Kamis, 16 Juni 2011

Doa untuk Fian :)


Ahmad Balda Arifiansyah,
Hari ini tepat 3 tahun usiamu
Doa Bunda menyertaimu

Semoga sesuai namamu : Ahmad,
kau terpuji dalam sifat dan tingkah laku

Semoga sesuai namamu : Balda,
kemakmuran menyertai hidupmu
kau tempuh cara halal untuk memperolehnya
kau gunakan untuk menambah keimanan dan pembelaanmu pada Agama
serta membebaskan kemiskinan dari sesama

Semoga sesuai namamu : Arifiansyah,
kau menjadi pemimpin yang bijaksana lagi gagah perkasa
pemisah kebenaran dan kebathilan di dunia
baik itu di lingkungan keluarga
maupun di lingkungan masyarakat sekitar kita

Namun terutama doa Bunda,
kau menjadi seorang manusia yang lembut hati dan penuh cinta
kepada keluarga, sanak saudara, tetangga dan semua yang bernyawa
dan diatas segalanya kepada Allah dan Rasul-Nya...

Jakarta, 16 Juni 2011
Yeni Suryasusanti

Selasa, 14 Juni 2011

[Sharing Puisi] Cerita Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya


Hari ini di group Millenial Learning Center, saya mendapatkan posting puisi ini, yang sungguh mengetuk nurani.
Membacanya saya seketika teringat jasa Ibu yang tidak mungkin bisa terbalas. Terutama karena saya sama seperti tokoh dalam puisi ini - Lia - yang lahir sungsang dari rahim ibunda. Bedanya, Ibunda Lia dibantu kelahirannya dengan bedah caecar, sedangkan Ibu saya berjuang melahirkan saya dengan persalinan secara normal. Bayangkan beratnya perjuangan beliau untuk melahirkan saya ke dunia...

Pernah saya membaca ucapan Umar bin Khattab RA, "Ajarkan sastra kepada anak-anak kalian. Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani."
Well, saya memang pernah merasa menjadi orang yang penakut, mungkin juga pengecut pada suatu masa di masa lalu. Meskipun saat ini saya masih belum merasa menjadi orang yang "pemberani", namun memang sastra dan seni, entah itu prosa, lirik lagu ataupun puisi, seringkali menggugah kesadaran dalam diri.

Puisi ini membuat saya merasa tersindir, betapa mudah saya ikut-ikutan suatu tradisi tanpa berusaha menganalisa apakah hal itu ada manfaatnya atau tidak, dan apakah dengan ikut melaksanakan tradisi itu berarti saya telah menyerupai kaum tertentu.
Padahal jelas Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya". (HR. Abu Daud No. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Alhamdulillah, puisi ini saya baca disaat yang tepat, menjelang ulang tahun putra bungsu saya yang ke 3 th, Ahmad Balda Arifiansyah.
Kebetulan saat ini di keluarga besar kami memang masih membudaya acara tiup lilin untuk merayakannya, dilakukan setelah doa bersama... Meskipun lilin ditiup hanya untuk acara suka-suka, bahkan diulang-ulang sesuai siapapun yang meminta...

Sungguh mengubah sebuah tradisi memang tidaklah mudah, tetapi sebenarnya juga tidak terlalu susah, jika niat dalam hati sudah kuat ingin melakukan hijrah.
Kita hanya perlu menggantikan tradisi lama dengan yang baru, dan sekedar penjelasan mengapa perubahan ini perlu...
Untuk acara ulang tahun Fian - dan Ifan - tahun ini dan seterusnya, semoga nasi kuning yang dibuat dengan penuh cinta dan dibungkus doa - tanpa tiup lilin - cukup sebagai perayaannya :)

Anyway, puisi yang sangat panjang ini saya posting disini sebagai pengingat diri, dan siapa tahu jika teman-teman membaca puisi ini juga bisa terketuk nurani...

Bapak Taufik Ismail, terima kasih untuk puisi yang penuh hikmah ini :)

Jakarta, 14 Juni 2011
Yeni Suryasusanti

------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya

1

Seminggu lalu
datanglah undangan
untuk kami anak-anak penghuni panti asuhan
diantarkan seorang ibu
dan anak gadisnya.

Sekolahnya kira-kira di SMA
mereka naik Corolla biru
dari pakaian, cara bicara dan perilaku
kelihatan tamu ini orang gedongan
golongan yang hidup lebih dari kecukupan.

