Kamis, 14 Maret 2013

Ketika Fian Belajar Mengenai Prosedur, Tanggung Jawab dan Urgensi



Di rumah kami, pada hari-hari sekolah anak-anak makan malam lebih dulu daripada saya dan suami.
Karena guru private Ifan datang pk 19.00 WIB, sedangkan asisten rumah tangga yang tidak menginap ingin sebisa mungkin urusan Fian sudah beres ketika saya tiba di rumah sehingga tidak menambah kelelahan saya :) *Duh... bahagianya punya asisten yang penuh kasih sayang*
Jadi, Ifan dan Fian biasa makan sekitar pk 18.30 WIB, sedangkan saya sampai di rumah rata-rata pk 19.00 WIB dan baru makan malam sekitar pk 20.00 WIB dengan ditemani Fian yang seringkali ingin "makan malam kedua" :D
Terkadang Fian makan sereal dan susu, terkadang roti. Karena sedang senang-senangnya belajar mandiri, pembuatan sereal dan susu serta roti ini selalu ingin Fian lakukan sendiri.

Beberapa minggu yang lalu, saya ditemani Fian makan malam.
Saat itu Fian ingin roti isi meises, dan seperti biasa ingin membuatnya sendiri. Seperti yang sudah dibayangkan, meises pun berhamburan di meja dan lantai dapur karena motorik Fian yang belum begitu sempurna.

Fian menatap saya dengan raut wajah hati-hati. 
"Kenapa Fian? Berantakan tumpah ya?" tanya saya sambil tersenyum.
"Iya Bun..." jawabnya.
"Ya udah, kalau begitu, Fian bereskan sendiri ya, Bunda hanya bantu," sahut saya santai.
"Oke Bun! Siap, Komandan!" seru Fian sambil menirukan gaya hormat :D
"Pertama, yang tumpah di meja dapur dikumpulkan ke sini (saya menunjuk tissue yang sudah saya ambil sebelumnya), lalu buang ke tong sampah. Kedua, yang tumpah di lantai, dibersihkan pakai sapu... " perintah saya menjelaskan prosedur melakukan pembersihan sambil mencontohkan mengumpulkan meises yang tumpah di meja ke tissue.

Menjelaskan prosedur melakukan pembersihan ini saya anggap perlu, untuk menghindari pekerjaan dilakukan dua kali. Jika pembersihan lantai menjadi hal yang pertama dikerjakan baru membersihkan meja dapur, bagaimana jika meises yang tumpah di meja dapur jatuh ke lantai saat Fian membawanya ke tong sampah? Tentu Fian harus mengulang pekerjaan menyapu untuk kedua kalinya.

Fian segera mengumpulkan meises yang tumpah di meja dapur dan membuangnya ke tong sampah sehingga meja dapur bersih kembali, lalu berlari mengambil sapu dan serokannya.
"Hmmmm... Cerdas..." pikir saya, karena Fian berinisiatif mengambil serokan, mungkin karena melihat asisten rumah tangga terkadang menggunakannya jika hanya menyapu sebagian area yang kotor saja padahal saya tidak memerintahkan Fian mengambil serokan.
Dengan sedikit kerepotan, akhirnya Fian berhasil membersihkan seluruh meises yang tumpah di lantai sehingga lantai bersih seperti sediakala :D
"Oke, Fian hebat bisa membereskan sendiri!" seru saya, "Tapi lain kali lebih hati-hati biar nggak tumpah lagi ya...."
"Siap, Komandan!" kata Fian sambil kembali menirukan gerakan hormat dan tersenyum ceria.

Tadi malam, ketika saya makan malam, seperti biasa Fian menemani. Kali ini sambil makan sereal dan susu, memanfaatkan waktu untuk bercerita tentang kesehariannya. 
Karena terlalu bersemangat bercerita kepada saya sehingga kurang berhati-hati, siku Fian masuk ke pinggir mangkuk sereal, dan susu pun tumpah menggenangi meja.

Fian segera melihat kepada saya dengan wajah bersalah, saya hanya nyengir sambil berkata, "Ayo kita bersihkan sama-sama..." sambil buru-buru mengambil beberapa tissue makan untuk menyerap tumpahan susu agar tidak terlanjur menetes ke lantai.
"Pertama, kita serap pakai tissue makan dulu ya, supaya nggak keburu netes ke lantai..." jelas saya sambil memberikan beberapa lembar tissue makan tersebut kepada Fian agar dia bisa meniru saya menyerap tumpahan susu yang masih menggenang.
"Kedua, Fian, ambil lap di dapur, di dekat kompor yang bisa menyerap air," perintah saya.
"Yang kuning ini ya Bun?" tanya Fian yang segera berlari ke dapur.
"Iya, tekan-tekan ke atas taplak meja, biar susunya diserap," kata saya sambil memberikan contoh.
"Oke Bun," Fian pun melanjutkan dengan bersemangat :D
"Sekarang coba Fian pegang mejanya," perintah saya sambil menunjuk permukaan meja makan yang tadi ketumpahan susu.
"Ih, lengket..." kata Fian.
"Oke... Jadi, Ketiga, ambil Mitu (tissue basah), trus di lap juga ke meja dan taplaknya, biar nggak lengket dan disemutin, besok aja Fian minta tolong Mbak Sri ganti taplak meja makannya dengan yang bersih ya..." lanjut saya.
"Beres, Bunda," kata Fian setelah selesai mengelap meja dan taplak dengan tissue basah wangi :D

Meskipun akan lebih cepat dan sederhana jika saya yang membereskan sendiri, saya memutuskan meminta Fian membereskan hingga tuntas, karena ingin Fian  belajar mempertanggungjawabkan secara tuntas kekacauan yang terjadi akibat dia kurang berhati-hati.

