab?

Jakarta, 4 Februari 2014
Yeni Suryasusanti

Sabtu, 02 November 2013

Ketika Saya Belajar Tentang Nilai Sebuah Kecantikan dan Harga Perawatannya :)


Menjadi seorang anak, saya membuktikan bahwa perkara "keturunan" bukanlah semata-mata mengenai hal-hal yang berbau genetika seperti wajah yang mirip dan kulit yang bisa jadi sejenis, namun sifat dan skala prioritas dalam hidup juga bisa kita adopsi tanpa kita sadari.
Ibu saya adalah wanita yang termasuk beruntung dianugerahi kecantikan alami, dengan jenis kulit yang normal dan tidak bermasalah. Sementara papa saya memiliki kulit yang cenderung berminyak dan berjerawat.
Alhamdulillah, saya menurunkan jenis kulit Ibu, sementara kakak saya Yesi menurunkan jenis kulit Papa.
Saya masih ingat betapa karena itu kakak saya terpaksa harus meluangkan waktu, usaha dan biaya yang lebih besar untuk mengatasi persoalan kulitnya. Facial dan kunjungan ke dokter kecantikan secara rutin merupakan salah satu usahanya untuk merawat kecantikan. Membersihkan wajah dengan lebih ekstra teliti setiap kali habis keluar rumah dan setelah menggunakan make up merupakan keharusan baginya.
Sementara saya, karena anugerah Allah tersebut menjadi sedikit lebih santai. 
Perawatan wajah yang saya lakukan hanyalah menggunakan pelembab wajah - tanpa foundation karena saya tidak suka efek tebal di wajah yang ditimbulkan olehnya - sebelum memakai bedak, menggunakan susu pembersih 2 in 1 sebelum tidur (itupun tidak selalu saya lakukan hehehehehe), dan membersihkan wajah dengan sabun muka setiap kali mandi. Untuk perawatan rutin (yang saya lakukan dengan tidak terlalu rutin hehehehe...) saya hanya mengerjakan sendiri peeling wajah dan masker praktis yang tinggal dioles dengan kuas saja :D
Sedangkan facial? Jujur, saya baru melakukannya 2 kali seumur hidup saya : pertama kali ketika menjalani paket perawatan pengantin saat hendak menikah, lalu ketika saya sedang berlibur ke Pekalongan ke tempat seorang sepupu yang merupakan dokter kecantikan dan memiliki spa di sana. Alhamdulillah, dia bersikeras agar saya menjalani perawatan wajah dengan tanpa biaya tentunya :)

Ibu saya adalah seorang wanita bekerja juga seperti saya. Dan sedikit banyak saya menduplikasi nilai-nilai hidup beliau dan skala prioritas dalam hidupnya. Managemen rumah tangga yang beliau lakukan terbukti sukses menempatkan dirinya sebagai Istri, Ibu dan Wanita Karier yang seimbang. Saya tidak pernah melihat Ibu pergi ke salon untuk melakukan perawatan kecantikan. Sepanjang ingatan saya, perawatan kecantikan rutinnya adalah dengan menggunakan "bedak dingin" secara rutin sebelum tidur malam hari :D
Meski demikian, Ibu tetap cantik, kulitnya tetap bercahaya menurut saya. Entah karena saya melihatnya dengan mata cinta atau memang demikian adanya :)
Hal ini menjadikan perawatan kecantikan yang memerlukan waktu, usaha dan biaya yang ekstra menjadi bukan prioritas utama bagi saya karena saya juga memiliki jenis kulit yang sama tidak bermasalahnya.
Dulu ketika saya belum menikah dan masih memiliki banyak waktu luang saya memang cukup senang ke salon, tapi yang saya jalani adalah cream bath jika saya ingin santai sejenak, blow rambut jika saya perlu ke pesta yang memerlukan penampilan ekstra dan potong rambut jika model rambut saya sudah berantakan bentuknya :)