Mereka mengundang
anak-anak panti asuhan
untuk ikut acara ulang tahun
Rebo jam tujuh malam.

Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan
berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama
jalan kaki bersama, karena jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja.

Rombongan disilakan masuk dengan ramah
dan anak-anak berusaha duduk di belakang-belakang saja
tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya
para remaja belasan tahun
mereka sehat-sehat, harum-harum
berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya
saya berjuang melawan sifat minder saya
duduk di tengah ruang tamu yang luas.

Di atas karpet bersila, pegal dan canggung
di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan
di bawah lampu kristal bergelantungan.

Tapi alangkah aku jadi heran
tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
tidak ada tepuk tangan mengiringi
lagu Hepi-Bisde-Tuyu
Hepi-Bisde-Tuyu.

2

Lalu seorang remaja membaca
Surah Luqman dengan suara amat merdunya
dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya.

Kemudian
Lia yang berulang tahun
berpidato sangat mengharukan
dalam acara seperti ini
bukan saya yang jadi pusat perhatian
diperingati atau dihargai

tapi mama
ya, mama kita
ibunda kita
dan
ayahanda.
Ibunda dan ayahanda
pusat perhatian kita.

Hari ini, enam belas tahun yang lalu
mama melahirkan saya
posisi saya sungsang
saya terlalu besar
jadi mama harus sectio caesaria 

mama dibedah,
berdarah-darah
seluruh keluarga khawatir dan berdoa
di luar ruang operasi
duduk menanti berita
dalam kecemasan luar biasa
tapi alhamdulillah
kelahiran selamat
walaupun mama sangat menderita

Sekarang ini, enam belas tahun kemudian
ulang tahun saya dirayakan
saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian
harus mama yang jadi pusat perhatian
mama. Bukan saya
saya pikir, tidak logis saya minta kado
harus mama yang diberi kado

Anak gadis itu berhenti sebentar
dia sangat terharu
kemudian dia mengambil sebuah bungkusan
kertas berkilat, diikat pita berbentuk bunga.

Mama
terima kasih mama, terima kasih
mama telah melahirkan
saya dengan susah payah
mama menyabung nyawa
berdarah-darah.

Persis
malam ini, 16 tahun yang lalu
terimalah rasa terima kasih ananda
tidak seberapa harganya.

Mamanya berdiri
terpukau pada kata-kata anak
gadisnya
terharu pada jalan pikirannya
yang dia tak sangka-sangka
dia langsung memeluk anaknya
terguguk-guguk menangis
keduanya tersedu-sedu
hadirin menitikkan air mata pula
suasana mencekam terasa
dan hening agak lama

3

Kemudian kakak pembawa acara berkata
para hadirin yang mulia
ini memang kejutan bagi kita
karena dengan tahun yang lalu
acara ini berbeda
Lia tidak mau tiup lilin jadi acara
karena ditemukannya di ensiklopedia

Manusia di Zaman Batu di Eropah
percaya pada kekuatan
nyala lilin, begitu tahayulnya
bisa mengusir sihir, roh jahat, leak dan
memedi begitu katanya
termasuk si jundai, setan, hantu, kuntilanak dan
gendruwo.

Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno
lalu dikarang lagi
berikutnya superstisi
yaitu apabila lilin-lilin itu sekali tiup nyalanya
semua mati.

Maka akan terkabul
apa yang jadi cita-cita di dalam hati.

Lia tidak mau acara ulang tahunnya 
oleh tahayul jadi bernoda
acara yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman
purbakala.

Katanya: “Kok tiupan nyala 16 lilin 
bisa menentukan nasib saya?
Allah yang menentukan nasib saya.

Sesudah kerja keras saya
saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul
walaupun itu datangnya dari
barat atau pun timur juga.

Saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka
minta kado dari papa dan mama
minta kado dari keluarga dan
kawan-kawan saya.

Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua
burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika
dalam acara ulang tahun kita
begitu katanya.

Sesudah bertangis-tangisan
dengan ibunya
berkatalah yang berulang tahun itu

Hadiah paling saya
harapkan dari kalian
adalah doa bersama
sesudah hamdalah dan
salawat
karena saya ingin jadi anak yang baik laku
jadi perhiasan di leher ibuku
jadi penyenang hati ayahku
rukun dengan kakak-kakak dan
adik-adikku
bertegur-sapa dengan semua tetangga
dan kelak ketika dewasa
berguna bagi Indonesia.

