Jumat, 28 Januari 2011

Copy Paste Tulisan : Apa Pantas Berharap Surga?

Hati saya tergetar ketika membaca tulisan ini....
Tulisan ini dikirimkan kepada member "Masjid An-Nahl", salah satu mailing list yang saya ikuti meskipun saya bukan karyawati PT. Samsung Electronics Indonesia.
Saya copy paste ke sini, agar menjadi pengingat bagi saya akan kurangnya ibadah saya... dan juga berharap dapat menjadi renungan bagi yang membaca....
Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi saya dan teman-teman untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah kita...

Meskipun dinilai belum pantas, namun tetap, Saya Tak Putus Berharap Surga Allah....


==========================================================================

Apa Pantas Berharap Surga?
Oleh: Bayu Gawtama + SBR


Sholat dhuha cuma dua rakaat, tahajjud juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". 
Dengan sholat model begini, apakah pantas kita mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Apakah kita termasuk yang mengaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum?
Kalau sudah seperti ini, apakah pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.

Apakah Orang-orang seperti kita ini... pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah.

send from : Anggita Fauzi H.

Jilbab Trendy vs Jilbab Syar'i

Belum sampai sebulan yang lalu saya menulis tentang jilbab saya. Bagaimana saya mulai merasa nyaman dengan jilbab cantik saya :D
Meskipun begitu, hingga kemarin, masih berat bagi saya untuk mengikuti model jilbab yang syar'i.
Namun sesuai dengan janji Allah dalam Hadist Qudsi yang pernah saya baca di Group Keluarga Sakinah asuhan Ustadz Taat Budi Utomo,

"Aku sesuai dengan persangkaan hamba Ku kepada Ku. Aku bersama dengan ilmu dan rahmat Ku bila dia ingat Aku. Jika dia mengingat Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri Ku. Jika dia menyebut nama Ku dalam suatu perkumpulan, maka Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada Ku sehasta, maka aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada Ku dengan berjalan biasa, maka Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat. ( Muttafaq Alaih )",

saya merasakan bagaimana satu demi satu ilmu dan kesadaran datang kepada saya untuk saya kaji setelah saya berjanji kepada Allah untuk selalu belajar agar menjadi lebih baik, baik untuk dunia maupun untuk akhirat saya.

Kali ini, kesadaran saya datang karena saya tergelitik ketika membaca tulisan terbaru adik paskibra saya, adik kelas saat masih bersekolah di SMA 78 - Poppy Yuditya - yang berjudul "Fashion Style Muslimah........[Berjilbab: It's not the End, It's the Beginning (VIII)]" http://www.facebook.com/note.php?note_id=138361854256 yang merupakan rangkaian pengalaman dan pembelajaran Poppy setelah memutuskan untuk berjilbab.

Berikut saya kutipkan sebagian tulisan Poppy Yuditya :

"Dalilnya:

“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

Seketika saya menuju cermin, mulai sibuk berkaca, berputar putar ke kanan ke kiri, memastikan apakah bentuk dan lekuk tubuh saya sudah tidak terlihat...Dan kenyataan memang tidak bisa dibohongi, lekuk dan bentuk kaki saya tercetak jelas di celana jeans yang saya gunakan....Untuk masalah jilbab, sudah tidak perlu dibahas dan diperhatikan lagi, wong sudah jelas banget kok kalo jilbab saya tidak menutup dada...

Akhirnya saya teringat sahabat saya, Najwa..pantaslah dia merasa nyaman dengan pakaian yang ia gunakan, karena pakaian yang dia gunakan memang sudah sesuai dengan fikih sunnah pakaian wanita muslimah yang saya baca.....Sementara saya?? No further comment deh....(eh comment donk, kalo enggak, nanti tulisan ini gak selesai...gimana sih?)

Memang benar, saya sudah menutup aurat..dan Insya Allah sudah gugur kewajiban saya untuk menutup aurat. Tapi saya jujur ketika itu juga saya jadi berpikir, kalau memang Allah lebih menyukai saya menggunakan pakaian seperti yang dibahas di atas, masa saya tidak mau?

Saya jadi mulai berandai-andai, kalau saja seseorang yang saya cintai menjelaskan pakaian seperti apa yang ia lebih sukai.Pasti saya akan terpikir untuk menggunakan pakaian itu setiap bertemu dengannya. Apalagi kalau setiap pakai pakaian itu, dia bilang saya cantik...Pasti saya tambah senang....Dan dia pun pasti lebih cinta lagi sama saya...Asyiiiik....Belum apa-apa sudah terbayang indahnya...:)"


Membaca tulisan diatas, saya terdiam... dan berpikir. Hingga kemarin, saya masih menganggap jilbab syar'i tidak bisa "trendy".
"Apakah jilbab syar'i demikian menyulitkan?" demikian pergulatan batin saya.
Sepanjang sore dan dalam perjalanan menuju rumah, otak saya tak berhenti berpikir. Ingin saya cepat-cepat sampai di rumah untuk membongkar koleksi jilbab saya, dan berkaca seperti yang Poppy lakukan.