Pelajaran tentang hidup memang tidak pernah berhenti begitu saja.
Ketika saya menikah, saya menemukan kenyataan yang berbeda, bahwa bagi sebagian orang, perawatan kecantikan sama pentingnya seperti bernafas.
Ibu mertua saya adalah seorang ibu rumah tangga ideal. Beliau selalu sudah cantik berdandan ketika muncul pagi-pagi keluar dari kamarnya. Waktu yang lebih leluasa pun membuat beliau sempat meluangkan waktu untuk perawatan kecantikan ke dokter sehingga hasilnya, kulit wajah yang putih bersih dan bercahaya diperolehnya :)
Selama ini saya tidak pernah terlalu mempedulikan bagaimana orang lain merawat kecantikannya, sampai suatu ketika Emak - demikian saya memanggil Ibu mertua saya - meminta saya agar melakukan cauter pada tumpukan lemak di kulit wajah saya.
Kulit saya memang jenisnya demikian, ada bintik-bintik sewarna kulit seperti komedo namun bukan yang katanya berasal dari lemak di wajah saya. Dulu sekali - sekitar tahun 2001 - saya pernah melakukancauter ketika bintik tersebut tumbuh di bawah garis mata sehingga menghalangi pandangan mata saya. Duh, rasanya sakit luar biasa!
Setelah tindakan yang menyakitkan tersebut saya sama sekali tidak pernah memikirkan melakukannya lagi dalam waktu dekat. Prinsip saya, jika tidak mengganggu saya dan suami saya, maka masih bisa saya abaikan :D
Namun, penumpukan lemak di wajah ini rupanya tidak luput dari pandangan emak yang kritis.
"Ayo Yen, kita ke dokter Ronny biar di-cauter... Nanti nyesel..." kata Emak kepada saya hampir pada setiap kesempatan kami bertemu.



Saya belajar dari Emak, bahwa kata-kata yang diucapkan terus-menerus ternyata bisa mempengaruhi alam bawah seseorang seperti hipnotis.
Meski saya masih merasa tidak terganggu dengan penumpukan lemak di kulit wajah saya di bagian pipi, namun hal itu terpikirkan setiap kali saya hendak bertemu Emak dalam acara santai keluarga dimana akan ada kemungkinan kami mengobrol ringan panjang lebar tentang segala hal, terbayang bahwa Emak akan sekali lagi mengajak saya ke dokter kecantikan langganan beliau.
Saya menyadari hal itu beliau lakukan sebagai bagian dari rasa sayangnya kepada saya, menantunya yang paling tidak memprioritaskan kunjungan ke salon dan dokter kulit sebagai perawatan kecantikan :)
Jangankan ke dokter, di tas saya saja tidak selalu ada bedak dan lipstik hehehehe... karena saya hanya menggunakannya di rumah, dan hampir tidak pernah memulas ulang memperbaharui make up demi penampilan saya, sekali lagi alhamdulillah karena di masa dewasa saya, saya dianugerahi kulit wajah yang putih dan tidak berminyak, sehingga make up awet menempel di wajah saya meskipun telah terkena air wudhu berulang kali  :D

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendatangi klinik 24 jam di dekat rumah saya. Kebetulan disana ada dokter spesialis kulit dan kecantikan juga. Saya berkonsultasi pada hari kerja setelah pulang kantor.
Dokter Maria berkata, saya sebaiknya datang pada hari sabtu pagi, karena tindakan cauter harus didahului dengan pengolesan gel penghilang sakit. Saya berkata saya mengerti dan akan datang ketika bisa.
Namun, kembali hari-hari saya dipenuhi dengan berbagai hal lain yang saya anggap jauh lebih penting dibanding perawatan kecantikan ekstra tersebut.

Hingga hari Sabtu, 12 Oktober 2013 yang lalu, saya ingat bahwa kami akan berkumpul di rumah mertua saya untuk merayakan Hari Idul Adha bersama-sama seperti biasanya... dan tentu akan bertemu Emak yang mungkin akan kembali mengingatkan saya akan pentingnya merawat kecantikan wajah saya...
Siang itu kebetulan saya dan Fian ada rencana pergi ke rumah Mas Saleh (mentor Paskibra 78) bersama Debby Cintya dan Dewi Damayanti. Disana kami akan bertemu juga dengan Mbak Ayu Magdina, yang merupakan salah seorang Pendiri Paskibra 78. Rencananya saya akan dijemput sekitar Pk. 11.00 WIB.
Pagi itu akhirnya saya memutus secara mendadak untuk melakukan cauter demi menyenangkan hati Emak, juga demi ketenangan hati saya sendiri setiap hendak bertemu beliau.
Ketika suster memulas gel penghilang rasa sakit untuk persiapan tindakan cauter, saya bertanya berapa lama proses ini memakan waktu hingga selesai.
"Cauter-nya sih hanya sebentar, paling 15 menit. Yang lama menunggu gel ini bekerja dulu, sekitar 45 menit, jadi nanti nggak sakit tindakannya..." demikian kata suster.
Saat itu baru jam 9 lewat.
"Oh oke, soalnya saya nanti jam 11 mau ada acara..." kata saya.
Suster itu terbelalak menatap saya.
"Lho, habis di-cauter gimana bisa pergi?" serunya kaget.
"Lho, emang kenapa suster?" tanya saya heran melihat reaksinya.
"Kan nanti selama 3 hari nggak boleh pakai bedak, hanya boleh pake Bioplacenton dan gel yang untuk mata aja..." jelas suster tersebut.
"Lah, emang kenapa kalau pergi nggak pakai bedak? Kan nggak masalah?" tanya saya semakin bingung.
"Nanti kan banyak bekas luka bakarnya hitam-hitam... Pasti bakal banyak yang tanya..." katanya sekali lagi mengungkapkan kebingungannya.
"Kalau ada yang tanya nanti saya tinggal bilang habis di-cauter..." kata saya enteng :D
Sang suster menatap saya takjub. Ternyata jawaban saya itu terdengar aneh baginya.
"Tenang aja suster... Di tempat saya acara nanti, nggak ada yang perduli seperti apa tampang saya... Mereka hanya peduli apa isi otak dan hati saya kog..." seloroh saya sambil tertawa.