4

Anak yatim piatu yang mendapat undangan itu
lihatlah bersama kawan-kawannya
disilakan makan bersama-sama
dengarlah kisah kesannya.

Kini, dalam acara makan kunikmati nasi
beras Rajalele yang putih gurih
dendeng tipis balado, ikan emas panggang
dan udang goreng, besar dan gemuk-gemuk
belum pernah aku memegang udang sebesar itu.

Di asrama ikan asin dan tempe
seperti nyanyian yang nyaris abadi
kadang-kadang makan pun cuma sekali sehari.

Ketika kulayangkan
pandangku ke depan
kulihat tuan rumah yang baik hati itu
bapak dan ibu itu
berdiri bersama Lia anak gadisnya
berbicara amat mesranya.

Kubayangkan ayahku almarhum
mungkin seusia dengan bapak ini
beliau meninggal ketika umurku setahun.

Kubayangkan ibuku almarhumah
wafat ketika aku kelas enam SD
mungkin seusia pula dengan ibu itu.

Tidak pernah aku merayakan ulang tahunku
Tidak pernah.

Semoga sorga firdaus jua
Bagi ibu bapakku

Panas
mengembang di atas pipiku
tak tertahan
titik air mataku.

Taufik Ismail,
1980, 2007

Sabtu, 11 Juni 2011

Tentang Shalat dan Ifan :)


Seseorang meminta pendapat kepada saya tentang AFS, karena katanya putrinya sudah lulus 2 dari 4 test seleksi Program Pertukaran Pelajar tersebut.
Saya bercerita bahwa dulu ketika saya masih bersekolah di SMA 78 Jakarta, setiap tahun rata-rata 4 orang siswa berangkat ke luar negeri mengikuti Program Pertukaran Pelajar AFS : ke Amerika, Belgia dan Australia, selama 1 tahun.
Setahu saya memang program tersebut sangat diminati meskipun sebagai konsekuensinya siswa yang terpilih akan lulus 1 tahun lebih lama dari teman-teman seangkatannya semula :)

"Apa visi dan misinya? Apakah karena program tersebut anak bisa berubah menjadi liberal?" adalah kekhawatiran yang diungkapkannya kepada saya.

Meskipun agak aneh menurut saya, mengapa dia baru memikirkan hal itu sekarang dan bukannya di awal saat putrinya pertama kali meminta izin untuk mengikuti test AFS, saya tetap menyarankan dia browsing ke Web AFS di http://www.afs.org/ untuk mencari informasi tentang visi dan misinya, dan jika perlu bisa menambahkan 2 orang teman saya di Facebook sebagai temannya seandainya ingin bertanya-tanya, karena mereka dulu pernah mengikuti program AFS ketika SMA.
Kemudian saya menyampaikan bahwa menurut saya jika kita berbicara soal kekhawatiran berubahnya ideologi atau pandangan hidup seorang anak, maka yang menjadi pengaman adalah pola didik dan asuh sejak anak kita kecil. Jika seluruh nilai-nilai yang kita tanamkan termasuk nilai-nilai agama dan budaya sudah kuat mengakar dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari anak kita, maka dengan komunikasi intensif meskipun hanya melalui internet dan telepon, serta doa tidak putus dari orangtua, insya allah anak kita akan tetap terpelihara.

Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, dan ibadah yang nanti pertama kali ditanyakan ketika kita di hisab adalah shalat.
Jadi menurut saya pantaslah jika shalat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur utama dalam menilai berhasil atau tidaknya penanaman dasar agama, meskipun hal itu bukan satu-satunya indikator.
Sedangkan pergaulan yang baik dan sehat serta tata krama yang terjaga merupakan salah satu tolak ukur utama dalam menilai berhasil atau tidaknya penanaman dasar budaya :)
Terbukti dengan kedua orang teman saya, yang memang sejak kami SMA sudah terlihat rajin shalatnya, baik pergaulan dan tatakramanya, alhamdulillah tetap terpelihara iman, budaya dan ideologinya.
Teringat kata teman-teman saya, tantangan utamanya adalah tetap shalat di lingkungan yang sebagian besar tidak melaksanakan shalat. Tidak pernah mendengar adzan dari mesjid pula sebagai pertanda.