Benar, saya sudah menutup aurat, saya sudah berjilbab. Tapi saya juga sadar bahwa saya belum mengulurkan jilbab saya hingga dada saya.
"Tapi kan saya tidak berpakaian ketat di dada," selama ini kata-kata itulah yang selalu saya gunakan untuk pembelaan diri.
Namun, seperti potongan film, berbagai ingatan akan betapa menyulitkan baju saya dalam kesehariannya berlompatan dari kepala saya. Bagaimana saya harus menambahkan kancing atau memasang peniti diantara kancing kemeja saya hanya untuk mencegah dada saya "mengintip" diantara kancing kemeja... Bagaimana suami saya pernah berkomentar, "Bun, dadanya kelihatan gede banget :D" padahal saya juga tidak berpakaian ketat...
Ah... mungkin jilbab syar'i adalah jawaban dari permasalahan saya.

Sesampai di rumah, saya mengeluarkan bergo panjang saya (ternyata saya hanya memiliki 2 bergo panjang diantara sekian banyak koleksi bergo saya hahahha...).
Selama ini, saya selalu mengenakan "bergo pendek" yang dimasukkan ke dalam kerah baju untuk dijadikan jilbab dasar, kemudian baru menambahkan kerudung persegi untuk modifikasi. Dalam pikiran saya sebelumnya, pasti akan terlihat aneh, jika bergo panjang dibuat modifikasi menjadi trendy.
Lebih karena penasaran, saya mencoba mengganti bergo pendek saya dengan bergo panjang, sehingga jilbab saya menjulur menutupi dada. Lalu saya ambil jilbab persegi dan mulai memodifikasi jilbab saya seperti biasa.
Subhanallah... ternyata benar kata Poppy, seringkali kita menjalani hidup dengan ketakutan yang ketika sudah dijalani tidak terbukti sama sekali.
Ternyata, setelah saya coba, bergo panjang saya sangat pantas di modifikasi. Justru bergo panjang yang di modifikasi menjadi terlihat lebih anggun dibandingkan dengan bergo pendek... Ternyata Jilbab syar'i tetap bisa trendy!
Ifan, putra sulung saya yang sejak awal memperhatikan saya berdandan hingga selesai spontan memeluk saya sambil berkata, "Bunda cantik bangetttt..." hingga menitik air mata saya.
Alhamdulillah ya Allah... Engkau memberikan jalan bagiku untuk mendekati-Mu meski dengan merangkak perlahan...

Sebelum berangkat kerja hari ini, saya memamerkan kepada suami saya model jilbab saya yang baru. "Cantik sekali Bunda..." kata suami saya memuji dengan mata berkaca-kaca :D
Saya mengutarakan niat saya untuk mulai mengenakan jilbab syar'i kepada suami, dan minta izin untuk membeli beberapa bergo panjang lagi untuk dikenakan sebagai dasar jilbab syar'i saya yang trendy.

Poppy, jika Najwa adalah inspirasi bagi kamu, maka saat ini, kamu adalah inspirasi bagi saya. Perlu waktu begitu lama (7 tahun!), namun akhirnya Insya Allah jilbab saya yang selama ini hanya "trendy" menjadi "Jilbab Syar'i namun tetap Trendy"...
Sedangkan mengenai celana panjang, saat ini saya masih mengenakannya karena saya berangkat dan pulang kerja lebih sering dengan membonceng motor. Sedangkan untuk keamanan, keseimbangan dan kesehatan, saya sebaiknya tidak duduk dengan posisi miring. Namun, Insya Allah, saya sudah mulai memikirkan jalan keluar dari permasalahan tersebut dengan membuat design rok celana untuk didiskusikan dengan tukang jahit saya agar nanti bentuk dan lekuk kaki saya tidak terlihat lagi :D
Ternyata Al Qur'an dan Sunnah Rasul - jika kita kaji kembali - bukanlah untuk memberatkan umatnya... Namun justru sebagai jawaban atas permasalahan yang ada...

Insya Allah, meski selangkah demi selangkah, sesuai janji saya kepada Allah, saya akan selalu belajar dan berusaha agar menjadi lebih baik dari hari ke hari...