"Sekarang, Fian cuci tangan Fian yang lengket, lalu ambil piyama dan kaos dalamnya, ganti baju biar Fian nggak disemutin," lanjut saya.
"Tapi abang lagi belajar, Bun... Pintunya kan dikunci..." sahut Fian.
"Ketuk pintu, bilangnya gini : 'Kak Tri, Fian mau ambil piyama dan kaos dalam, soalnya piyama Fian basah, nanti masuk angin'" kata saya mengajari.
Fian pun berlari ke depan pintu kamarnya, mengikuti arahan saya.
Ketika hendak ganti baju - juga dilakukan sendiri karena saya sedang mencuci piring dan membereskan meja setelah makan malam - Fian menemukan ternyata kaos dalamnya tidak basah, tidak terkena tumpahan susu.
"Bunda, kaos dalamnya nggak kena, nggak usah diganti kan?" tanya Fian memastikan.
"Ya udah nggak usah..." sahut saya dari dapur.

Selesai mengganti baju, Fian membawa kaos dalamnya yang masih terlipat rapi ke dapur.
"Bunda, Fian boleh masuk kamar lagi mau taruh ini di lemari?" tanya Fian sambil mengacungkan kaos dalamnya.
"Jangan sekarang, abang lagi belajar. Nanti aja, setelah Kak Tri pulang," sahut saya.
"Yaaahhh Bundaaa... Boleh yaaaa... Tadi kan bolehhh..." seperti biasa, bukan Fian namanya kalau tidak berusaha keras agar kemauannya terpenuhi :p

Saya menghentikan kegiatan mencuci piring saya sejenak, menghadap Fian dan menjelaskan dengan serius,
"Fian, kalau tadi itu memang harus buru-buru, urgent, karena kalau nggak segera ganti baju, Fian bisa dirubung semut dan masuk angin. Kalau sekarang, kan hanya naruh kaos dalam yang nggak jadi dipakai, jadi nggak harus buru-buru, nggak urgent, jadi nggak harus dong ganggu konsentrasi abang belajar..."
"Yaaaahhh.... Bunda....." Fian masih mencoba-coba protes :D
"Tadi Fian tanya Bunda, Bunda sudah jawab, sudah menjelaskan. Kalau Fian nggak mau dengar kata-kata Bunda, untuk apa Fian tanyakan? Kasihan kan abang kalau belajarnya jadi terganggu..." kata saya.
Fian diam sejenak sambil menatap saya.
"Oke deh, jadi kalau naruh kaos dalam yang nggak jadi dipakai itu nggak buru-buru ya Bun? Jadi nggak usah ganggu abang ya Bun?" akhirnya Fian setuju :D

Mengajarkan tentang prosedur, tanggung jawab dan perbedaan masalah mana yang urgent dan yang tidak kepada Fian yang masih berusia belum genap 5 th mungkin bagi sebagian orang akan terasa terlalu berlebihan.
Namun bagi saya, hal ini merupakan tantangan tersendiri.
Mengapa?
Karena di sekeliling saya masih banyak saya temukan orang-orang dewasa yang tidak mengerti perlunya diberlakukan sebuah prosedur, merasa bahwa segala hal yang berbau prosedur hanya merepotkan saja.
Disamping itu, masih banyak pula saya temukan orang-orang dewasa yang menghindar dari tanggung jawab, tidak mengerti batasan dimulai dan diakhirinya sebuah tanggung jawab, atau bahkan tidak mengerti arti kata tanggung jawab itu sendiri.
Dan masih banyak pula saya temukan orang-orang dewasa yang selalu meminta dijadikan prioritas utama akan seluruh masalah mereka - dengan kata urgent sebagai kata kuncinya - tanpa melihat apakah masalah tersebut memang benar-benar urgent atau hanya karena mereka sekedar ingin selalu menjadi prioritas utama saja.

Masalah tentang pemahaman prosedur, tanggung jawab dan urgensi ini memang bisa kita temukan secara teori uraiannya baik di buku pegangan kuliah maupun di buku-buku populer. Namun biasanya kita cukup sulit untuk mengambil benang merahnya. 
Karena pemahaman tentang prosedur, tanggung jawab dan urgensi lebih mudah didapat secara praktek dari kasus-kasus pekerjaan di lapangan baik di organisasi maupun di dunia kerja. Atau, dalam hal Ifan dan Fian, saya selipkan dalam pendidikan mereka terkait kejadian yang terjadi sehari-hari.
Dan jika seseorang telah memahami kata kuncinya, maka semua aplikasinya hanya memerlukan daya nalar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, inilah arti ketiga kata tersebut:

