Tadi malam, Debby Cintya lewat di depan rumah saya bertepatan dengan
saat guru privat Ifan pulang diantar Fian ke teras. Kost Debby memang
hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami, yang hanya ditempati 2
minggu setiap 2 bulan sekali saat dia cuti dari tempatnya bekerja di
Kalimantan. Oleh Fian, Debby diminta untuk mampir masuk ke rumah
tepat ketika saya baru saja masuk ke kamar mandi. Akibatnya, Debby
"disandera" Fian disuruh menunggu saya. Padahal saya kasih tau ya,
saya itu menganggap waktu di kamar mandi sambil membaca buku sebagai
salah satu "Me Time" saya yang paling berharga dan sungguh tidak tenang
jika diburu-buru :p Debby yang sudah mengetahui betapa
berharganya "Me Time" saya itu (heheheh...) menyampaikan kepada Fian
bahwa dia ingin langsung pulang karena sejak awal pun memang tidak ada
rencana mampir, dan dari kamar mandi saya pun berusaha membujuk Fian
dengan mengatakan bahwa saat itu sudah malam jadi tante Debby mau
beristirahat. Debby berpamitan di pintu kamar mandi, tapi ternyata Fian masih belum rela melepasnya pergi. Kedekatan
hati ini terjadi karena waktu dan perhatian yang diluangkan Debby bagi
mereka sejak pertama kali saya diserahi tugas mendidiknya oleh Mentor
Paskibra 78, sehingga Debby memang sudah seperti keluarga dekat saja
bagi Ifan dan Fian. Ternyata, bakat negosiasi bisa menurun tanpa diajari, hanya dengan menyerap kejadian sehari-hari :D Karena
saya tidak bersedia terburu-buru keluar dari kamar mandi, Debby
terpaksa membujuk Fian agar mengizinkan dirinya pulang ke kost. Pagi ini Debby bercerita kepada saya tentang kejadian tadi malam ketika saya sedang di kamar mandi. Dengan gaya khasnya, Fian akhirnya mengizinkan Debby pulang namun berkata kepada Debby, "Fian
ikut ke kost tante Debby. Bentaaaaaar aja kog. Terus tante Debby
pulangin Fian ke rumah, Fian kunci gembok, terus tante Debby pulang
lagi..." :D Kata Debby, cara Fian membargaining Debby dengan kalimat diatas menunjukkan skill planning dan negosiasi Fian :p Kemudian,
ketika sampai di kost Debby, Fian berkeliling kamar kost Debby,
memegang hair dryer lalu menemukan bel / klakson berbentuk bola untuk
sepeda dan terlihat tertarik dengan benda tersebut dan memainkannya. Debby otomatis bertanya, "Fian mau klakson-nya?" Daaannnn..... "Jawabannya aja dong yang bikin salut... Salut ihh sama yang mendidik..." cerita Debby antusias kepada saya. "Boleh, kalau tante Debby sudah tidak perlu lagi..." demikian jawaban Fian atas tawaran Debby :) Jujur
saya katakan, saya tidak mengajarkan secara khusus tentang tehnik
negosiasi maupun jawaban Fian yang spektakuler untuk anak usia 5th 4bln
itu :D Kemungkinan besar Fian menyerap dari nilai-nilai yang terimplementasi pada kejadian sehari-hari. Saya
ingat dulu waktu Ifan dibelikan suling yang baru karena sulingnya agak
retak, saat saya ingin memberikan suling lama kepada Fian, Ifan sempat
sedikit kurang rela. Mungkin karena membayangkan Fian pasti akan berisik
karena sudah punya suling sendiri sehingga tidak bisa dilarang meniup
suling :D Saat itu ada Fian disana, mendengar keberatan abangnya. Saya
berkata kepada Ifan, "Abang, kan sulingnya sudah nggak Ifan pakai
lagi... Ifan sudah nggak perlu suling yang lama ini karena udah punya
suling yang baru... Boleh dong suling lamanya dikasih ke Fian... Fian
kan mau belajar suling juga... Nggak hanya suling, mainan dan buku juga
gitu. Pokoknya, setiap Barang yang udah nggak Ifan gunakan lalu
diberikan dan bermanfaat untuk untuk orang lain, itu akan lebih bagus
daripada didiamkan nggak berguna... Mubazir lho..." Demikian
juga dengan makanan. Saya selalu mengajarkan kalau makanan ada yang
berlebih, tolong jangan langsung di buang, tapi ditanyakan apakah ada
mau, atau bisa memberitahu saya. Sesekali Ifan atau Fian
menawarkan makanan / minuman kepada saya, memang saya terkadang berkata,
"Ifan / Fian udah nggak mau?" sebelum memutuskan memakannya. Yah,
mungkin inilah salah satu bentuk kasih seorang Ibu kepada anaknya, yang
lebih rela tidak mendapatkan bagian jika sang anak masih ingin memakan
bagiannya :D Sepertinya hal itu menancap kuat di benak Fian sehingga terucap secara otomatis dalam percakapan :) Saya terharu, takjub, bahagia... Karena kami sungguh tidak pernah menargetkan "hasil" dari pendidikan karakter yang saya terapkan kepada Ifan dan Fian. Kami hanya menanamkan nilai-nilai dasar yang baik semaksimal mungkin. Terkadang
dengan pengajaran lewat kata-kata dalam percakapan filosofis yang
sesekali memang saya lakukan dengan Ifan dan Fian. Namun lebih banyak
lagi lewat sikap dan tindakan atas kejadian normal sehari-hari. Ternyata, hasilnya dahsyat ya... Mungkin
ini adalah hadiah dari Allah sebagai buah dari komitmen, kesabaran,
keikhlasan dan ikhtiar yang tidak mengenal menyerah dari orang tua dalam
menjalankan amanah dari Allah... Alhamdulillah... Jakarta, 18 Oktober 2013 Yeni Suryasusanti
Bicara tentang wanita, jarang bisa terlepas dari “cermin”. Karena wanita memang katanya identik dengan “keindahan”. Masalahnya,
masing-masing pribadi memiliki seleranya sendiri atas “keindahan”
tersebut. Meskipun tetap ada standar yang diberlakukan secara umum, namun
standar tersebut pun biasanya berbeda antara setiap generasi.