Jakarta, 11 Agustus 2009
Yeni Suryasusanti

Kamis, 27 Januari 2011

Ifan dan Puasa

Beberapa hari yang lalu, saya menerima telepon dari kakak ipar saya (Zarni Sahda) yang mengajak untuk kumpul keluarga sebelum Ramadhan. Memang sudah hampir menjadi tradisi keluarga suami untuk berkumpul dan saling bermaafan sebelum memasuki bulan suci.
Ajakan ini mengingatkan saya alangkah cepatnya waktu berlalu. Rasanya belum lama Ifan pertama kali mulai berpuasa. Padahal sudah 3 tahun berlalu...

Ajari dengan contoh, bukan hanya dengan kata-kata. Prinsip itu sudah lama tertanam dalam diri saya - hasil didikan dari kedua orang tua saya (Drs. H. Suryanta Saleh, MM. dan Dra. Hj. Yurdha, MM.) - jauh sebelum saya mengerti betapa dahsyatnya hasil yang akan diperoleh dari pengajaran dengan cara itu.

Setelah putri saya tercinta (Nada Salsabila Hafizah) berpulang ke rahmatullah pada tahun 2006, saya menjalankan puasa sunnah setiap hari Senin dan Kamis. Saat itu Ifan baru berusia 5 tahun lebih, dan dengan berpuasa sunnah saat itu saya sama sekali bukan berniat mengajari Ifan, melainkan untuk ketenangan hati saya sendiri.
Setiap malam sebelum tidur, asisten meletakkan 1 bungkus bubur instant di atas mangkuk di meja makan untuk keperluan sahur saya. Jadi saya tinggal menyeduhnya dengan air panas dari dispenser.
Setiap Senin dan Kamis sore, tanpa saya minta, asisten selalu menyiapkan es buah dan makanan kecil untuk saya berbuka puasa (alhamdulillah... saya sangat beruntung memiliki asisten yang pengertian :D). Jadi, jika sedang berpuasa, saya selalu berusaha pekerjaan saya selesai tepat waktu agar bisa berbuka puasa di rumah.
Ifan selalu menemani saya berbuka, dan minta disiapkan juga hidangan berbuka :D

Beberapa waktu kemudian, Ifan yang lebih sering menyiapkan bubur instant buat saya sebelum tidur dan bilang, "Bunda, Ifan udah siapkan untuk sahur Bunda besok pagi ya..."
Dan sore harinya, Ifan juga ikut sibuk menyiapkan hidangan untuk saya berbuka :D

Suatu hari, Ifan berkata pada saya, "Bunda, Ifan mau puasa seperti Bunda, puasa Senin dan Kamis."
Saya tertegun. Saat itu usia Ifan baru 5 tahun lebih, belum genap 6 tahun. Saya pribadi selalu mencoba menerapkan "Mendahulukan yang Wajib, baru mengerjakan yang Sunnah", jadi bagaimana mungkin hati saya mengizinkan Ifan menjalani puasa sunnah sedangkan puasa wajib saja dia belum mulai menjalankan.
Saat itu Ramadhan masih beberapa bulan lagi.
Akhirnya saya berkata, "Ifan, kalau mau mulai berpuasa, nanti ya, waktu bulan Ramadhan, saatnya kita puasa setiap hari selama 1 bulan penuh."
"Oke Bun!" kata Ifan antusias.

Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, saya menjajaki niat puasa Ifan.
"Ifan, mau puasa belajar atau puasa dewasa?"
"Puasa belajar itu gimana, Bun?"
"Puasa belajar biasanya anak kecil yang mulai belajar puasa. Sahur di waktu sahur, tapi kalau tidak tahan lapar atau haus, boleh berbuka setelah seperempat atau setengah hari puasa."
"Kalau puasa dewasa?"
"Puasa dewasa seperti yang Bunda dan Ayah jalankan. Sahur di waktu sahur, berbuka di waktu magrib."
"Ifan mau puasa dewasa aja. Ifan kan udah besar, Bun."
Sempat terbersit di hati saya keraguan. Sanggupkan Ifan? Tapi saya tepiskan keraguan itu. Saya percaya tidak ada orang yang akan sakit karena berpuasa, selama persiapan yang dilakukan cukup. Well, yang penting Ifan sudah berniat untuk puasa 1 hari penuh. Toh, jika Ifan tidak sanggup, dia bisa berbuka.
"Oke, Ifan boleh puasa dewasa. Tapi nanti kalau lemes, lapar atau haus, Ifan tidur aja ya... Kalau sedang puasa, tidur itu ibadah kog Fan."