Prosedur adalah:
  1. Tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas; 
  2. Metode langkah demi langkah secara pasti dl memecahkan suatu masalah;
Tanggung jawab adalah:
  1. Keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb); 
  2. Fungsi menerima pembebanan, sbg akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain;
Urgensi adalah:
  1. Keharusan yg mendesak; 
  2. Hal sangat penting;
Sedangkan berdasarkan pengalaman saya dalam berorganisasi sejak masih duduk di bangku SMP, SMA, Kuliah, hingga sekarang dan pengalaman bekerja meskipun saya baru bekerja selama hampir 17 tahun (yang hampir 15 th-nya saya habiskan di perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini), inilah keterangan yang bisa saya tambahkan untuk lebih memperdalam makna ketiga kata tersebut:

Prosedur adalah metode yang telah disetujui dan ditetapkan oleh pimpinan perusahaan atau yang diberi wewenang, meski sekilas terkadang terlihat sangat merepotkan bagi sebagian orang yang menjalankan, namun dibuat dengan tujuan kelancaran operasional seluruh elemen perusahaan karena dengan adanya prosedur dapat ditentukan batas sebuah tanggung jawab dimulai dan diakhiri. Karena itu untuk merubahnya harus dengan persetujuan pejabat yang menetapkan prosedur pula.

Meskipun idealnya seluruh divisi pada suatu perusahaan menetapkan prosedur kerja sebagai acuan, pada prakteknya beberapa divisi harus ketat dengan prosedur baku dan sulit melakukan perubahan karena terkait berbagai macam peraturan, sementara beberapa divisi lain dapat dengan luwesnya membengkokkan prosedur demi kelancaran kerja.
Contoh divisi yang biasanya terikat erat dengan prosedur yang baku adalah Divisi Legal (karena terkait Hukum Pidana/Perdata), Human Resources (karena terkait Peraturan Departemen Tenaga Kerja), Finance dan Accounting (karena terkait Peraturan Departemen Keuangan, Perpajakan dan Audit Atas Laporan Keuangan Perusahaan).
Sedangkan contoh divisi yang biasanya luwes dengan prosedur adalah Divisi Customer Relation, Technical, General Affair dan Marketing.

Batasan sebuah tanggung jawab berakhir adalah ketika kondisi yang diakibatkan oleh  terjadinya kesalahan sudah kembali menjadi seperti semula.
Meskipun pada prakteknya kita tidak selalu memiliki waktu atau kemampuan untuk membereskan sendiri kekacauan yang telah terjadi akibat dari kesalahan kita, namun menurut saya merupakan tanggung jawab moril bagi kita untuk ikut terlibat menggawangi masalah tersebut hingga tuntas.

Dalam cerita mengenai Fian dan meises yang tumpah diatas, batasan tanggung jawab Fian berakhir saat meja dapur dan lantai yang sudah dikotori oleh meises menjadi bersih seperti semula.
Demikian pula dengan cerita mengenai Fian dan susu yang tumpah, batasan tanggung jawab Fian belum berakhir pada saat meja makan hanya sekedar kering tetapi masih lengket. Batasan tanggung jawab langsung Fian berakhir pada saat meja sudah bersih seperti semula dan tidak lengket, namun batasan tanggung jawab moril Fian baru berakhir saat taplak meja makan diganti dengan taplak yang bersih.

Sedangkan suatu masalah masuk kategori Urgensi adalah jika tidak segera dilakukan maka akan mengakibatkan kerugian yang besar baik secara moril maupun secara materiil, baik bagi organisasi/perusahaan maupun bagi orang-orang yang terlibat.

Dalam kondisi urgent, prosedur terkadang harus disesuaikan, namun bukan berarti dihilangkan, karena prosedur tetap diperlukan untuk menentukan batasan sebuah tanggung jawab dimulai dan diakhiri.

Pada saat ini, saya tentu tidak akan menuntut Ifan dan Fian mengerti secara mendalam mengenai prosedur, tanggung jawab dan perbedaan masalah mana yang urgent dan yang tidak.
Namun saya berharap, dengan bekal yang saya berikan sejak mereka di usia dini, mereka dapat memiliki daya nalar yang cukup tinggi sehingga mempermudah mereka memahami dan bisa mempelajari hal ini dengan lebih dalam di kemudian hari.

Jakarta, 14 Maret 2013
Yeni Suryasusanti

Jumat, 01 Maret 2013

Tentang Impian, Rencana, Realisasi, Saya dan NCC :)

Suatu hari ketika bersama teman...
"Mbak, jalan-jalan ke Mall yuk..."
"Mau cari makan?"
"Nggak, mau lihat-lihat baju, tas, sepatu..."
"Mau beli nggak?"
"Nanti kalo udah gajian hehehe.... sekarang lihat-lihat aja dulu..."
"Lah, nanti kalo pas uangnya udah ada ternyata yang mau dibeli udah disambar orang gimana? Mending nanti aja deh, kalo udah gajian..."

Suatu ketika di hari Minggu...

"Bun, lihat-lihat pameran rumah yuk!"
"Hah? Emang kita mau beli rumah?"
"Emang Bunda nggak mau?"
"Sumber dananya udah ada? Atau paling nggak udah dalam jangkauan?"
"Ya belum... Tapi kan kalau udah tahu kisaran harganya berapa dan modelnya bagaimana nanti kalau uangnya udah ada jadi tinggal memutuskan beli yang mana..."
"Lah... tapi nanti begitu misalnya baru tahun depan ada uangnya ya pasti harganya juga udah berubah, banyak lokasi baru juga... ngapain ngelihat sekarang?"