Bicara tentang “keindahan”, umumnya orang menggolongkan wanita menjadi 3 golongan : “Cantik”, “Menarik” dan “Biasa Saja”. Wanita
“Cantik” biasanya adalah wanita yang memiliki wajah atau penampilan
fisik yang langsung “menjerat” mata yang melihat. Untuk standar setiap
masa bisa berbeda, dari Sophia Loren sampai Barbie :D Wanita
“Menarik” biasanya adalah wanita yang tidak memiliki kecantikan wajah
seperti wanita “Cantik” sehingga terkadang hanya dilihat sepintas lalu
oleh mata, tapi memiliki sesuatu entah apa pada penampilannya karena
kemudian entah mengapa tiba-tiba dia membuat orang tersebut menoleh dan
menatap dirinya ketika kali kedua. Wanita “Biasa Saja” biasanya cenderung terlewatkan oleh mata. Meskipun
ada beberapa yang tega menyebut seorang wanita “Jelek”, saya pribadi
menolak memasukkan kategori tersebut dalam penggolongan karena saya
percaya ciptaan Allah itu adalah sempurna :)
Sejak saya
masih kecil hingga remaja, kata “Cantik” tidak pernah diidentikkan
dengan diri saya. Saya identik justru dengan “Mata Sipit” dan “Pipi
Tembem” heheheh… Kakak saya, Yesi Surya Handayani adalah yang selalu
disebut sebagai si “Cantik” dan si “Baik” dalam keluarga :p Di
masa kecil, menolak bermain boneka di rumah dan lebih memilih bermain
kejar-kejaran atau layangan di lapangan atau di atas atap rumah kami
membuat kulit saya menjadi hitam dan rambut saya pun terbakar sinar
matahari :D
Di masa SMA, memilih menjadi anggota Paskibra SMA 78 juga berdampak sama :p Ketika
tidak menyibukkan diri dengan kegiatan di luar rumah, maka saya akan
berkurung di kamar saya, menikmati membaca buku sambil mendengarkan lagu
:D Saat itu, saya bukanlah outgoing person seperti
sekarang… Saya hanyalah seorang “kutu buku” yang sudah berkacamata sejak
SMP kelas 2, sampai Paskibra 78 membuka dunia saya, menumbuhkan
kecintaan saya pada organisasi dan kehidupan sosial…
Dibalik
dinding yang saya buat di masa remaja, saya selalu mengagumi
teman-teman SMA saya yang terlihat “Cantik”, yang biasanya berasal dari
keluarga berada, dan mereka ke sekolah umumnya diantar atau bahkan
menyetir mobil sendiri, seperti tontonan sinetron saja layaknya. Sampai
pernah ada seorang teman yang berkomentar sinis, “Lah, jelas aja
cantik, anggaran ke salonnya aja gede banget… Enak ya jadi orang kaya,
walaupun nggak cantik bisa kelihatan kinclong, jadi cowok gampang jatuh
cinta pada pandangan pertama... Padahal, belum tentu baik
kepribadiannya…”
Muncul pertanyaan dalam diri saya waktu itu. Apakah
cinta hanya mudah hinggap di wajah “Cantik” saja? Sementara untuk yang
“Biasa Saja” meski suatu hari akan ada cinta namun tidak terjadi
seketika? Lalu bagaimana kita yang berpenampilan “Biasa Saja”?
Nggak mungkin dong harus operasi plastik hanya untuk menarik perhatian
lawan jenis?