Sahur pertama. Saya menyiapkan makanan untuk Ifan, lengkap dengan vitamin, sekotak 250 ml susu UHT dan madu.
"Ya Allah, kuatkan hati anak saya untuk menjalankan puasa..." demikian doa saya saat itu.
Alhamdulillah, Allah memberi kekuatan pada Ifan. Ifan tidak terlihat lemas, dan bahkan tidak tergoda untuk berbuka walaupun melihat temannya di sekolah (saat itu, Ifan bersekolah di TK Mutiara Indonesia, kelas TK B) tidak berpuasa.
Ifan berhasil menjalankan puasa 1 hari penuh sesuai niatnya.
Di tengah Ramadhan, Ifan sempat batuk berat. Ifan memang ada alergi, bronchial hyperreactivity yg jika tidak segera istirahat bisa menjadi bronchial asma. Selama hampir 2 minggu itu saya melarang Ifan berpuasa, tentunya dengan menjelaskan bahwa untuk anak seusia Ifan pengecualian ini masih diperbolehkan.
Ifan sempat kecewa tidak penuh 1 bulan berpuasa Ramadhan. Tapi saya dan suami memberi semangat Ifan untuk berpuasa dan lebih menjaga kesehatan saat Ramadhan tahun depan.

Tahun 2007, Ramadhan kembali tiba. Ifan saat itu berusia 6 tahun lebih, hampir 7 tahun, dan sudah kelas 1 di SD Bhakti. Peraturan di SD Bhakti, selama bulan Ramadhan seluruh siswa (walaupun yang non Islam) dilarang membawa makanan dan minuman ke sekolah untuk menghormati yang berpuasa.
Sebagai seorang Ibu, sempat muncul kembali sedikit rasa khawatir karena sekolah tetap berjalan penuh sampai jam 12, tidak seperti waktu di TK yang beban sekolahnya belum berat.
Tapi kembali saya menguatkan hati, dan menyiapkan makanan sahur untuk Ifan lengkap dengan vitamin, susu dan madu. Pesan bahwa Ifan jangan terlalu banyak bermain lari-lari saya sampaikan setiap hari Ifan akan berangkat sekolah. Tahun itu pula, saya dan suami mulai meminta Ifan untuk rutin shalat 5 waktu. Sebelumnya, Ifan sudah mengenal shalat, tapi belum rutin dilaksanakan. Saya sampaikan bahwa puasa tanpa shalat hanya akan mendapat lapar dan haus saja, tidak pahalanya.
Ifan sempat bercerita bahwa ada teman sekelasnya yang lari ke pengasuhnya di ruang tunggu pengantar untuk minum karena belum tahan berpuasa sehari penuh. Saya bertanya bagaimana reaksi Ifan saat itu.
Ifan bilang, "Lho, kog buka... kan sayang puasanya... tinggal setengah hari lagi kog... nanti tidur aja pulang sekolah kalau lemes..." Hahahha... nada bicara Ifan persis seperti nada bicara saya :D

Alhamdulillah sejak itu Ifan menjalankan shalat 5 waktu, meskipun seperti anak-anak pada umumnya, terkadang banyak alasan dan menunda-nunda, dan terkadang pada hari libur shalat subuh di waktu dhuha :D

Alhamdulillah, sesuai janjinya pada diri sendiri, mulai Ramadhan tahun 2007 Ifan berpuasa penuh selama 1 bulan hingga sekarang :)

Jakarta, 24 Juli 2009
Yeni Suryasusanti

Jilbab Saya : Awal Perkenalan, Prosesnya dan Saat Ini

"Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertakwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai..."

Sepenggal syair lagu Raihan diatas saya kutipkan untuk mengawali sharing saya kali ini, tentang "Jilbab", atau apa pun sebutan yang benar untuk penutup kepala, leher dan dada bagi wanita muslimah.

Seperti umumnya wanita dari keluarga muslim, sebenarnya sudah sejak kecil saya mengetahui tentang kewajiban menutup aurat berdasarkan Al Qur'an dan Hadist. Tetapi mungkin karena sanksi jika tidak mengenakan jilbab tidak langsung saya rasakan, (tidak seperti jika terlambat datang ke sekolah maka tidak boleh masuk kelas dan di suruh pulang dengan membawa surat untuk orang tua dari guru BP hahahha) maka pengetahuan itu hanya tinggal pengetahuan saja.