"Hm, shalat ya patokannya?" ujarnya.
"Ya, menurut saya itu adalah salah satu tolak ukur utama. Apakah putrimu sudah rutin mengerjakan shalat tanpa diawasi?" tanya saya.
"Belum penuh, masih suka bolong-bolong. Dia bahkan pernah bertanya kenapa orang Islam ada yang shalat ada yang nggak."
"Rasanya itu kaitannya dengan kadar Iman seseorang," saya berkata sambil tersenyum.
"Nilai pelajaran agama di rapornya 10 lho..." belanya.
"Kalau dia memang kuat di hafalan sih bisa aja lah..." ujar saya.
"Bukan hanya hafalan... Mengaji dan Tafsir juga kog..."
"Tapi kalau shalatnya masih belum penuh sedang dia sudah SMA yang tentunya sudah akil baligh, mungkin itu berarti dia belum sepenuhnya meyakini dalam hati sehingga belum mengamalkan sepenuhnya dalam perbuatan," kata saya berkata sambil berkaca pada diri sendiri ketika dulu pernah berbuat serupa.
"Saya ingin dia mengerjakan shalat karena dia merasa butuh shalat..." demikian katanya menutup percakapan kami...

Lama setelah itu, kata-kata terakhir tersebut tidak juga mau pergi dari pikiran saya.
Jujur, saya pribadi baru merasakan "butuh" shalat - bukan hanya sekedar "mengerjakan shalat" - setelah saya mengalami pasang surut dan pahit getir kehidupan.
"Mungkinkah kesadaran bahwa kita yang membutuhkan shalat terpatri dalam diri anak yang masih SMA?" batin saya.
Sungguh, pasti merupakan dambaan semua orangtua yang beragama Islam memiliki anak yang shaleh atau shalehah, yang menjalankan ibadah karena cinta kepada Allah, bukan hanya terpaksa karena disuruh orangtua.
Tapi apakah karena kita ingin anak-anak kita beribadah dengan kesadaran sendiri, kita jadi membiarkan mereka memilih untuk "tidak shalat ketika mereka sedang tidak ingin?"

Pemikiran ini membuat saya teringat akan Ifan, yang tanggal 28 Oktober 2011 ini akan berusia 11 tahun.
Di antara banyak kekurangan Ifan sebagai seorang anak, Ifan juga memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah kesadaran akan konsekuensi yang cukup tinggi atas aturan yang telah ditetapkan bersama.
Sikap konsekuen ini sudah mulai ditunjukkan sejak Ifan masih di TK B.

Saya ingin sedikit bercerita tentang pertama kali sikap konsekuen ini ditunjukkan, karena moment itu saya anggap cukup "bersejarah" bagi saya :)
Ketika masih duduk di bangku TK, Ifan adalah anak yang pelupa, tidak rapi dalam menyimpan barang-barang miliknya, termasuk perlengkapan sekolah. Kehilangan pensil, penghapus, penggaris dan berbagai perlengkapan lainnya menjadi hal yang biasa.
Untuk mencoba mengatasi hal ini, saya sempat mencoba metode standard reward dan punishment.
"Tidak boleh main game di komputer selama 1-3 hari", tergantung besarnya nilai kehilangan (yang tidak selalu ditentukan secara materi), adalah salah satu hukuman yang kami sepakati bersama :)

Malam itu kami sedang belajar menulis huruf sambung di kamar saya, dan Ifan sempat ragu dalam penulisan huruf "f". Saya meminta Ifan mengambil contoh huruf dari gurunya yang sudah dilaminating dan wajib tiap hari dibawa ke sekolah.
Ifan kembali dari kamarnya dengan wajah sedikit khawatir, dan sebelum Ifan berbicara saya sudah bisa menebak bahwa dia tidak berhasil menemukan panduan penulisan huruf tersebut.

"Bunda, panduannya nggak ada..."
"Oh, ya udah, kita belajar tanpa panduan aja," sahut saya santai.
Saya kembali mengajar. Tapi Ifan terus menatap saya seolah menunggu keputusan.
"Di hukum, Bunda?" akhirnya Ifan bertanya.
"Iya," sahut saya ringan.
"Nggak boleh main komputer?"
"Iya."
"Berapa hari, Bun?"
"Dua hari aja."
"Oke," kata Ifan dengan wajah pasrah dan kemudian melanjutkan pelajaran.