Meskipun saya mengucapkan kalimat itu dengan bercanda, namun memang demikian adanya.
Di Paskibra 78, kami tidak terlalu mempedulikan kecantikan seseorang.
Yang penting penampilan kami pantas dan sopan, itu sudah cukup. Kami lebih mempedulikan karakter. 

Setelah tindakan cauter yang menyakitkan - meski telah dibubuhkan gel penghilang sakit - selesai, Dokter Maria menyampaikan pesan-pesan untuk merawat wajah saya.
Selama 3 hari saya tidak boleh mengenakan kosmetik apa pun. Tidak boleh membersihkan wajah dengan sabun muka. Wajah saya hanya boleh dibersihkan dengan menyiramnya dengan Aqua tanpa diusap, dan termasuk ketika berwudhu yang juga harus dilakukan dengan Aqua!
Luka di wajah harus dibubuhi Bioplacenton, sementara yang disekitar mata dibubuhi Gentamicin dua kali sehari, pagi dan malam hari.
Bekas luka bakar tidak boleh dikelupas hingga terkelupas sendiri.
Dan saya diminta datang untuk kontrol pada hari Kamis berikutnya.

Dari penuturan dan kecerewetan Dokter Maria saya belajar hal lain.
Saya belajar membedakan antara Dokter Spesialis Kulit yang melakukan pengobatan untuk penyakit kulit secara umum dengan Dokter Spesialis Kulit yang mengkhususkan diri untuk Kecantikan.
Dulu, saat melakukan cauter yang pertama, saya dibantu oleh Dokter Spesialis Kulit biasa, bukan yang khusus menangani Kecantikan.
Saran-saran medisnya sederhana - cocok dengan saya yang tidak pernah mau repot - dan saya tidak perlu datang untuk kontrol lagi kecuali bekas luka bakar saya terasa mengganggu lebih dari kewajaran.
Saya tidak diminta mencuci muka dengan air steril seperti Aqua, dan boleh mencuci wajah dengan sabun muka ketika dirasa bekas luka bakar akibat cauter tidak lagi terasa perih.
Jadi, saran-saran Dokter tersebut hanya semata-mata menghindari akibat medis.
Namun, karena Dokter Maria adalah Dokter Spesialis Kulit khusus Kecantikan, maka saran-saran medisnya juga berbeda.
Perawatan dan antisipasinya lebih luar biasa, karena prioritas utamanya bukan hanya sekedar menangani kulit yang bermasalah hingga masalahnya hilang, namun juga membuat pasiennya menjadi "Cantik".
Karena itulah saran-saran medisnya luar bisa, menjaga agar kulit yang sudah dilakukan tindakan tidak mengalami iritasi agar pulih dengan sempurna, sehingga tidak mengganggu secara estetika.

Dari Susternya saya belajar hal lain lagi.
Tentang "Nilai Kecantikan" bagi beberapa tipe orang bisa berbeda.
Selama ini, bagi saya, kecantikan itu merupakan rasa nyaman menjadi diri sendiri apa adanya asalkan sesuai dengan tempatnya. Tidak masalah jika kita tidak mengenakan make up di wajah selama kita nyaman dengan itu dan acara tersebut tidak mengharuskan kita mengenakan make up yang terkadang kita butuhkan untuk citra diri maupun perusahaan yang kita wakili.
Namun ternyata, bagi sebagian wanita, bepergian tanpa mengenakan bedak dan dengan wajah yang penuh bekas luka perawatan merupakan masalah yang tidak bisa dianggap sepele meskipun mereka hanya pergi ke rumah keluarga dekat saja.
Dari sang Suster saya juga mendapatkan informasi, bahwa perawatan wajah facial setidaknya perlu dilakukan 2-minggu sampai sebulan sekali. Katanya, untuk mencerahkan kulit wajah. Dan biayanya sekitar Rp 300.000,-. Besar kecilnya biaya ini tergantung masalah kulit wajahnya.