Awal perkenalan saya dengan jilbab, adalah ketika saya "terpaksa" mengenakan jilbab karena mengikuti bimbingan belajar di Nurul Fikri untuk persiapan menghadapi UMPTN. Peraturan di Nurul Fikri saat itu, semua siswa perempuan diwajibkan mengenakan "Jilbab" bukan "Busana Muslimah". Jadi karena bimbingan belajar itu berlangsung setelah pulang sekolah, saya tetap mengenakan seragam sekolah saya (baju putih tangan pendek dan rok abu-abu sepanjang lutut) tapi menutup kepala saya dengan jilbab.
Guru bimbingan karir kami saat itu, Kak Hilmy Wahdi, kerap menegur saya karena mengenakan jilbab sambil berjalan menuju kelas, apalagi jilbab saya tidak menutup kepala dengan sempurna.
"Yeni, kog jilbabnya seperti Benazir Bhuto," itu sindiran yang selalu diutarakan oleh Kak Hilmy saat melakukan absen kehadiran :D

Selepas dari Nurul Fikri, panggilan untuk berjilbab sama sekali tidak pernah datang pada saya. Juga saat menikah, bahkan saat setelah melahirkan Ifan dimana saya merasa begitu dekat dengan maut, panggilan itu juga belum datang.
Jika ditanya oleh tante saya yang paling bawel soal agama (hihihihi sorry tetaaaa), Noverita Nukman, kapan saya akan menutup aurat, saya hanya menjawab sambil tersenyum, "Doakan ya teta, agar Yeni mendapat hidayah."
Sempat terpikirkan oleh saya bahwa mungkin saya akan mengenakan jilbab kelak, jika saya sudah tua, dan setelah kembali dari berhaji (oh... alangkah naifnya saya ya... hahahah).

Saat menjalankan ibadah puasa ramadhan pada tahun 2001, saya mengalami kejadian yang menurut saya aneh. Setiap melakukan shalat, air mata saya selalu mengalir tanpa henti, hingga shalat selesai. Padahal, untuk orang yang keras kepala seperti saya (I admit this from the bottom of my heart hahaha), menangis ketika shalat adalah hal yang asing bagi saya.
Selama 1 bulan penuh, hidup saya tidak tenang. Saya menceritakan hal ini kepada suami saya, tapi kami pun tidak berhasil menemukan alasan mengapa hal itu terjadi.
Pada hari raya Idul Fitri, panggilan pertama itu datang. Tiba-tiba di hari khusus itu saya ingin mengenakan jilbab, bukan hanya mengenakan kerudung seperti tahun-tahun sebelumnya. Ajaibnya, saat melakukan shalat pada hari itu, air mata saya tidak lagi mengalir. Tetapi, ketika melakukan perjalanan untuk kunjungan silaturrahim ke keluarga, mendengar lirik lagu Raihan di mobil, tenggorokan saya tercekat, dan mata saya terasa berair.
Malam harinya, saya berdiskusi dengan suami, tentang kegalauan hati saya, apakah ini merupakan hidayah untuk berjilbab?

Logika, pengetahuan dan emosi saling berperang.
"Saya belum siap," kata emosi saya. "Apanya yang belum siap, mari kita siapkan," sahut logika saya.
"Jakarta panas gitu lho," kata emosi saya. "Lebih panas juga Arab, tempat perintah jilbab diturunkan," bantah logika saya.
"Masih banyak sikap dan kebiasaan saya yang kurang baik yang tidak cocok dengan jilbab," kata emosi saya lagi. "Ya berubah dong..." kata logika saya.
"Koleksi baju muslimah belum cukup," emosi saya mengeluarkan senjata pamungkasnya. "Ya beli dong mulai dari sekarang..." tegur logika saya.
Akhirnya malam itu suami saya mencoba mencari jalan tengah atas kebimbangan saya, "Gini aja bun, kalau bunda belum siap berjilbab setiap hari, pakai aja kalau kita mau ke rumah saudara-saudara dulu, sambil berlatih membiasakan diri, dan sembari memperbanyak koleksi baju muslimahnya..."

Tapi, hidayah itu - jika kegalauan di bulan Ramadhan itu bisa disebut sebagai hidayah - hilang kembali. Setelah Ramadhan dan Syawal berlalu, saya tidak lagi menangis dalam shalat sehingga saya tidak lagi merasa terganggu. Niat mencicil beli baju muslimah pun hanya tinggal cerita, karena setiap kali mau membeli baju, yang terlihat bagus di mata saya kembali baju-baju yang ketat saja :D