Namun, meskipun saya melihat bahwa wanita
“Cantik” memang lebih mudah menarik perhatian lawan jenisnya, lewat
pengamatan yang cukup panjang, saya menarik kesimpulan bahwa untuk
mempertahankan sebuah hubungan – entah itu hubungan persahabatan maupun
hubungan cinta – wajah yang “Cantik” saja tidak pernah cukup. Saya
pribadi kurang percaya dengan kalimat “Jatuh Cinta Pada Pandangan
Pertama” dan lebih percaya kalimat "Jatuh Suka Pada Pandangan Pertama"
karena cinta itu bagi saya dalam sekali rasanya, tentunya diperdalam
dengan proses juga, sehingga menurut saya rasanya sulit jika seketika hanya
dengan memandang saja langsung kelas berat begitu perasaannya... Akhirnya
bagi saya, kata “Jatuh Suka” saya asosiasikan dengan wanita yang
“Cantik” atau “Menarik”, namun kata “Jatuh Cinta” saya asosiasikan
dengan “Karakter”.
Salah seorang teman saya di Facebook pernah berkata, “Pria jatuh cinta karena mata, Wanita jatuh cinta karena hati.”
Jika
memang benar demikian, maka dari lubuk hati yang paling dalam bisa saya ucapkan Alhamdulillah… berarti suami saya jatuh cinta bukan pada “kecantikan” saya :)
Mengenang
kembali semuanya, hal itu hampir bisa saya pastikan karena ketika kami
pertama kali bertemu justru kami “berantem” gara-gara saya meminta dia
pindah tempat duduk di Bis Kota karena ingin mendapatkan tempat di dekat
jendela pada suatu hari ketika saya hendak menuju kampus hahahahah….. Kali
kedua bertemu pada hari yang sama di sore hari, kami kembali “berantem”
di ruang Badan Perwakilan Mahasiswa STIE Perbanas Jakarta, dengan
disaksikan oleh Ketua Umum BPM saya, kali ini karena dia menegur saya
yang ketika itu menjabat Sekretaris 2 BPM karena tidak mengenalinya
sebagai Komandan Menwa ketika kami berantem di Bis Kota :D Lah,
salah siapa juga nggak kenal secara saya mahasiswi baru, baru terpilih
jadi BPM, sedangkan dia sudah jarang ke kampus karena sudah menjelang
lulus :p Pada saat yang sama pula, “berantem” itu semakin panjang
ketika mengetahui bahwa kami ternyata masing-masing berada di organisasi yang “cukup
sering berkonflik” karena perbedaan doktrin dasar :D
Jadi,
kalau sampai dibilang suami saya “Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama”
pada saya – dengan pertemuan pertama kami yang jelas penuh angkara – hal
itu sudah jelas tidak mungkin kan? :p
Tulisan pendek ini saya sempatkan untuk tulis diantara sempitnya waktu saya kini karena
saya ingin berbagi di Hari Anniversary Pernikahan kami yang ke 15th hari
ini. Bahwa dari kehidupan pernikahan kami selama 15 tahun ini,
bisa saya pastikan, jika hanya mengandalkan wajah “Cantik” saja, jelas
pernikahan sejati tidak akan pernah mampu bertahan…
Dengan
tulisan ini saya ingin menghimbau para wanita yang merasa tidak
memiliki “Kecantikan Secara Universal” untuk tidak merasa rendah diri
dan dilanda kekhawatiran yang berlebihan. Percayalah, wajah yang “Biasa Saja” bisa menjadi “Menarik” kog, dan hal itu bisa dilakukan bukan hanya dengan polesan make up semata. Awalnya
tentu dengan meningkatkan “Kecerdasan”, baik secara intelektual,
emosional dan spiritual sehingga wanita bisa menjadi tempat bercerita
yang sepadan dengan pasangannya. Kemudian dengan menjaga
“Kebersihan”, baik menjaga kebersihan fisik maupun kebersihan hati,
sehingga pasangannya bisa merasa nyaman bersamanya. Dan akhirnya dengan niat dan ikhtiar untuk selalu berusaha memperbaiki diri.
Dengan
tulisan ini saya juga ingin menghimbau para pria agar tidak memilih
pasangan dengan pertimbangan utama “Kecantikan” belaka. Cukup
banyak saya melihat “Pernikahan Impian” dimana sang pengantin merupakan
“Pria Tampan” dan “Wanita Cantik” di tengah perjalanannya terguncang
karena akhirnya sang suami jatuh cinta lagi dengan wanita yang
kecantikannya jauh di bawah istrinya karena membuatnya lebih nyaman dalam
komunikasi dan kebersamaan.
Wanita "Cantik" memang sangat mudah tertangkap oleh mata, dan mungkin tidak demikian halnya dengan wanita “Menarik”. Namun, meski tidaklah semudah itu dia bisa teridentifikasi, percayalah, wanita "Menarik" selalu bisa tertangkap oleh hati :)
Di Hari 15th Anniversary Pernikahan kami, Yeni Suryasusanti