:D

Ketika sedang berbincang santai di suatu hari...

"Bun, bunda mau rumah yang seperti apa?"
"Budgetnya berapa?"
"Yah Bunda... ini kan lagi berandai-andai... Nggak usah mikir budget dong..."
Saya terdiam, mencoba mengandaikan... namun tidak sepenuhnya berhasil :D
"Rumah yang nyaman dan simple. Pokoknya rumah yang bisa membuat Bunda malas pergi keluar rumah."
"Trus?"
"Ada satu kamar khusus untuk Bunda buat perpustakaan, yang bisa menampung novel-novel Bunda, dengan lemari-lemari tinggi sampai ke langit-langit yang dilengkapi tangga yang bisa digeser di setiap sisi dindingnya. Di tengah-tengah ruang perpustakaannya ada meja besar, yang bisa jadi tempat anak-anak kalau mau belajar bersama, dan ada kursi malas yang enak buat bunda baca sambil selonjoran."
"Trus?"
"Udah, itu aja."
"Lho, kog itu aja?"
"Iya, yang lain nanti aja. Kasih uangnya ke tangan Bunda, atau kasih Bunda budgetnya, nanti Bunda akan buat rumah impian yang sesuai dengan budget itu."
"Yaaaa.... susah amat ya ngajak bunda berkhayal...."

Ya, saya memang bukan pemimpi, karena saya sulit untuk "bermimpi". Bukan karena tidak mau bermimpi, tapi mungkin memang karena sudah terbentuk karakter saya demikian, bahwa lebih "aman dan nyaman" bagi saya menjadi orang yang realistis :)
Meskipun demikian, seringkali saya sungguh mengagumi para pemimpi, karena mereka "berani" bermimpi...

Pembicaraan tentang mimpi bagi saya rasanya tidak akan bisa terlepas dari berbicara tentang NCC :D
Kenapa?
Karena apa yang terjadi pada milis dimana saya mendapat kehormatan untuk bergabung di jajaran moderatornya ini sungguh diluar impian saya yang paling gila :D

Pada bulan April 2005, saya menelepon Mbak Fatmah Bahalwan - yang saya kenal sejak tahun 2003 saat menjadi pengajar di milis Dapurbunda - untuk berbagi kebahagiaan karena akhirnya saya bisa membeli Standing Stove Ariston yang sudah lama saya idam-idamkan.
Niat berbagi kebahagiaan ini ternyata disambut dengan undangan untuk bergabung di sebuah Mailing List yang belum lama Mbak Fat prakarsai : Natural Cooking Club, yang awalnya merupakan hadiah seorang suami kepada istrinya - Mas Wisnu kepada Mbak Fatmah - sebagai tanda cinta :D

Sejalan dengan semangat di Paskibra 78 - organisasi yang sudah lebih dahulu berada hati saya, di milis NCC juga selalu dihembuskan semangat untuk berbagi ilmu. Karena ilmu yang bermanfaat adalah salah satu pahala yang tidak akan putus meski kita sudah berpulang kepada-Nya.
Dulu, saya pernah mendapat cemoohan karena selalu membagi ilmu kepada siapa pun yang meminta. Karena banyak yang beranggapan hal itu akan mengurangi "spesialisasi" saya.
"Keenakan dia dong diajarin semuanya, sedangkan loe aja kuliah mahal-mahal untuk dapat ilmunya," demikian seseorang pernah berkata :)

Di milis NCC semua adalah murid, dan siapa pun bisa menjadi guru. Tidak ada yang namanya resep dan tips rahasia, karena semua dikupas tuntas hingga terbuka.
"Masing-masing orang itu rejekinya sudah ditentukan oleh Allah, jadi jangan takut untuk berbagi ilmu, jangan takut karena hal itu murid menjadi lebih pintar daripada guru sehingga akan berkurang pendapatanmu. Jangankan penduduk di Jakarta, penduduk satu kecamatan saja kalau memesan kue sama saya semua ya nggak akan sanggup saya handle sendiri pesananannya..." demikian kata Mbak Fat selalu.
Dalam hal baking dan cooking, jujur kemampuan saya hanya "biasa-biasa saja".
Namun alhamdulillah, saya adalah orang yang rapi dengan file dan dianugerahi ingatan yang lumayan baik sehingga meningkatkan kemampuan untuk mencari pada search engine di yahoogroups. 
Maka ketika itu saya selalu membantu memposting ulang resep jika ada member yang mencari resep tertentu.