Hingga akhirnya, kegalauan itu kembali datang pada hari ulang tahun saya yang ke 27, pada tanggal 31 Desember 2001, saat saya berkumpul merayakan bersama keluarga suami, saat Ayah mertua saya tercinta (Almarhum H. Abdul Karim Hasan) memimpin doa bersama, untuk kebahagiaan dan kesehatan saya.
Saat itu, jujur, yang terbayang di depan mata saya adalah kematian.
Saya teringat almarhumah kakak ipar saya (Ir. Safria Mirda), kakak suami yang tertua. Kak Saf, begitu panggilan kami, adalah wanita yang sangat baik. Tegas namun mengayomi adik-adiknya. Beliau meninggal mendadak di usia 33 th, meninggal 1 bulan setelah pernikahan saya, di dalam tidur pula, saat sedang menidurkan putra keduanya. Beberapa jam sebelumnya beliau masih sempat menggorengkan pempek untuk suaminya. Minggu depannya beliau baru mau masuk kerja kembali sehabis cuti melahirkan, dan sudah menyiapkan busana muslimah utk mulai dikenakan saat hari pertama kerja. Tahun itu beliau berencana naik Haji. Tapi, takdir berbicara lain. Kak Saf berpulang ke rahmatullah, sebelum melengkapi niatnya berbusana muslimah.
Kembali kepada saya, pikiran tentang kematian berkecamuk di kepala saya. Bagaimana jika saya meninggal malam ini? Sebelum sempat menutup aurat saya... sedangkan sebenarnya secara garis besar saya sudah mengetahui azab yang menanti saya kelak di akhirat akibat tidak menutup aurat.

Keesokan harinya, kebetulan ada keluarga yang melangsungkan acara pernikahan. Hari itu matahari bersinar cukup terik. Untuk menguji diri, saya meminta izin kepada suami untuk mengenakan busana muslimah. Saya berpikir bahwa saya pasti tidak akan tahan gerahnya... tapi ternyata saya salah total.
Betul, saya berkeringat. Tapi saya tidak "kepanasan". Bisa dikatakan saya tidak merasa terganggu sama sekali dengan kondisi udara saat itu.

Malamnya, kembali saya berdialog dengan diri sendiri.
"Saya tidak punya cukup koleksi baju muslimah," dibantah dengan "kamu punya banyak celana panjang dan blazer untuk bekerja."
"Saya tidak punya jilbab," dibantah dengan "alhamdulillah kamu masih tinggal dengan ibumu, dan beliau berjilbab, dan koleksi jilbab beliau lumayan banyak."
"Saya takut tidak menarik lagi, takut tidak merasa nyaman dan percaya diri seperti sekarang ini," dibantah dengan "buatlah model jilbab yang menarik bagi suamimu, dan kamu merasa cantik memakainya."
Akhirnya emosi saya menyerah... selepas shalat isya. Saya menyampaikan niat saya berjilbab mulai esok hari kepada suami dan Ibu saya. Mata suami saya berkaca-kaca karena bahagia. Ibu saya menangis, dan menyampaikan bahwa Ibu mendokan agar saya diberi hidayah oleh Allah saat beliau umroh di bulan Ramadhan yang lalu, dan menurut saya ternyata doa beliau lah yang menjadi penyebab banyaknya kejadian aneh selama Ramadhan yang lalu.

Tanggal 2 Januari 2002, saya mulai berjilbab. Berbagai reaksi muncul saat itu.
Umumnya, memberi selamat dan meminta saya mendoakan mereka segera menyusul. Kakak tertua saya, Yati Suryakusuma, bereaksi santai dengan tertawa, "Wah, jadi tinggal gue sendiri nih yang belum pake jilbab ya..."
Tapi juga ada yang bereaksi negatif, meragukan niat saya. Komentar "Yeni yakin? Jangan sampai nanti jilbab bongkar pasang..." disampaikan baik secara langsung maupun lewat Ibu saya.
Menanggapi reaksi negatif tersebut, saya hanya tersenyum dan menjawab, "Tolong, jangan ragukan niat saya. Tolong kuatkan saya dengan doa, agar saya tidak melepas lagi jilbab saya..."

Jika kita berniat kuat, Insya Allah diberi kemudahan oleh Allah. Itu saya alami dengan jilbab saya. Allah memberikan jalan bagi saya untuk tetap merasa cantik dengan jilbab saya. Buku tentang model jilbab mulai banyak beredar. Sebutlah "Jilbab Cantik" oleh Ratih Sanggarwati. Wanita-wanita berjilbab di sekeliling saya pun jadi inspirasi bagi saya, bahwa cantik dengan jilbab itu sangat mungkin. Adik sepupu saya sendiri, Amirah Nugrahani, dan teman saya di milis NCC, Luluk Lely Soraya, merupakan wanita yang menurut saya selalu terlihat cantik dengan jilbabnya.

Bagi saya pribadi, jilbab saya bukanlah pertanda saya sudah sempurna dalam akhlak dan ibadah saya. Masih cukup banyak sifat, pandangan hidup dan perilaku saya yang mungkin belum sejalan dengan jilbab saya. But at least, saya berusaha untuk membuat perubahan diri saya berjalan ke arah yang lebih baik, meskipun selangkah demi selangkah.