Merasa sedikit iba bercampur geli, saya memutuskan untuk meminta bantuan pengasuh Ifan melihat apakah panduan tersebut memang hilang atau hanya terselip di antara lembaran buku. Dan memang, ketemu :)
Secara diam-diam pengasuh memberikan panduan penulisan tersebut kepada saya.
Menjelang akhir pengajaran, ketika Ifan sedang menunduk menulis huruf di bukunya, saya perlahan-lahan meletakkan panduan tersebut di atas meja.
Ketika Ifan selesai menulis dan menengadahkan kepalanya, matanya tertumbuk pada Panduan Penulisan Huruf Sambung yang terletak manis di depannya :D

"Waaaa.... ini dia panduannya... Ifan kira hilaaaanngggg... Nggak jadi dihukum dooonnnggg...." teriak Ifan spontan dengan gembira, dengan mata berkaca-kaca :D
Saya spontan tertawa, kemudian memeluk Ifan, hingga Ifan kini ikut tertawa meskipun matanya tetap berkaca-kaca.
"Bunda bahagia Ifan menunjukkan sikap konsekuen tadi, meskipun Bunda tidak menyinggung soal hukuman, tapi Ifan yang menanyakan," saya berkata sambil mencium keningnya.

Kembali kepada "Shalat", sebagai seorang yang bisa dikatakan cukup awam dalam ilmu agama sehingga masih terus belajar baik untuk diri sendiri maupun untuk mengajari kedua putra kami, terus terang saya masih belum menemukan metode yang dengan panjang lebar menjelaskan bagaimana cara membuat anak-anak kita mencintai agama dengan seutuhnya, sehingga tercapai kesadaran shalat tanpa diminta.
Namun, karena nilai-nilai yang ditanamkan oleh mentor Paskibra 78 ketika saya SMA, cara yang saya anggap lebih mudah untuk saya adalah dengan menerapkan Disiplin Shalat sehingga menjadikan anak-anak "terbiasa" mengerjakan shalat.
Saya berharap seperti Cinta dalam Falsafah Jawa Tengah yang sering saya dengar : Witing Tresno Jalaran Soko Kulino yang artinya Cinta Tumbuh Karena Terbiasa, anak-anak kami akan terbiasa mengerjakan shalat, secara otomatis tergerak melaksanakan shalat ketika waktunya tiba, dan merasa ada sesuatu yang "hilang" jika tidak mengerjakan shalat. Jika "Telah Terbiasa" untuk shalat sudah mendasar dalam diri mereka, maka kemudian saya akan berdoa agar rasa "Telah Terbiasa" tersebut perlahan-lahan berubah menjadi "Cinta".

Untuk menanamkan Disiplin, hampir semua bidang saya rasa menggunakan metode "Pemaksaan" meskipun mungkin diterapkan secara halus dan kekeluargaan :)
Ifan mulai diajarkan gerakan shalat sejak usia 4 tahun, dan bacaan shalat secara bertahap sejak usia 5 tahun.
Akibat penerapan disiplin untuk Shalat, Ifan saat ini secara otomatis melaksanakan shalat Subuh ketika terbangun di pagi hari sekolah (herannya jika di pagi hari Sabtu, Minggu dan hari libur sekolah tetap harus disuruh dulu hehehe). Ifan juga langsung berdiri dan berangkat ke mesjid jika mendengar adzan Magrib, Isya dan shalat Jum'at. Untuk shalat Dzuhur, pada hari sekolah Ifan melaksanakannya di sekolah. Jika sedang di rumah, maka shalat Dzuhur dan Ashar, sampai saat ini Ifan masih harus selalu diingatkan :)
Lingkungan tempat Ifan berada juga sangat mempengaruhi "kebiasaan shalat" Ifan.
Kebiasaan shalat tanpa diingatkan di atas berlaku ketika Ifan berada di rumah saja. Juga jika sedang pergi ke pesta pernikahan yang diselenggarakan di sebuah mesjid bersama saya, maka Ifan bisa tiba-tiba menghilang di tengah pesta, dan kemudian bergabung kembali bersama saya dengan wajah segar sambil menunjuk dan berkata, "Bunda, kalo mau shalat disana, Ifan udah."
Namun, jika Ifan sedang berlibur di rumah sepupu atau kakek neneknya, maka Ifan masih harus selalu diingatkan untuk semua waktu shalat. Karena itu jika Ifan hendak berlibur, saya pasti menelepon kakak, mertua atau orangtua saya, meminta mereka jangan lupa mengingatkan Ifan untuk shalat jika saya tidak sempat menelepon untuk mengingatkan Ifan :)

Tahun lalu, menjelang Ifan berusia 10 tahun, saya menyampaikan kepada Ifan mengenai hadits Rasulullah tentang pendisiplinan shalat.
Saya berkata, "Ifan, nanti kalau Ifan sudah berumur 10 tahun dan tidak shalat, Bunda harus pukul Ifan lho... Jadi jangan sampai nggak shalat ya nak..."
"Sakit dong Bun, kalo di pukul... Emang Bunda tega gitu?"
"Bunda kan selama ini nggak pernah pukul Ifan... Pasti Bunda sedih kalau sampai harus pukul Ifan karena Ifan nggak shalat. Tapi ya gimana lagi, aturannya memang begitu, dan mukulnya nggak boleh ditempat yang membahayakan dan menyakitkan kog..."