Sekilas tentang sejarah NCC, momentum menjadi besarnya NCC adalah pada kegiatan Tour de Toko yang pertama.
Entah siapa yang pertama kali mencetuskan keinginan untuk "Jalan-jalan bersama ke Toko Bahan Kue dan Peralatan Baking & Cooking."
Keinginan ini disambut meriah di milis. Awalnya hanya ingin pergi bersama dengan beberapa mobil pribadi.
Ternyata, animo member sungguh luar biasa.
Tanpa ada yang menunjuk sebagai Panitia, beberapa dari kami termasuk saya berinisiatif mengakomodir keinginan ini. Akhirnya karena banyaknya member yang mau ikut, kami memutuskan berangkat dengan menyewa bis besar. 60 orang yang berangkat, dari anggota milis yang baru berjumlah 150 orang :D
Ketika itu, saya menawarkan diri saya untuk mengkoordinir keuangan (hehehe... dan kog ya Mbak Fat setuju aja).
Setelah dikalkulasi, untuk transportasi dan logistik, masing-masing peserta dikenakan biaya Rp 50 .000,- saja.
Ternyata, bukan hanya saya saja yang menawarkan diri. Mbak Fat dibantu oleh Eka Arei Shanti yang Pustakawati Maksi UI dalam pembuatan prososal untuk meminta sponsor goody bags dari beberapa perusahaan. Lalu tiba-tiba muncul keinginan Mbak Fat agar kegiatan ini diliput media massa. Eka pun membuat undangan untuk pers dan membuat press release.
Riana Ambarsari menjadi tukang photo pada saat Tour de Toko, sedangkan Moekti Ichtiarini alias Ruri (almh) mengambil tugas mengurus perlengkapan dan logistik.
Semua bersatu tiba-tiba, tanpa ada aba-aba, karena rasa saling memiliki dan ingin memberi apa yang bisa diberi. Acara pun sukses besar, NCC - yang ketika itu masih bukan apa-apa - diliput oleh 6 media. Hasilnya, member pun melonjak jumlahnya :)

Jajaran moderator pun dibentuk, dan sejumlah tugas pun diambil dan dibagi.
Seperti NCC yang kental dengan aura persahabatan, demikian pula jajaran moderatornya. Karena terikat erat dengan persahabatan, maka "kecocokan" karakter menjadi salah satu pertimbangan utama. Berbagai sifat yang bertentangan bertemu, terkadang menimbulkan pertengkaran. Pada akhirnya seleksi alam berlaku di Jajaran Moderator NCC, dan 7 orang bertahan hingga akhir seleksi : Mbak Fatmah dan Mas Wisnu sebagai Owner, Dewi Anwar, Eka Arei Shanti, Moekti Ikhtiarini (Ruri - almh), Riana Ambarsari dan saya sendiri.
Tak lama kemudian, Nadrah Shahab pun masuk dengan tugas awal sebagai asisten Riana karena pengurusan WEB NCC mulai membuat waktu tersita.
Komposisi ini belum berlangsung lama, di tahun 2008 Ruri - Ibu Admin NCC yang rapi dan seksi perlengkapan yang luar biasa berpulang ke rahmatullah meninggalkan kami semua karena kanker payudara.

Jujur, saya pribadi tidak pernah bermimpi NCC akan menjadi sebesar ini.
Semua hanya bermula dari niat sederhana berbagi ilmu biar sama-sama masuk surga dan mimpi kami akan persahabatan yang abadi karena kesamaan hobby seperti Ibu-ibu Yasaboga :D
Mimpi sering dirajut ketika kami menikmati waktu leyeh-leyeh bersama, nge-teh poci dan ngemil di markas matraman tercinta. Meski sulit bagi saya untuk bisa bermimpi, saya bahagia berada diantara para pemimpi :)
Hasrat untuk kumpul-kumpul merayakan ulang tahun pertama NCC dengan mengadakan Lomba Cake Decorating antar Member NCC menjadi berkembang karena Ide Liar Riana Ambarsari yang mengusulkan memperoleh Rekor MURI.
Akhirnya impian ini diarahkan Mbak Fat menjadi sebuah rencana dan direalisasikan menjadi Perayaan Ulang Tahun Pertama NCC di Januari 2006, Peluncuran Buku Pertama NCC : 18 Resep Cake & Cookies yang diterbitkan oleh PT. Dian Rakyat dan Rekor MURI Pertama NCC : Lomba Cake Decorating Peserta Terbanyak (100 Peserta) dengan PT. Sharp Indonesia sebagai sponsor utama.

Mimpi pun berlanjut, berbagai rencana pun terealisasi. 
Moderator diarahkan Mbak Fat menjadi Pengajar, kecuali saya yang dengan tegas menolak mengikuti pelatihan menjadi pengajar karena mengetahui tidak bisa berkomitmen dengan jadwal pengajar yang harus bekerja di setiap akhir minggu sedangkan saya setiap hari Senin hingga Jumat sudah menghabiskan waktu untuk bekerja.
Rekor MURI ke-2 : Menghias Cup Cake Jumlah Terbanyak dengan PT. Sarinah Jaya sebagai sponsor utama, yang merupakan kiprah besar terakhir Ruri tercinta. Lalu Penerbitan 2 buku NCC berikutnya : 45 Amazing Cup Cake dan Cookies Hias Cantik & Kreatif masih dengan penerbit yang sama, PT. Dian Rakyat.
Kemudian mimpi besar berikutnya menjadi nyata, NCC digandeng oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, meluncurkan buku kembar : Cake Decorating dengan Buttercream dan Cake Decorating dengan Fondant sebagai awalnya, diikuti 4 Buku Seri 60 Resep Anti Gagal : Cake & Cookies, Snack Manis & Gurih, Masakan dan Dessert.