Setelah selesai melakukan perawatan kecantikan ekstra tersebut, tibalah saatnya saya membayar dokter, tindakan dan biaya obatnya. Saya diberikan antibiotik kapsul, salep Bioplacenton dan Gentamicin.
Semuanya menghabiskan biaya lebih dari Rp 600.000,-!

Bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan perawatan wajah ekstra, mungkin biaya ini wajar saja.
Tapi bagi saya yang asing dengan pengeluaran jenis ini, harga tersebut bagi saya sungguh luar biasa.
Bukan masalah nilai rupiahnya, karena saya cukup sering mengeluarkan biaya sebesar itu untuk dihabiskan di gramedia, dimana dengannya saya bisa membeli novel yang ditulis oleh pengarang kesukaan saya, membelikan novel dan berbagai eksiklopedi untuk Ifan, dan buku cerita bergambar untuk Fian.
Namun yang menjadi ganjalan bagi saya adalah nilai manfaatnya.
Jika kulit wajah saya memang bermasalah, lain lagi persoalannya. Saya tentu lebih mudah menerima besarnya biaya yang saya keluarkan karena tujuan perawatannya adalah "memberbaiki" penampilan yang memang sangat perlu diperbaiki. Namun, untuk kasus kulit saya saat ini dimana penumpukan lemak terjadi di daerah pipi, sesungguhnya saya tidak terlalu merasakan perbedaan sebelum dan sesudah tindakancauter karena memang masalah kulit kali ini tidak mengganggu secara langsung seperti dulu saat ada penumpukan lemak di bawah garis mata yang memang membuat pandangan saya terganggu.



Namun, dari kejadian ini saya juga belajar, bahwa terkadang ada harga yang tinggi yang harus dibayar baik untuk ketenangan hati orang yang kita cintai maupun untuk kita sendiri.


Ketika sampai di rumah, Ifan dan Fian kaget melihat wajah saya penuh bekas luka bakar.
"Bunda kenapa mukanya?" demikian mereka bertanya dengan nada suara khawatir.
Saya menjelaskan tentang tindakan cauter yang dilakukan oleh dokter, sebab dilakukan dan akibatnya.
Ifan menerima penjelasan tersebut tanpa bertanya lebih lanjut. Namun Fian yang memiliki sifat ingin tahu yang lebih tinggi mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah saya.
"Jangan Fian! Nanti bunda makin sakit mukanya!" seru Ifan sang pelindung seketika.
Sambil menatap saya lekat-lekat, Fian berkata,
"Bunda, mukanya jangan dibakar lagi ya... Nanti Fian nggak bisa pegang pipi Bunda kalau bilang sayang Bunda..."
Fian memang romantis. Setiap kali dia menyatakan sayang kepada saya, tangannya selalu ditangkupkan ke wajah saya :D
"Yang suruh cauter ke dokter ini Atin Cewek (panggilan mereka kepada Emak), Fian..." jelas saya ingin tahu reaksinya saat mendengar neneknya lah yang menyarankan tindakan yang mengakibatkan luka bakar di wajah saya :D
Fian terbelalak, lalu berkata tegas,
"Nanti Fian yang akan bilang sama Atin Cewek jangan suruh Bunda bakar mukanya lagi!"
Hehehehehe.....
Dari Ifan dan Fian, saya belajar bahwa karakter seseorang menentukan sikap mereka ketika membela orang yang dikasihi dan sejauh apa mereka bersedia bertindak tanpa diminta.
Ifan sang pelindung yang lembut hati, tidak banyak bertanya namun waspada terhadap serangan langsung yang berpotensi menyakiti orang yang disayanginya dengan bereaksi seketika saat Fian hendak menyentuh wajah saya yang penuh bekas luka bakar cauter.
Fian sang pembela yang lebih agresif, langsung mewawancarai saya untuk mengetahui masalahnya secara lebih jelas, kemudian dengan tegas mengambil tindakan yang menurutnya merupakan akar permasalahannya agar tidak terjadi lagi kejadian yang menyakiti saya :D