Kemudian saya menyampaikan hadits di bawah ini kepada Ifan :

"Ajarilah anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah dia jika telah mencapai sepuluh tahun dia mengabaikannya." (HR. Abu Daud No. 494 dan Tarmidzi No. 407, Sanad hadits ini sahih.)

Minggu lalu, saya tertidur saat sore hari menidurkan Fian sebelum sempat mengingatkan Ifan untuk shalat Ashar. Begitu pulasnya saya tertidur sehingga baru terbangun saat adzan Magrib berkumandang.
Karena sedang hujan, Ifan yang sedang di depan komputer tidak pergi ke mesjid seperti biasa. Tiba-tiba saya teringat untuk bertanya apakah Ifan shalat Ashar sore tadi.
"Ifan, tadi shalat Ashar nggak?"
Ifan terkejut dan menarik nafas kaget, "Wah, Ifan lupa, Bun..."
Saya menunjukkan wajah cemberut dan tatapan mata penuh teguran. Namun sebelum saya sempat berkata apa-apa, Ifan menghampiri saya sambil meminta maaf dan menyodorkan pantatnya kepada saya.
Saya sempat tertegun sesaat, kemudian ingat hadits yang pernah saya sampaikan.
"Oh iya, Ifan udah lebih 10 tahun ya, jadi harus dipukul. Maaf ya Fan, bunda terpaksa pukul Ifan... Lain kali jangan lupa lagi ya..."
Dan saya pun memukul pantatnya tidak terlalu keras sambil tersenyum.

Demikian juga pada hari Kamis, 9 Juni 2011 yang lalu.
Ketika saya baru sampai di rumah setelah pulang kerja, Ifan menyambut saya di ruang tamu seraya menyodorkan pantatnya sambil berkata, "Maaf Bunda, hari ini shalat Ifan nggak penuh lagi."
"Shalat Ashar lagi? Kenapa kali ini?"
"Iya shalat Ashar. Ifan tidur dari jam 3 sampai Magrib..."
"Oke, lain kali kalo udah jam 3 jangan tidur dulu, tahan dulu ngantuknya sebentar. Shalat Ashar dulu baru tidur, atau kalau memang udah nggak tahan ngantuknya, nyalakan weker Ifan jam 5 sore biar nggak kebablasan..."

Saya sadar perjalanan saya dan suami dalam mendidik anak-anak kami agar beribadah dengan benar masih sangatlah panjang. Shalat yang Ifan lakukan saat ini pun masih dalam tahap pembiasaan pelaksanaan.
Sikap dan gerakan shalat Ifan masih belum sepenuhnya tepat, bacaan shalat masih sering dibaca dalam hati tanpa gerakan bibir seperti seharusnya, pandangan matanya pun masih sering belum mengarah ke tempat sujud :)
Secara rutin sesekali saya mengawasi Ifan shalat dan memberikan koreksi baik ketika shalat maupun setelahnya. Namun demikian, saya juga sadar koreksi yang saya lakukan tidak akan seketika berhasil selalu Ifan terapkan.
Jadi, saya harus bersabar :D

Namun tetap, meskipun saya juga berharap Ifan dan Fian kelak melaksanakan shalat karena "Cinta", entah karena didorong oleh rasa "Butuh" maupun "Syukur", tetap rasanya saya tidak akan bisa membiarkan Ifan memilih untuk "Shalat jika sedang ingin saja" dan "Tidak shalat jika sedang tidak ingin".
Seperti Ibu saya yang bahkan hingga kini suka bertanya, "Sudah shalat, Yen?" jika Ibu melihat saya tidak bergerak dari depan komputer ketika waktu shalat tiba :D

Saya rasa Ibu saya tetap begitu karena menyadari bahwa menjadi orangtua itu tidak akan berhenti hanya karena anak-anak kita sudah menjadi dewasa dan berumahtangga :)

Jakarta, 11 Juni 2011
Yeni Suryasusanti