Akibat kerjasama dengan berbagai pihak, menjalankan berbagai project dan permintaan kursus di berbagai lokasi, lingkaran pertama Jajaran Moderator tidak bisa mengakomodir semua permintaan pasar. Mbak Fatmah kemudian membuat lingkaran kedua : Pengajar diluar Moderator (Peni Respati, Gemi Miranti, Widya Hidayat dan Anggraini Citra Kusuma) serta Laskar Centong NCC :D

23 Februari 2013, kami kembali meraih mimpi. Acara HMFF 2013 diselenggarakan, bertepatan dengan Peluncuran Buku Decorating ke-3 NCC : Cake Decorating 3 Dimensi, Peluncuran NCC Internet Radio, Lomba Dekor Doll Cake 100 Peserta, dan Rekor MURI ke 3 NCC : Membuat Replika Doll Cake Tertinggi dengan Doll Cake Terbanyak yang tingginya 6 meter!
Kerja para panitia sungguh luar biasa!!! 
Lagi-lagi menurut saya, karena ikatan hobby yang sama dan rasa "persahabatan"-lah semua kerja keras ini dengan ikhlas dijalani oleh mereka...




Meskipun begitu kentalnya nuasa persahabatan diantara kami, hingga kini, berbagai konflik pun terkadang masih terjadi.
Namun, karena milis ini dibentuk dengan "hati" maka pertentangan diantara moderator - yang sejujurnya cukup kerap terjadi hehehe - tidak pernah menjadi alasan perpecahan diantara kami.
Mungkin karena masing-masing dari kami sudah mulai memahami kapan kami harus mengalah, kapan harus berkeras dan kapan harus mengayomi. 
Mungkin juga karena rasa cinta kepada dunia kuliner dan rasa kasih sayang kepada Mbak Fatmah yang mempersatukan kami dengan tidak membiarkan beliau berjuang sendiri :)

Kemarin, saya menulis status di Facebook saya :

Many people say to have a great success, we must have a big dream.
Unfortunately, I'm not a dreamer. I never dreamed about success. 
But, I have goals and I worked for it.
And I believe dreams don't work unless you do :)

Saya menyaksikan, bahwa kebanyakan orang yang sukses mengawali kesuksesannya dengan bermimpi.
Seandainya semua orang yang ingin sukses harus bisa bermimpi, maka mungkin saya akan sulit menjadi orang yang sukses, karena saya bukanlah orang yang suka bermimpi. Saya hanyalah seorang "Perencana" yang bekerja di bidang keuangan sejak awal karier saya, yang mau bekerja keras demi merealisasikan tujuan saya. 
Namun alhamdulillah, Allah Maha Baik, saya dipertemukan dengan "Para Pemimpi" melalui NCC sehingga bisa ikut menjadi sukses meskipun di bidang yang jauh berbeda dengan keahlian utama saya, dan bersama-sama kami membuktikan bahwa "Impian" tidak akan pernah menjadi kenyataan jika kita hanya terus bermimpi saja, tanpa melakukan kerja nyata yang sesungguhnya :)







Jakarta, 1 Maret 2013
Tulisan ini dipersembahkan terutama untuk Mbak Fatmah Bahalwan tercinta :)

Yeni Suryasusanti 
Ibu Matre NCC

Selasa, 08 Januari 2013

Ketika Ifan Belajar Memberikan Solusi :)



Banyak teman bahkan pakar pendidikan beranggapan bahwa mayoritas anak masa kini hanya tahu disuapi. Terbiasa mendapatkan solusi langsung dari orangtua dan lingkungan yang berniat mempermudah hidup mereka atas nama cinta, namun ternyata berefek menurunkan kadar kemampuan analisa dan memecahkan masalah-masalah non akademis atau lingkungan mereka.

Kali ini saya ingin menceritakan, bagaimana akhirnya ketika berada dalam kondisi terjepit Ifan berhasil memberikan solusi dari suatu masalah yang menurut saya cukup pelik.

Begini ceritanya...

Ifan dan Fian masih tetap berkonflik. Sifat mereka yang sama-sama jail, suka meledek dan sensitif kerap menjadi faktor utama perselisihan diantara keduanya.
Seperti yang sering saya tuliskan, Ifan sangat menyenangi pelajaran dan permainan terkait teknologi seperti komputer, PSP, DS dan Wii.
Karena kami membiasakan untuk kebanggaan membeli barang pribadi dengan uang sendiri, maka Ifan  menabung untuk membeli PSP dan Wii. Fian, mulai mengikuti, baru memiliki DS saja.
Dalam beberapa kesempatan, Fian menonton Ifan main PSP. Memang seru sekali melihat betapa tekunnya Ifan mencoba memenangkan permainan demi permainan. (Duh.... Coba kalau untuk semua pelajaran tekun begini ya Nak... hehehe...).
Akhirnya timbul minat Fian untuk memainkan permainan yang sama.
Mungkin karena anak yang lebih kecil, Fian cenderung lebih suka memaksakan kehendak dibandingkan Ifan. Fian juga cenderung lebih suka mengadu setiap kali merasakan perbuatan Ifan tidak menyenangkan dirinya. 

Belakangan ini, Fian seringkali ingin meminjam PSP milik Ifan. Awalnya diizinkan. Namun, karena belum benar-benar mengerti dan menguasai, pernah sekali waktu sekitar tahun lalu rekor Ifan terhapus oleh Fian sehingga Ifan harus memulai permainan dari awal lagi. Hal ini membuat Ifan marah dan trauma.
Meskipun sekarang Fian sudah cukup memahami agar tidak mendelete game yang Ifan main, tapi Ifan tetap khawatir. Akibatnya, Ifan lebih sering tidak bersedia meminjamkan PSP kepada Fian. Fian pun kerap menangis karenanya.