Pelajaran hidup yang saya dapatkan dari pengalaman ini tidak hanya sampai disini.
Pada hari Senin, 14 Oktober 2013 saya pergi ke Thamrin City berdua dengan suami saya untuk membeli beberapa keperluan. Ketika kami bertransaksi di sebuah toko, pemiliknya - seorang wanita yang cukup menarik dan terlihat berdandan - yang bertindak sebagai kasir berkomentar melihat bekas luka bakarCauter di wajah saya.
"Habis perawatan ya Kak?" tanyanya memulai percakapan ringan.
"Oh iya, abis di cauter..." jawab saya enteng.
"Kulitnya bagus banget deh Kak... Biasa perawatan rutin dimana?" tanya sang wanita pemilik toko terlihat jelas ingin tahu.
Saya sejenak tertegun, agak bingung harus menjawab bagaimana karena saya tidak melakukan perawatan wajah secara rutin, melainkan tergantung kesempatan dan kebutuhan saja yaitu baru 3 kali sepanjang usia saya.
"Waduh, kalau perawatan rutin saya nggak pernah mbak... Tapi kalau cauter ini saya lakukan di dokter kecantikan di klinik 24 jam dekat rumah saya..." jelas saya apa adanya.
"Ah, nggak mau ngasih tau ya... Tapi emang gitu sih biasanya... Kalau perempuan cantik itu nggak pernah mau kasih tahu pakai dokter yang mana untuk perawatan..." si wanita pemilik toko tersenyum maklum.
"Ha? Yang bener? Emang perempuan pada suka begitu?" tanya saya terperangah.
"Iya Kak... Supaya nggak ada yang menyaingi mungkin ya..." 
"Wah, tapi saya berani bilang Demi Allah lho kalau saya memang nggak pernah perawatan wajah rutin ke dokter..." 
Gantian sang wanita pemilik toko yang terperangah :D

Pelajaran hari itu yang saya dapatkan adalah mengenai lunturnya semangat untuk berbagi ilmu dan manfaat bagi sebagian orang di beberapa bidang tertentu.
Hingga saat saya menuliskan cerita ini, hal itu masih terasa cukup mengganggu bagi saya, yang terbiasa sejak kecil diajarkan betapa bahagianya jika kita berbagi manfaat, bersama-sama berlomba mencapai kebaikan, dan bukannya menghambat orang lain agar kita menjadi satu-satunya orang yang baik dan bermanfaat.

Yang cukup mengherankan bagi saya, dimanakah semua orang tipe tersebut berada selama ini?
Mengapa saya jarang bersilang jalan dengan mereka?
Namun demikian, saya masih ingat dengan jelas perkataan sepupu saya yang dokter kecantikan itu tentang alasan mengapa dia memilih menjadi dokter kecantikan dibandingkan dengan dokter bidang lain.
"Wanita itu dek, bersedia menderita dan membayar mahal meskipun hanya untuk menjadi cantik selama 1 jam saja... Apalagi untuk menjadi cantik dalam jangka waktu yang lama... Jadi kalau mau cari uang banyak, masuklah ke segmen wanita dan kecantikan..."

Selama ini saya merasa di sekeliling saya ada banyak sekali orang-orang yang senang berbagi ilmu dan manfaat. Dengan gratis pula... Paskibra 78, Natural Cooking Club, Group Millenial Learning Centre dan masih banyak lagi.
Namun jika mempercayai penuturan sang wanita pemilik toko dan sepupu saya itu, sepertinya orang tipe tidak senang berbagi dan bersedia menderita serta membayar mahal untuk cantik itu banyak mereka temui di sekeliling mereka. Hal ini paling mungkin terjadi karena mereka bekerja di bidang yang membuat mereka cukup sering bertemu dengan orang-orang seperti itu, orang-orang yang lebih memprioritaskan penampilan daripada karakter dan hati meskipun tidak berarti mereka mengabaikannya sepenuhnya karena mungkin menjadi cantik merupakan tuntutan di lingkungan mereka.

Satu lagi pelajaran yang bisa saya ambil kesimpulannya : Seleksi alam memang berlaku dalam kehidupan sosial seseorang.
Kelompok-kelompok memang terjadi akibat adanya kesamaan karakter, visi dan misi, prioritas hidup dan masih banyak lagi.
Jadi, jika kita ingin berada di lingkungan yang baik, saya rasa kuncinya adalah dengan selalu menjaga semangat menebar manfaat dan selalu berusaha memperbaiki diri sendiri...

Tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang berbagi kepada Mbak Ayu Magdina, Poppy Yuditya, Debby Cintya dan Dewi Damayanti. Untuk teman-teman lain yang membaca, semoga bermanfaat ya!

Jakarta, 2 November 2013
Yeni Suryasusanti