Saat ini, seperti seorang mahasiswa yang nyaman dan bangga dengan identitas jaket almamaternya, pada akhirnya, alhamdulillah, saya merasa nyaman dan bangga dengan jilbab saya, identitas saya sebagai seorang muslimah. 





Jakarta, 17 Juli 2009
Yeni Suryasusanti

Rabu, 26 Januari 2011

Buku Kas dan Tabungan Ifan


Belajar sejak kecil dari Ibu saya (Dra. Hj. Yurdha, MM.), setelah menikah saya membuat Buku Kas untuk pengeluaran rumah tangga.
Ibu selalu mengajarkan pentingnya membuat buku kas tersebut, karena selain untuk mengontrol agar pengeluaran tidak lebih besar daripada pemasukan dan untuk mempertanggungjawabkan nafkah suami, buku kas juga dapat menghilangkan kecurigaan antar suami istri tentang "penyelewengan dana" rumah tangga.

Dulu, ada 3 Buku Kas di rumah saya. 
Buku Kas saya sebagai Buku Kas Utama (untuk mencatat pengeluaran global rumah tangga), Buku Belanja (untuk mencatat belanja dapur) dan Buku Pengeluaran Ifan (untuk pencatatan pengeluaran kecil keperluan Ifan seperti ongkos si mbak jika ifan tidak dijemput ojek langganannya, pembelian buku tulis di koperasi, dll). Buku Belanja dan Buku Pengeluaran Ifan ditulis oleh asisten rumah tangga dibawah pengawasan saya.
Jadi, para asisten yang bekerja di rumah saya belajar juga akuntansi sederhana. Repot kah? Sama sekali tidak, hanya dengan kesabaran mengajari tambah kurang dengan kalkulator sederhana, dan penjelasan mengapa pencatatan ini diperlukan.
Dengan adanya ketiga buku kas tersebut, disamping mengajari mereka ilmu dasar akuntansi, saya bisa sekaligus mengajari para asisten untuk jujur. Karena setiap belanja ke pasar, detail belanja di tulis di Buku Belanja. Harga pembelian cabe, bawang, dll... dan juga harga kue jika mereka ingin beli. Sisa uang terakhir di dompet belanja harus sesuai dengan catatan saldo harian di Buku Belanja.
Sedangkan di Buku Kas saya, tertulis diantaranya nafkah dari suami dan saya, gaji para asisten, SPP sekolah Ifan, dan jumlah total uang belanja harian yang saya keluarkan.
Jadi, dengan adanya Buku Kas di rumah saya, kami sekeluarga terhindar dari prasangka buruk antara suami, saya dan para asisten rumah tangga kami.

Lalu, apa kaitannya Buku Kas dengan Tabungan Ifan?

Begini ceritanya...

Tentang Ifan dan Buku Kas Rumah Tangga 

Pada suatu akhir bulan, saat saya sedang melakukan tutup buku seluruh Buku Kas, Ifan duduk di samping saya dan ikut melihat saat saya melakukan penghitungan akhir total pemasukan dan pengeluaran rumah tangga. 
Ifan saat itu baru kelas 1 SD, dan membaca catatan pengeluaran : SPP Ifan bulan September 2007 Rp 400.000,-
Ifan langsung berkomentar, "Wah, uang SPP Ifan mahal ya bun!"
Saya tersenyum, dan menjelaskan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
Saya memang mengajarkan kepada Ifan mengenai nilai uang sejak kecil. Juga penjelasan sederhana tentang mengapa ayah dan bunda harus bekerja. 
Sejak itu, seringkali pada akhir bulan, Ifan menemani saya saat melakukan "tutup buku" pada seluruh Buku Kas Rumah Tangga.

Tentang Tabungan Ifan 

Seperti umumnya orang tua, saya sudah menyiapkan tabungan Ifan sejak Ifan sendiri belum mengerti apa manfaat memiliki tabungan. Saat itu, Tabungan Ifan hanya berupa "Dompet" dengan selembar kertas catatan di dalamnya, yang mencatat dari siapa saja tabungan itu berasal.
Waktu berlibur di Bandung, Ifan mulai berkenalan dengan Nintendo DS Lite, milik sepupunya, mulai jatuh cinta dengan Mario Bros dan teman-temannya.
"Bunda, Ifan pengen punya DS..." begitu pintanya pada saya.
"Ifan, harga DS itu hampir 2 juta. Kalau Ifan mau beli, Ifan harus menabung dulu. Dan DS hanya boleh dimainkan saat weekend dan libur sekolah." Saya memang ingin Ifan belajar mengerem keinginannya untuk masalah mainan, sambil menjelaskan manfaat memiliki tabungan.