Berbagai upaya telah saya lakukan, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Memberi pengertian Ifan akan baiknya berbagi, bahwa Ifan juga selama ini selalu membutuhkan pinjaman dari Allah dan suatu waktu pasti akan meminjam barang dari orang lain, juga memberi pengertian Fian bahwa pemilik barang memiliki hak penuh untuk meminjamkan atau tidak barang miliknya. 
Namun paling sering akhir dari konflik tersebut adalah Fian menangis sambil berteriak "Abang pelit!!!" jika saya membiarkan Ifan tidak meminjamkan PSP kepada Fian, atau Ifan marah dan cemberut jika saya berhasil meminta Ifan meminjamkan PSP tersebut :(

Pada suatu malam, Ifan dan Fian berkonflik lagi.
Suami saya yang saat itu sedang ada di rumah, sampai lepas kendali. Beliau menyita PSP dari tangan Ifan dan berkata akan menjualnya saja daripada dijadikan bibit pertengkaran antar saudara kandung.
Fian yang cenderung bersifat lebih vokal, segera berteriak, "Jangan dijual, Ayah... Itu punya abang..."
Sementara itu, Ifan berlari ke kamarnya, terlihat sambil menahan tangis. 
Saya pun mendesah nyaris putus asa. 

Saya memberikan waktu sejenak bagi Ifan untuk sendiri. Fian - yang bersikap seperti "ekor" saya jika saya ada di rumah - saya berikan pengertian agar membiarkan saya masuk ke kamar Ifan untuk melakukan pembicaraan tanpa gangguan.
"Fian mau PSP nggak jadi dijual ayah? Kasih bunda waktu untuk diskusi dengan Abang." demikian kata saya tegas kepada Fian.
Fian pun menunggu di luar kamar.

Saya kemudian masuk, dan mendapati Ifan tertunduk murung sambil menggigit bibirnya kuat-kuat, nyaris menangis.
"Bunda sudah pernah kasih peringatan ke Ifan. Belajarlah untuk saling berbagi, belajarlah untuk saling menyayangi, atau bisa-bisa nanti Ifan nggak memiliki apa-apa lagi. Lihatkan hasilnya? Ayah marah, dan Bunda nggak bisa membantu Ifan lagi kalau sudah begini."
Ifan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menatap saya dengan sorot mata berapi-api, bercampur dengan airmata yang menggenang.
"Ifan nggak terima keputusan Ayah?" tanya saya langsung dengan tangan terlipat di depan dada.
"Tapi PSP itu Ifan beli dengan uang tabungan Ifan," protesnya.
"Ayah dan Bunda tahu. Uang Ifan Rp 2,5 juta waktu membelinya. Ayah pasti akan mengembalikan uang Ifan secara penuh meskipun hasil penjualan PSP jauh dibawah harga belinya dulu. Masalahnya, harga PSP yang baru hampir Rp 3 juta. Jadi Ifan memang punya uang seperti dulu waktu mau beli PSP, tapi nggak cukup untuk membeli PSP yang baru. Jadi Ifan merugikan diri sendiri karena tidak bersedia berbagi," jelas saya panjang lebar.

Airmata Ifan mulai mengalir karena kemarahan, mungkin karena merasa diperlakukan secara tidak adil.
Karena memahami hatinya, saya mencoba menggali, mencaritahu secara detail inti permasalahan dan kekhawatirannya. 
Lalu saya berkata, "Fan, Bunda nggak ngerti soal PSP sama sekali, jadi Bunda nggak bisa membantu mencarikan solusi. Tapi, kalau Ifan mau PSP nggak jadi dijual, kita harus menemukan cara bagaimana Fian bisa bermain PSP dengan tanpa Ifan khawatir game Ifan terhapus."
"Kenapa Fian nggak beli PSP sendiri?" tuntut Ifan.
"Fian belum bisa berkomitmen merawat mainan. Ayah dan Bunda tidak mau membelikan Fian atau menggunakan tabungan Fian, karena harga PSP cukup mahal. Ifan dulu juga Ayah Bunda izinkan beli DS, Wii dan PSP setelah bisa merawatnya. Ingat kan?" tanya saya retoris.
"Tapi sekarang PSP Ifan jadi mau dijual Ayah gara-gara Fian!" protes Ifan dengan nada marah.
"Bukan hanya gara-gara Fian. Tapi juga gara-gara Ifan sendiri. Ayah dan Bunda memang ingin kalian belajar berbagi. Itu alasan lain Fian belum beli PSP. Toh Fian meminjam PSP saat Ifan nggak sedang main. Kenapa nggak boleh?"
"Soalnya nanti nama Ifan dihapus, Bun..."
"Apa nggak bisa Fian diajari sampai mahir aja, biar yakin nama Ifan di game nggak terhapus?"
"Nggak bisa pasti Bun, kalo di save game-nya kadang bisa bentrok..."
"Yah, kalau gitu bunda udah nggak bisa bantu cari solusi lagi. Coba Ifan pikirkan cara lain, lalu kasih tahu Bunda secepatnya. Siapa tahu kita bisa membatalkan niat Ayah menjual PSP Ifan."

Ifan berdiam diri, terlihat memutar otak. Saya hanya menatapnya, juga dalam diam.
Tiba-tiba seperti terlintas cahaya di mata Ifan, lalu diikuti keraguan, sepertinya agak kurang yakin untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya.