Karena saat itu Ifan tidak jajan di sekolah, kemudian saya dan suami sepakat memberi "uang untuk di tabung" oleh Ifan. Dari suami, Ifan mendapat Rp 3.000,- per hari, sedang dari saya Ifan mendapat Rp 10.000,- per minggu.
Mulailah perjuangan Ifan menabung untuk mendapatkan keinginannya. Ifan pun mulai melancarkan "pengumuman" kepada anggota keluarga besar yang telah dewasa bahwa dia saat itu sedang menabung untuk membeli DS. Tentu saja hal ini mengundang banyak simpati, dan akhirnya, tidak sampai 6 bulan, tabungan Ifan cukup untuk membeli DS impiannya :D.

Setelah DS dibeli, saya dan suami tetap memberi Ifan uang tabungan. 
Ifan bertanya, "Untuk apa lagi Bun? Kan Ifan sudah beli DS?"
"Untuk membeli apa saja yang Ifan inginkan, selama disetujui Ayah dan Bunda."
Saya kemudian menjelaskan pentingnya menabung, tapi juga menjelaskan perlunya sesekali menggunakan tabungan dengan bijaksana.

Selanjutnya, uang tabungan Ifan digunakan untuk membeli rangkaian boneka mario bros, main di time zone jika pergi tanpa ayah... dan Ifan juga berkeras mengeluarkan tabungannya sesekali memberi pengemis dan pengamen yang mampir di depan rumah kami, dan memberi bantuan bagi teman sekelasnya yang sakit saat wali kelas Ifan mengkoordinir tanda simpati. 
Semua pemasukan dan pengeluaran tabungan Ifan dicatat di lembar catatan yang disimpan di dalam dompet tabungannya.

Saat Ifan ulang tahun ke 8 th pada 28 Oktober 2008 yang lalu, semua pengajaran saya dan suami tentang tabungan membuahkan hasil puncaknya....
Ifan minta ulang tahunnya dirayakan di sekolah.

"Bunda, Ifan mau merayakan ulang tahun, tapi pakai uang tabungan Ifan aja biayanya," kata Ifan mantap.
"Lho? Memangnya kenapa, Fan?" saya sempat terkesima.
"Kan gaji ayah dan bunda untuk bayar uang sekolah Ifan, belanja bulanan supermarket, belanja tiap hari juga, untuk bayar gaji mbak dan beliin Ifan dan Fian macam2..."

Duh anakku sayang... 
Walaupun ada rasa tidak tega, karena sesungguhnya kami mampu mengeluarkan dana untuk itu, tapi saya menguatkan hati. Toh, suami dan saya selama ini memang mendidik Ifan agar merasakan "kebanggaan" menggunakan uang sendiri.
Tapi yang membuat saya sungguh terharu, karena ternyata Ifan mengingat detail penting yang saya tulis di Buku Kas Rumah Tangga, bahwa Ayah dan Bunda bersama-sama bekerja untuk membiayai hidup bersama. Saya pun memeluk Ifan.
"Oke Ifan, mari kita rancang pengeluaran untuk ulang tahun Ifan..." 
Akhirnya, kami bergotong-royong menanggung biaya perayaan ulang tahun IFan.
Ifan mengeluarkan Rp 700.000,- dari tabungannya untuk biaya lunch box nasi kuning bagi teman-teman sekelasnya. Kue Tart mendapat hadiah dari Bude Fatmah (Fatmah Bahalwan - founder Natural Cooking Club, teman dekat keluarga kami), sedangkan Goody Bags untuk teman-temannya saya dan suami yang membiayai.
Dengan bangga, Ifan menulis biaya lunch box tersebut di lembar catatan di dalam dompet tabungannya.

Buku Kas Ifan 

Lembar kertas di dompet tabungan Ifan mulai penuh dengan catatan pengeluaran dan pemasukan tabungannya. 
Beberapa bulan yang lalu, waktu ke gramedia, Ifan minta dibelikan Buku Kas. Mungkin terdengar aneh, anak kelas 2 SD, minta dibelikan Buku Kas. 
Katanya, "Untuk mencatat tabungan Ifan, Bun, supaya lebih rapi seperti Buku Kas Bunda..."

Akhirnya, saat ini di rumah saya ada 4 Buku Kas : Buku Kas Utama Rumah Tangga yang di kelola oleh saya, Buku Belanja dan Buku Pengeluaran Ifan yang dikelola asisten, dan Buku Kas Tabungan Ifan, yang dikelola oleh Ifan sendiri dengan penuh kebanggaan :D

Jakarta, 13 Juli 2009
Yeni Suryasusanti