"Bagaimana Fan? Waktu kita nggak panjang..." pancing saya.
"Hmmm..... Bun, gimana kalo Fian beli Memory Card aja. Harga memory card harusnya sih nggak terlalu mahal. Nanti memory card Ifan yang ada di dalam PSP bisa dicopy seluruhnya ke memory card Fian. Jadi kalau Fian mau main, dia bisa pinjam PSP Ifan, tapi pake memory card-nya sendiri... Memory card Ifan akan Ifan keluarkan, jadi permainan Ifan nggak terganggu..." tanya Ifan dengan penuh harap sambil menatap saya.

Saya berlagak sedang berpikir sambil dalam hati kagum setengah mati. Jalan tengah yang luar biasa! Tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk membeli PSP baru, tidak memaksa Ifan berperang dengan rasa khawatir, tidak memaksa Fian untuk mengingat-ingat hal yang rumit yang belum dikuasainya, dan tetap mengajarkan mereka untuk berbagi. Kenapa saya tidak memikirkan solusi itu ya? Pastinya karena saya tidak pernah main PSP Ifan :D

"Okay, sekarang yang harus Ifan lakukan adalah menghadap Ayah. Minta maaf dulu karena tadi nggak mau berbagi dengan Fian, lalu sampaikan usul Ifan. Jangan langsung minta jawaban setuju atau nggak. Kasih ayah waktu untuk mempertimbangkan..." saran saya menutup diskusi dengan Ifan.

Saya tidak tahu bagaimana cara Ifan menyampaikan usulan solusinya kepada suami saya. Namun hasilnya, seminggu kemudian, tepatnya hari Minggu malam, 6 Januari 2013, kami membeli memory card baru merk Sony dan meng-copy seluruh isi memory card Ifan untuk Fian sambil jalan-jalan di Electronic City. 
Dan tadi malam sebelum tidur, ketika saya sedang mencuci piring dan merapikan dapur, Fian melaporkan kepada saya, "Bunda, Abang baiiiikkkk sekali... Fian boleh pinjam PSP tapi pakai memory card Fian sendiri!"

Alhamdulillah... Semoga pengalaman ini menjadi awal bagi Ifan untuk belajar memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupannya kelak :)

Jakarta, 8 Januari 2013
Yeni Suryasusanti

Rabu, 28 November 2012

Tentang Pencerahan...



Kerusuhan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa tenangnya perdamaian
Kecemasan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa berharganya rasa aman

Ketakutan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa hebatnya keberanian
Kesakitan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa mahalnya kesehatan

Kegelapan adalah cara terbaik
untuk menyadari betapa pentingnya penerangan
Kedinginan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa nyamannya kehangatan

Ketidaktahuan adalah cara terbaik
untuk menyadari betapa tingginya ilmu pengetahuan
Kealpaan adalah cara terbaik
untuk menyadari betapa utamanya sebuah catatan

Kesendirian adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa hangatnya persahabatan
Kesunyian adalah cara terbaik
untuk menyadari betapa merdunya suara keramaian

Pengabaian adalah cara terbaik
untuk menyadari betapa perlunya kepedulian
Kesepian adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa berartinya sebuah kehadiran

Keputusasaan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa kuatnya kemauan
Kepergian adalah cara terbaik
untuk menyadari betapa manisnya kerinduan

Perpisahan adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa indahnya kebersamaan
Kematian adalah cara terbaik 
untuk menyadari betapa bernilainya kehidupan

Di tengah kesibukan aku menganalisa perilaku insan
Dan akhirnya yang muncul hanya sebentuk pertanyaan
Apakah kita harus mengalami yang terburuk dalam kehidupan
baru kita mampu bersyukur atas segala anugerah Tuhan?

Jakarta, 28 November 2012
Yeni Suryasusanti

Selasa, 27 November 2012

Cerita Tentang Seorang Wanita...




Hari ini seorang sahabat bercerita
tentang wanita yang sedang pilu hatinya
karena kekasihnya memutuskan cinta
ketika sudah sampai tahap perkenalan kedua keluarga

Alih-alih marah dan merasa terhina
sang wanita malah sibuk mengasihani dirinya
ia berkata memang wajahnya tidak cantik mempesona
hingga wajar jika tidak ada yang ingin bersanding dengannya

Ingin saya katakan kepada mereka
bahwa wajah mempesona bukan pertanda penikahan pasti bahagia
ingin saya teriakkan kepada dunia
bahwa wajah cantik bercahaya tidak memastikan jalan menuju surga

Ya Allah,
Kemana kah perginya harga diri?
Mengapa kepergian kekasih karena alasan duniawi 
bisa membuat wanita terpuruk mengasihani diri?

Ya Allah,
Kemana kah perginya rasa syukur? 
Mengapa hanya karena merasa tidak cantik berpupur
bisa membuat wanita jatuh tersungkur?

Ya Allah,
Kemana kah perginya rasa percaya?
Mengapa sulit meyakini Allah ciptakan manusia
sebagai makhluk paling sempurna?

Dan akhirnya, saya berkata kepada sang pembawa cerita
bahwa segalanya berpulang kepada diri kita
tentang penghargaan diri maupun tentang cinta
karena semua harus timbal balik adanya...

Jakarta, 27 November 2012
Yeni Suryasusanti